Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Lereng Gunung Raung Kembali Longsor

BPBD Sebut Yang Longsor Gunung Pendil

11 April 2018, 18: 15: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

PARAH: Kondisi lereng gunung raung yang masuk Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, semakin parah kemarin (10/4).

PARAH: Kondisi lereng gunung raung yang masuk Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, semakin parah kemarin (10/4). (DOK. JPRG)

SONGGON - Harapan warga sungai Badeng di wilayah Kecamatan Songgon dan mengalir ke Kecamatan Songojuruh, Rogojampi, dan Blim­bingsari bisa kembali jernih, tampaknya masih akan lama.

Sungai Badeng yang airnya keruh sejak delapan bulan lalu akibat lereng Gunung Raung yang longsor, kini malah semakin parah. Sebab, pada Minggu (8/4) lereng Gunung Raung itu kembali long­sor. Daerah yang longsor itu berada di ketinggian 2100 Mdp.

Titik lereng Gunung Raung yang kembali longsor itu, diketahui saat beberapa warga Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon menyusuri aliran sungai Badeng hingga ke hulu. “Oleh warga difoto dan diberikan ke kantor desa,” ujar Kepala Desa (Kades) Sumberarum, Ali Nurfatoni.

Dari keterangan warganya yang naik ke Gunung Raung, terang dia, daerah yang longsor itu di dalam hutan dengan ketinggian 2100 Mdp. Lokasi itu perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. “Yang kena imbas warga di Ba­nyuwangi,” katanya.

Meski sudah diketahui longsor, tapi kades yang biasa disapa Toni itu mengaku belum tahu penyebab longsornya lereng Gunung Raung itu. “Tim peneliti pekan depan akan turun untuk melakukan pene­litian,” cetus mantan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi tersebut.

Untuk lereng Gunung Raung yang longsor itu, Toni mengaku sudah melaporkan ke Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. “Kita juga terus mengabarkan perkembangannya,” ungkapnya.

Ketua BPBD Banyuwangi, Fajar Suasana melalui Kabid Kedaulatan dan Logistik, Eka Muharam me­ngatakan, longsor di lerang Gunung Raung yang mengakibatkan aliran sungai Badeng keruh, itu bukan dari aktivitas vulkanik Gunung Raung. Sebab, daerah yang longsor itu diperkirakan di dae­rah lereng Gunung Pendil yang berlokasi di per­batasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. “Ini murni karena longsor,” katanya.

Mengenai penyebab longsor, Eka menduga akibat hujan selama musim hujan 2017 sampai 2018 dengan intensitasnya cukup tinggi di atas norma. Se­hingga, itu menimbulkan gerakan tanah di lereng Gunung Pendil. “Ada gerakan tanah yang tidak kuat menahan derasnya air sungai,” cetusnya.

Untuk mengetahui penyebab, dampak, dan upaya penanggulangan yang efektif, jelas dia, itu perlu tenaga ahli yang melakukan pe­nelitian dan pengkajian. B”PBD telah ber­koordinasi dengan PVMBG Bandung dan me­nyampaikan permohonan diadakan pe­nelitian dan pengkajian, kemungkinan pekan depan ada tim yang akan datang ke Ba­nyu­wangi,” ungkapnya.

Diharapkan hasil penelitian dan pengkajian PVMBG itu, akan memberi rekomendasi pe­nanganan longsor demi pengurangan resiko bencana. “Kita harapkan bisa mene­mukan titik terang dan solusi untuk bencana ini,” jelasnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, lereng Gunung Raung di wilayah Desa Sum­berarum, Kecamatan Songgon longsor. Bahkan, longsor itu sudah berlangsung sejak dua bulan lalu. Setiap turun hujan, lereng gunung terus terkikis dengan banyaknya pohon yang tumbang.

Gara-gara lereng gunung yang longsor, aliran sungai Badeng di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, sejak dua bulan lalu airnya keruh. Sampai saat ini, masih belum ada penang­gulangan. “Air sungai Badeng keruh, memang dikeluhkan warga,” cetus Kades Sumberarum, Kecamatan Songgon, Ali Nurfatoni.

(bw/rio/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia