Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Pemuda dan Masa Depan Pertanian Banyuwangi

Oleh: Irwan Kurniawan MHum

05 Mei 2018, 07: 10: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Pemuda dan Masa Depan Pertanian Banyuwangi

TELAH kita sepakati bersama bahwa Bumi Blambangan merupakan wilayah agraris, subur gemah ripah loh jinawi. Kulon gunung wetan segara, dikelilingi gunung yang membawa kesuburan pertanian perkebunan dan peternakan serta terbentang 175,8 km garis pantai berlimpah hasil lautnya. Kekayaan yang sungguh berlimpah. Luas sawah 65.000 hektare (ha) dan luas lahan perkebunan 80.000 ha (RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2016-2025).

Sektor perikanan, pertanian, peternakan, perkebunan ini merupakan jenis sektor terutama untuk memenuhi kebutuhan paling primitif manusia : makan. Makan bagi 1.800.000 jiwa penduduk Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya.

Begitu luasnya wilayah untuk memenuhi kebutuhan mendasar manusia dan begitu banyaknya manusia yang harus diperhatikan kebutuhannya yang paling mendasar. Apakah jumlah dan kualitas tenaga kerja sektor pertanian juga sepadan ?

Data BPS Kabupaten Banyuwangi menyatakan, jumlah tenaga kerja sektor pertanian/peternakan/perikanan sebesar 308.000 atau 18,47 %, kalah jumlah dibandingkan dengan angkatan belum/tidak bekerja yang sebanyak 443.000 jiwa atau 26 % dari jumlah penduduk.

Peluang kerja di sektor pertanian yang terbuka luas ternyata tidak diimbangi dengan minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. Seperti kita ketahui, secara nasional minat generasi muda dalam menekuni pekerjaan di bidang pertanian semakin menurun, pun demikian terjadi di seluruh wilayah di Kabupaten Banyuwangi.

Luasnya lahan pertanian, pertambahan jumlah penduduk yang berarti bertambahnya kebutuhan akan bahan pangan. Semakin berkembangnya teknologi informasi bidang pertanian, ternyata tidak diikuti peningkatan minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian.

Berikut beberapa sebab menurunnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian.

Pertama, proses pertanian yang lama tidak menjamin hasil panen yang sepadan. Sifat generasi muda yang serba terburu bertolak belakang dengan bidang pertanian yang butuh ketekunan dan kesabaran.

Kedua, sektor industri dengan gaji setiap bulan lebih memberikan kepastian. Meskipun membutuhkan jam kerja lebih panjang, generasi muda cenderung lebih memilih bekerja di sektor industri yang penuh keteraturan.

Ketiga, sektor pertanian identik dengan risiko. Beberapa risiko tersebut antara lain adalah perubahan cuaca, ancaman serangan hama, kelangkaan pupuk secara tiba-tiba, dan terutama tidak adanya kepastian harga komoditas pertanian pada saat panen. Hal ini semakin menambah keengganan untuk terjun di sektor pertanian dan memilih menjadi buruh.

Keempat, faktor gengsi. Faktor sosial ini tidak kalah penting sebagai penyebab semakin menurunnya minat generasi muda. Pandangan teman sebaya yang umumnya tidak berminat terjun di bidang pertanian berpengaruh pada generasi muda dalam pengambilan keputusan untuk tidak bekerja di sektor pertanian.

Kelima, dunia pertanian sering kali membutuhkan dana/modal yang tidak sedikit. Sewa lahan, pengadaan bibit, ongkos tenaga kerja, pupuk dan obat-obatan hama harus selalu siap tersedia ketika seseorang memutuskan untuk terjun di sektor pertanian.

Keenam, ilmu yang tidak mencukupi. Selain SMK pertanian dan mahasiswa jurusan pertanian, amat jarang anak sekolah yang dengan sengaja belajar mengenai dunia pertanian. Hal ini semakin mempersulit ketika generasi muda ingin mencoba berusaha di bidang pertanian. Mungkin hanya mereka yang memiliki orang tua petani, yang memiliki kesempatan untuk bersinggungan dengan sektor pertanian.

Kondisi tersebut menjadi keprihatinan banyak pihak yang peduli akan masa depan sektor pertanian di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa menyampaikan, berdasar statistik, generasi muda yang terjun ke pertanian terus menurun dalam 5 tahun terakhir. Bahkan tinggal 8%, sedangkan mayoritas petani adalah penduduk usia senja 50 tahun atau lebih. Kondisi tersebut menandakan bahwa sektor pertanian tidak menarik bagi generasi muda.

Hal senada disampaikan oleh guru besar Universitas Gadjah Mada Jogjakarta Irwan Abdullah. Dalam sebuah survei bersama lembaga Survey Meter di Sumatera dan Sulawesi ditemukan bahwa partisipasi kelompok muda di bidang perkebunan kakao hanya 4% untuk kelompok usia 18-24 tahun dan 21% untuk usia 25-31 tahun.

Berdasar pengamatan pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas, yang menyatakan ada beberapa kendala yang dihadapi generasi muda untuk terjun di sektor pertanian. Kendala tersebut antara lain adalah akses terhadap lahan yang terbatas, akses terhadap finansial yang sedikit, minimnya akses terhadap teknologi yang menambah nilai ekonomi pertanian.

Keengganan generasi muda terjun ke sektor pertanian hampir merata di berbagai sub sektor agribisnis secara nasional. Hal itu termasuk menurunnya minat sarjana pertanian yang bersedia bekerja di bidang pertanian. Jamak kita temui, proses kuliah yang susah payah tidak berarti sarjana pertanian bersemangat menerapkan ilmu pertanian. Meskipun anak seorang petani, ketika ada pilihan sebagai pegawai swasta, pegawai kantoran apalagi peluang sebagai abdi masyarakat/pegawai negeri sipil, sarjana pertanian dengan dorongan keluarga akan lebih memilih menjadi pegawai alih-alih menjadi petani penerus pekerjaan orang tua.

Tenaga kerja bidang pertanian yang didominasi warga lanjut usia tertentu bukan hal yang menggembirakan ketika negara bertekad untuk mandiri dalam sektor pangan. Cita-cita kedaulatan pangan telah direncanakan dengan baik dan melibatkan banyak ahli. Roadmap pun telah disusun dengan teliti dan wajib dipahami para pegawai dinas pertanian.

Tapi bagaimana jika SDM bidang pertanian tidak terjadi regenerasi seperti yang diharapkan? Konversi lahan pertanian adalah sebuah keniscayaan. Kebutuhan akan lahan hunian, bisnis dan perkantoran pasti mengurangi luas lahan pertanian. Lahan pertanian yang semakin menyempit semestinya bisa disiasati dengan kemajuan teknologi dan informasi bidang pertanian dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang pertanian. Alih-alih meningkatkan kualitas, untuk mendidik generasi muda agar bersedia terjun di bidang pertanian saja semakin susah.

Banyuwangi sebagai kabupaten agraris yang unggul dalam komoditas pertanian pun menghadapi permasalahan yang sama. Mayoritas kegiatan budaya di Banyuwangi berbasis kehidupan masyarakat agraris, berbagai festival nan meriah penuh semangat agraris yaitu gotong royong, pameran pertanian menghasilkan produk unggulan bidang pertanian, ekowisata berbasis pertanian dan perkebunan semakin mendapatkan perhatian.

 Tetapi ketika kita gagal mendidik generasi muda untuk bersuka cita bergelut dalam dunia agraris, negara gemah ripah loh jinawi ini tinggal menunggu waktu menuju senja kala sektor pertanian. Swadaya beras tinggal menjadi cerita kejayaan masa lalu. Transfer pengetahuan bidang pertanian apalagi kehendak memegang teguh prinsip kearifan lokal semakin jauh dari cita-cita akibat tersendatnya tongkat estafet pertanian.

Mandat utama sektor pertanian sebagai penyedia pangan  bagi seluruh anggota masyarakat  pada masa mendatang  terasa  semakin  berat karena laju permintaan terhadap hasil-hasil  pertanian  terus meningkat sejalan  dengan  laju  pertambahan  penduduk  dan perbaikan  pendapatan serta tuntutan pasar global.  

Oleh  karena itu pemerintah, akademisi, organisasi petani, perwakilan pemuda perlu  duduk bersama menyusun strategi/roadmap yang  sesuai sehingga  tenaga kerja usia muda bidang pertanian  bisa tetap berperan  dalam  menyediakan  berbagai  kebutuhan dasar bagi penduduk secara berkelanjutan.(*)

*) Dosen Fakultas Hukum Untag Banyuwangi, Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia