Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Man Nahnu

Mengosengkan Bandara Banyuwangi

08 Mei 2018, 14: 11: 45 WIB | editor : Syaifuddin Mahmud

Mengosengkan Bandara Banyuwangi

Share this          

BANDARA Banyuwangi cukup akseleratif. Pesat sekali. Bermula dari kenekatan. Ditangani secara konvensional. Dengan cara seadanya. Juga sebisanya. Kini, Bandara Banyuwangi tampak lebih modern. Ditangani secara profesional. Oleh Angkasa Pura 2. Yang konon operator bandar terbaik di Indonesia.

Sebentar lagi Bandara Banyuwangi lebih mentereng. Setelah apron barunya selesai. Menjelang Oktober nanti. Menyambut pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali. Bakal banyak pesawat peserta pertemuan dunia itu yang parkir. Di apron baru Bandara Banyuwangi.

Itu peluang besar. Tentu saja. Harus ditangkap oleh Bumi Blambangan. Dimanfaatkan dengan optimal. Bukan hanya untuk pariwisata. Tapi juga untuk mengenalkan jati diri Banyuwangi. Apa itu Banyuwangi?
        Bandara adalah pintu gerbang. Sangat efektif untuk mengenalkan siapa dan apa itu Banyuwangi. Kota berjuluk The Sunrise of Java. Bandara Banyuwangi sebetulnya sudah sangat mbanyuwangi. Kental identitas kebanyuwangiannya.

        Menurut siapa? Menurut kita. Orang Banyuwangi. Tapi tidak bagi orang dari luar Kota Gandrung. Terutama mereka yang kali pertama mendarat di bandara yang didesain arsitek Andramatin itu. Mereka tidak tahu makna atap Bandara Banyuwangi. Selain hanyalah empat segitiga nangkring di atapnya. Padahal, di sanalah letak identitas Banyuwangi. Itulah bentuk atap rumah Oseng (Kemiren). Atau bentuk udeng khas Banyuwangi. Atau ada yang mengarang sendiri penjelasannya. Jadi, apa sudah ada yang secara sukarela menjelaskan kepada para penumpang yang mendarat di Banyuwangi. Tak tahulah. Entahlah.
        Ada cara lebih efektif kenalkan jati diri Banyuwangi. Seperti yang dilakukan oleh beberapa negara. Sedikit daerah di Indonesia. Salah satunya: Jogjakarta. Saat hendak mendarat di Bandara Adi Sutjipto dari Jakarta Ahad kemarin, seperti biasa pramugari mengumumkan: sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara tujuan.

        Yang tidak biasa, pramugari Sriwijaya itu mengumumkannya dengan tiga bahasa sekaligus. Setelah pakai Indonesia lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris. Lalu ditambah satu bahasa lagi: bahasa Jawa. ”Dulur-dulur, matur kesuwun sampun mabur kelawan Sriwijaya Air,” kurang lebih begitu kata si pramugari.
        Tak berhenti di situ. Setelah benar-benar mendarat, saya mendengar lamat-lamat suara announcer: sugeng rawuh poro derek... Persis seperti tulisan di salah satu sisi tembok ruang kedatangan: Sugeng Rawuh. Alias selamat datang! Menjelang mendarat sampai masuk ke Bandara Adi Sutjipto terasa sekali Jogjanya.
        Jogja bisa. Kenapa Banyuwangi tidak. Tidak ada salahnya Banyuwangi nyontek Jogja. Nyontoh yang bagus kan tidak dilarang. Kecuali kalau ada perasaan gengsi.
        Tidak sulit kok melakukan seperti yang dilakukan Jogja. Pemkab Banyuwangi tinggal minta saja. Kepada pengelola Wings Air, Garuda, Citilink, dan NAM Air. ”Tolong saat hendak mendarat, pramugari mengumumkannya pakai bahasa Oseng, selain bahasa Indonesia dan Inggris, ya”. Begitu saja. Beres.
        Tapi pramugarinya tidak ada yang bisa ngomong Oseng. Gampang. Dituliskan redaksinya. Tinggal baca: ”Dolor-dolor, sithik engkas ison ambi riko arep modon reng Lapangane Kapal Banyuwangai. Seng ono bidone jam kang dienggo reng Suroboyo ambi reng Banyuwangai”.

Kemudian pramugari melanjutkannya: ”Ison sampekaken kesuwon wes gelem nunggang kapal miber (NAM Air, Garuda, Citilink, Wings Air)”.
Selanjutnya giliran announcer Angkasa Pura di Bandara Banyuwangi yang menyapa:
”Dolor-dolor, riko kabeh saiki reng Lapangane Kapal Banyuwangai. Kesuwon riko kabeh gelem teko nyang Banyuwangai. Mugo-mugo riko kabeh seneng”.
        Gampang kan mengenalkan identitas Banyuwangi. Ya. Gampang diucapkan. Tapi sulit diterapkan. Apalagi kalau para stakeholder-nya mbulet kayak entut berut. Terlalu prosedural. Terlalu banyak alasan (yang dibuat-buat). Mudah-mudahan tidak seperti itu. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/aif/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia