Kamis, 21 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Mari Menciptakan Pemuda yang Cerdas dan Berbudaya

Oleh : Shinta Maya S. MPd*

21 April 2018, 09: 21: 08 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Mari Menciptakan Pemuda yang Cerdas dan Berbudaya

Share this          

KEBUDAYAAN selama ini bertahan karena adanya pendidikan. Hal ini karena di dalam proses pendidikan juga ditanamkan nilai-nilai budaya yang menuntun pola perilaku anak di masyarakat nanti.

Seperti halnya secara antropologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah laku.

Inilah yang menyebabkan hubungan antara pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, sekolah menanamkan kebiasaan untuk bertegur salam saat bertemu dengan guru. Hal ini akan menumbuhkan sikap ramah-tamah yang memang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia. Menjaga kebersihan, kedisiplinan, ketakwaan juga turut ditanamkan di sekolah. Dengan demikian, pendidikan akan mampu mempertahankan kebudayaan bangsa yang memang sudah baik di mata dunia.

Namun, akhir-akhir ini banyak diperbincangkan bahwa anak muda sudah mulai melupakan kebudayaan bangsa. Tidak semua berperilaku demikian, tapi mereka ada. Bangsa kita adalah bangsa yang besar dan terdiri dari beraneka ragam budaya dan adat istiadat. Pemahaman ke-bhinneka tunggal ika-an tersebut mulai memudar seiring dengan banyaknya selisih paham antar suku, antar ras, bahkan agama.

Contoh nyata adalah kasus ujaran kebencian perihal agama yang pelakunya justru adalah pelajar seperti yang pernah dimuat di Radar Banyuwangi tanggal 19 Januari 2018 dengan judul ”Gara-gara Facebook, Pelajar Dipolisikan”. Bisa disimpulkan bahwa tingkah-laku pemuda tersebut sudah di luar budaya asli bangsa.

Bangsa Indonesia bukan bangsa yang saling membenci karena perbedaan. Bangsa Indonesia justru hidup rukun dan saling menghargai. Dan hal tersebut sudah menjadi semboyan bangsa Indonesia dari dulu yaitu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

Tak bisa dipungkiri, globalisasi akan kecanggihan teknologi dan informasi turut andil menjadi salah satu penyebab lunturnya semboyan asli bangsa tersebut. Informasi yang didapat dengan mudah tanpa ada proses analisis yang akurat, akan menghasilkan kesalahan penyimpulan yang fatal.

Kebiasaan menelan mentah-mentah informasi yang disajikan, menjadi celah masuknya informasi-informasi negatif pemecah bangsa. Para pemuda mulai saling diadu domba dengan bangsanya sendiri melalui informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Di sini, perlu disadari akan pentingnya pendidikan untuk mencegah meluasnya kesalahpahaman dari informasi yang diperoleh seiring dengan berkembangnya teknologi informasi teknologi demi mempertahankan budaya kerukunan bangsa Indonesia.

Pendidikan dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Pendidikan merupakan sebuah proses belajar dan kebudayaan merupakan hasil dari proses belajar tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa orang yang berpendidikan merupakan orang yang berbudaya. Pendidikan pun mampu mempertahankan budaya jika di dalamnya dimasukkan unsur-unsur budaya yang perlu dilestarikan oleh pelajar.

Hal tersebut tercermin dalam program-program pemerintah dalam rangka menguatkan pendidikan. Misalnya saja adanya kewajiban aktivitas literasi sebelum pembelajaran dimulai.  Melaksanakan program sekolah semacam itu merupakan contoh upaya mempertahankan kebiasaan membaca yang kini mulai memudar di kalangan pelajar.

Tindak lanjut dari kegiatan literasi tersebut adalah kegiatan diskusi bersama dengan guru maupun orang tua berkaitan dengan topik bacaan yang telah dibaca. Selain melatih kekritisan berpikir para pelajar, kegiatan diskusi juga mampu membangun komunikasi yang baik antar pelajar, guru, dan orang tua.

Lebih dari itu, dengan adanya diskusi maka pemahaman yang salah akan mampu diluruskan. Para pelajar hanya perlu mendapatkan pengetahuan terkait manfaat atau pun dampak dari informasi tersebut. Dengan demikian mereka akan mampu berpikir apa yang sebaiknya atau tidak sebaiknya mereka lakukan.

Dengan adanya pendidikan yang menguatkan nilai-nilai religius, kejujuran, toleransi, dan nilai-nilai baik lainnya maka kebudayaan bangsa akan terjaga. Tegur mereka jika salah, dampingi mereka saat berdiskusi, berikan umpan balik agar mereka lebih paham, disiplinkan mereka, dan tuntun mereka untuk selalu melakukan hal yang benar. Dengan demikian, perpecahan karena hasutan perbedaan hanya akan menjadi dongeng semata.

Penanaman nilai-nilai luhur bangsa dalam dunia pendidikan yang diaplikasikan dalam pembelajaran sehari-hari akan membentuk karakter pemuda yang cerdas dan berbudaya. Hingga akhirnya tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan yang kuat akan memajukan kebudayaan bangsa.(*)

*) Tenaga pendidik, tinggal di Kabat, Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia