Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Bahaya Maut Miras Oplosan

Oleh: Agus Dani Triswanto*

21 April 2018, 09: 22: 29 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Bahaya Maut Miras Oplosan

DI TENGAH hiruk pikuk agenda pesta demokrasi dengan pilkada serentak 2018, publik dikejutkan oleh berita jatuhnya banyak korban jiwa akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan. Angka korban tewas akibat miras oplosan terus bertambah.

Korban dari kejadian ini tersebar di sejumlah wilayah. Di Jawa Barat, 112 orang meregang nyawa akibat menenggak miras oplosan. Hampir bersamaan dengan itu, terjadi di Banyuwangi enam orang tewas meregang nyawa akibat miras oplosan.

Harus dipahami, miras oplosan bukanlah sembarang miras. Ia berbeda dengan miras beralkohol legal yang produksinya diawasi oleh Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM). Walaupun alkohol sudah berbahaya bagi kesehatan, miras legal masih memiliki taraf keamanan untuk dikonsumsi. Peredarannya pun diawasi dengan disertai pajak tinggi.

Sebaliknya, miras oplosan adalah minuman beralkohol yang tidak tercatat produksinya pada BPOM, miras jenis ini dibuat sendiri oleh konsumen atau melalui bengkel gelap bootlegging, dan dipasarkan secara gelap. Miras oplosan di Bandung misalnya, tersangka menyampur minuman dengan berbagai bahan seperti zat pemanis, alkohol, dan suplemen energi.

Yang bikin sedih, para korban kebanyakan dari golongan bawah seperti tukang ojek, pengangguran, buruh bangunan, pelajar sekolah, dan sopir angkutan yang tidak mampu membeli miras legal. Mereka membeli miras oplosan tidak saja karena faktor harganya yang murah. Hal itu juga lantaran ada beban hidup dan ekonomi.

Ketika menghadapi persoalan ekonomi dan pekerjaan yang berat, seseorang dengan kontrol diri yang lemah akan melihat miras oplosan sebagai pelarian dari kenyataan hidup. Rasa frustrasi adalah penyumbang utama munculnya perilaku menyimpang. Ketika seseorang frustrasi, maka kontrol diri akan melemah dan lari ke hedonisme.

Miras seolah menjadi jawaban sesaat untuk melupakan beban hidup. Di sisi lain, tuntutan biaya hidup terus membengkak. Dengan rentang korban yang berusia muda, sebetulnya bangsa kita sedang menghadapi ancaman perusakan generasi. Saat ini juga mendesak diperlukan pendidikan karakter atas konsumsi hiburan yang bertanggung jawab atau "hiburan beretika". Bersenang-senang adalah hak individu. Tetapi ia juga harus dijalankan dengan kesadaran untuk tidak mencederai diri sendiri dan orang lain.

Pendidikan kesehatan semata menjadi tidak efektif. Sebab, para penenggak miras oplosan tahu betul minuman mereka berbahaya bagi kesehatan. Pendidikan dalam konteks ini, tidak semata dilekatkan pada variabel tahu dan tidak tahu, melainkan pada pendidikan martabat.

Kontrol sosial di sini terbentuk melalui pendidikan ke generasi muda. Bentuknya dapat berupa sosialisasi dan internalisasi kepada setiap masyarakat, bahwa menenggak miras adalah penyimpangan yang membuat seseorang menjadi tidak bermartabat. Atau dalam bahasa kekinian, menenggak miras itu "tidaklah keren".

Negara harus menjamin pendidikan yang bermartabat menjadi bagian bahan ajar. Negara harus berbicara tidak saja pada pembangunan sekolah dan memperbanyak jumlah guru. Tetapi juga pendidikan yang mengajarkan menenggak alkohol bukanlah perbuatan bermartabat.

Negara juga harus menjamin keterkesediaan lapangan kerja yang layak, agar generasi muda kita bangga berpenghasilan dan profesi baik. Negara juga harus menjamin kebebasan yang kita nikmati setelah munculnya era reformasi ini tidak hanya bicara soal kebebasan, tapi juga tanggung jawab sosial. Negara dan masyarakat harus proaktif menegakkan praktik publik shaming bagi mereka yang mengonsumsi miras oplosan sebagai usaha preventif.

Dari sisi penjual, selama ini juga sanksi yang diberikan kepada para penjual miras yang ilegal sungguh sangatlah ringan. Penjual miras oplosan hanya dikenakan tindak pidana ringan (tipiring). Sehingga hukuman itu tidak membuat jera si penjual miras.

Seharusnya penegak hukum bisa menerapkan pasal 204  ayat 2 KUHP untuk menindak penjual miras dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara. Dalam pasal 204 ayat 2 KUHP disebutkan, seseorang yang menjual sesuatu yang sifatnya berbahaya dan menyebabkan kematian akan dihukum penjara hingga 20 tahun. Mungkin dengan sanksi dan hukuman yang sangat berat seperti ini, akan bisa membuat efek jera kepada para penjual minuman keras.

Kita semua sangat berharap, sebelum memasuki bulan Ramadan, semua lapisan masyarakat untuk bersatu padu, satu pemikiran, untuk menghentikan masalah miras oplosan.  Segala hal peredaran miras dan obat-obat terlarang segera dihentikan. Karena nanti akan bisa mempengaruhi, terutama umat Islam yang sedang menjalankan ibadah Ramadan.

Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu… Eman nyawamu, ojok mbok terus teruske, mergane ora ono gunane...(*)

*) Lare Cungking Mojopanggung Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia