Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Imajinasi Ruang: Muncar, Moncer

Oleh: Supriyadi KS*

05 Mei 2018, 06: 25: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Imajinasi Ruang: Muncar, Moncer

TIADA luka seduka Muncar. Tempat para nelayan menghabiskan hidupnya dengan harapan; tempat perempuan-perempuan perkasa yang masih berharap dapat ”menjual ikan” sebelum sungguh-sungguh ikan punah di perairan.

Hari ini, Muncar tak lebih sebuah orkestra duka. Banyak orang kehilangan harta benda. Bermula dari laut, kita bergerak dari dermaga menjelajahi imajinasi ruang Muncar yang begitu bopeng, luka, dan berduka. Melihat dengan kacamataku dengan kacamatamu. Masih tersimpan dalam ingatan, sebuah imajinasi kala kecil, ketika pelabuhan ikan Muncar menjelma ruang yang begitu ramai akan berbagai aktivitas manusia. Berperahu menuju laut, beratus-ratus orang berjajar di dermaga, berjubel di jalan membawa ikan: Muncar sebagai pendaratan ikan hasil tangkapan yang melimpah ruah.

Dari jalan itu Muncar punya wajah tersendiri. Pemandangan yang terlihat memang membuat berdecak kagum. Sore di Muncar yang ditemani deru suara kendaraan bermotor menuju ke arah laut menjadi denyut nadi dermaga yang tak mungkin menyerah pada keadaan. Begitu pula tiang-tiang kapal dengan lampu-lampu putihnya yang akan menantang malam di perairan. Deretan-deretan kapal bergambar warna-warni terpampang menawarkan harapan. Persis nyanyi syair lagu-lagu Banyuwangian gubahan seniman Blambangan zaman old yang berkata tentang ”Semangat Perjuangan”. 

Oh gila, pagi hari, di pinggir-pinggir jalan pelabuhan orang-orang nelayan tumpah ruah melawan kantuk. Berton-ton ikan diturunkan dari perahu, diangkut ke pelabuhan. Laki-laki akrobatik membawa berkeranjang-keranjang di becak kecilnya yang badannya hampir ditutupi oleh keranjang itu. Laju becaknya yang pelan membuat ia masih sanggup membawa keranjang ikan ke pabrik. Semacam akrobatik yang jarang ditampilkan oleh pesulap kita di televisi. Orang-orang memarkirkan motornya di trotoar, berhenti sejenak mengendus bau ikan, lalu menawar. Aroma ”amis ikan” menyengat hidung di trotoar di jalan-jalan, menempel di baju, celana, rambut, tangan, hingga terbawa jauh ke luar ke kota-kota yang lain, menambah hidup Muncar tak’kan mati.

Hanya karena ikan, Muncar merupakan daerah yang kaya. Betapa industri perikanan bertumbuh pesat karena pasokan bahan baku yang melimpah ruah. Dan taraf ekonomi masyarakatnya yang mengagumkan dengan dominasi pemandangan rumah-rumah mewah. Namun  kini, Muncar telah luka. Luka Muncar seakan menjadi duka, sunyi senyap, tertidur dengan sisa-sisa aktivitas di dermaga, saat malam yang tak henti dikumandangkan ritus doa. Di sini terasa sekali bagaimana yang lemah mengatasi problem ketiadaan ikan di perairan dan melawan kemiskinan. Mereka bergerak seperti air, mengisi setiap celah dan ruang-ruang kosong yang mungkin, bahkan yang kita pikir tidak mungkin.

Muncar kini berisi manusia yang selalu berikrar pada ”doa”, pada harap akan ikan yang melimpah, di mana orang-orang gunung mungkin tidak mempunyai macam tradisi ritus mendengar kicau camar yang cerewet. Tak ada yang disisakan yang menjadikan Muncar sebagai tempat merenung dan kontemplasi. Hingga muncullah bermacam-macam problem kehidupan nelayan di sini.

Telah beberapa tahun ’paceklik’ melanda Muncar. Hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Nyaris tidak membawa hasil tangkapan ikan telah menjadi hal pahit yang harus dihadapi hampir tiap hari oleh nelayan.

Perahu dan kapal yang tak terurus di bibir pantai terparkir secara padat untuk jangka waktu lama. Saat paceklik ini, nelayan dan semua yang terkait dengan aktivitas penangkapan ikan di laut menganggur total.

Paceklik yang cukup mencekik bagi masyarakat nelayan: pemasukan tidak ada, pengeluaran biaya perawatan kapal/alat tangkap ikan dan kebutuhan hidup sehari-hari harus terpenuhi.  Dampak yang sangat nyata bagi buruh nelayan adalah satu demi satu perhiasan anak-istri, perabot rumah tangga, bahkan alat dapur pun bisa pindah tangan dengan terpaksa. Juga, tidak sedikit rumah yang terlihat mentereng, isinya telah ganti kepemilikan.

Over fishing yang berlangsung sangat lama dan pencemaran lingkungan yang berada di atas batas akut, serta alat tangkap tak ramah lingkungan adalah pintu awal paceklik ikan di Muncar. Tindakan recovery dengan mewajibkan pembuatan instalasi pengolah limbah -bagi semua jenis industri/usaha yang menghasilkan limbah potensial sebagai pencemar lingkungan - tidak cukup cepat dapat mengeliminasi masa paceklik ikan. Upaya pemulihan ekonomi yang membutuhkan upaya sinergis dari semua stakeholder memerlukan jangka waktu yang tidak singkat.

Muncar telah menjadi ruang yang terluka karena menjadi tempat ribuan makian lepas. Mungkin, Muncar cukup bersahaja hidup dengan apa yang ada: alam yang mengandung limpahan rezeki Tuhan, semoga mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Semoga masih ada ruang harapan kehidupan yang bisa rayakan, yang dihidupi oleh doa nelayan dalam sebuah limpahan ikan laut dari sebuah pelayaran. (*)

*) Ketua DPD Partai NasDem, Dewan Kehormatan Perpenas.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia