Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu
Refleksi Hari Perempuan Sedunia 8 Maret

Momentum Evaluasi Menjadi Perempuan Indonesia

03 Maret 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Momentum Evaluasi Menjadi Perempuan Indonesia

MENGAWALI pembicaraan soal perempuan, kita harus mempersiapkan diri untuk suatu bahasan persoalan yang tiada henti. Kita juga tahu, dari hari ke hari masalah yang dihadapi perempuan bukan lagi masalah yang dihadapi oleh ibu emansipasi kita, Kartini.

Meski dalam diri saya merasa bukan hanya Kartini saja yang melahirkan kesadaran pemikiran dan kebangkitan kaum perempuan dari keterpurukan, masih banyak tokoh lain yang jasanya juga berharga untuk dikenang. Sebut saja nama Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan masih banyak perempuan-perempuan di masanya.

Namun, rasanya tidak perlu lagi menyoal siapa yang menjadi simbol untuk dikenang, atau bahkan hanya menjadi pelengkap sejarah. Ada hal yang lebih penting yang sedang dihadapi perempuan Indonesia.

Menurut Founding Father kita dalam bukunya ”Sarinah” mengatakan, Soal Perempuan adalah Soal Masyarakat. Karena soal perempuan berkaitan erat dengan generasi bangsa. Jika melihat benang merah sejarah, soal perempuan zaman dahulu selalu dikaitkan dengan budaya pingitan, hak dalam pendidikan, dan diskriminasi dengan lawan jenis. Namun di zaman sekarang, masalah yang dihadapi perempuan jauh berkembang dengan lebih kompleks.

Dengan hadirnya teknologi dan modernisasi, perempuan di negeri kita harus semakin mampu memfilter. Tidak malah menjadi ”perempuan mandul”, dalam arti tidak dapat mengandung dan melahirkan ”pembaruan”. Dengan kata lain, tidak mampu berkontribusi banyak bagi bangsa ini di tengah pendidikan yang tidak lagi memandang gender dan di tengah arus teknologi dan informasi yang tidak memberi sekat gender untuk mengaksesnya.

Banyak dari kita yang belum sepenuhnya menyadari, bahwa perempuan adalah korban yang sangat empuk dari model politik ekonomi. Dalam buku ”Jerat Kapitalisme Atas Perempuan”, Marselina Nope mengatakan bahwa kapitalisme bak pisau bermata dua. Satu sisi berusaha menyerang kokohnya dinding patriarki. Namun di sisi lain, kapitalisme juga menyerang perempuan dalam paradoks-paradoks.

Bahkan tidak dipungkiri bahwa fashion, kosmetik seyogianya menembak perempuan sebagai konsumen terbesar. Selain itu juga maraknya iklan-iklan yang menggunakan tubuh perempuan sebagai upaya peningkatan rating dan daya jual. Lantas, siapa yang akan berusaha mengingatkan perempuan satu sama lain ?

Organisasi perempuan memang banyak. Namun, sedikit di antaranya yang sibuk dan bergegas untuk ke arah pemberdayaan perempuan. Khususnya mencari model gerakan perempuan yang pas pada kultur masyarakat kita agar juga diterima oleh masyarakat secara perlahan.

Terkadang, kita juga mudah sekali mengikuti arus pergerakan perempuan dengan mengopi model gerakan perempuan barat (feminisme liberal).

Memang, konsep perjuangan perempuan dalam memerangi patriarki dan kapitalisme dalam feminis barat sangat masif. Namun, kita juga mengingat apa yang dipesankan oleh Ki Hajar Dewantara ”Bagi Indonesia, Jangan tergesa-gesa meniru cara modern atau Eropa, meski jangan pula terikat oleh rasa konservatif, melainkan mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya”.

Lantas, apakah  kita akan terburu-buru secara mentah mengikuti gerakan perempuan model di luar sana ? Seharusnya kita mengenal betul bagaimana lingkungan dan budaya setiap perempuan akan berbeda pada setiap geografisnya.

Seperti juga yang diungkap dalam buku Sarinah yang ditulis Soekarno. Jika menganalisis kandungannya, di sini cukup terang perempuan bangsa kita dijelaskan oleh Soekarno. Memanglah pemikiran Soekarno tentang perempuan banyak diinspirasi oleh seorang tokoh feminisme bernama Rose Luxemburg. Namun, beliau sangat mengantisipasi kita untuk pintar-pintar dalam memilah mana yang cocok untuk budaya kita untuk kita ambil, dan mana yang tidak cocok dengan budaya kita untuk kita buang.

Menjelang peringatan hari Perempuan Sedunia, marilah kita mulai sadar masalah yang semakin kompleks yang sedang dihadapi perempuan. Jadilah perempuan cerdas Indonesia yang mampu melahirkan dan mendidik generasi bangsa, yang tidak mandul dalam pembaharuan, yang berkontribusi dalam pembangunan lingkungan dan bangsa, dan yang terpenting teruslah beriringan dengan laki-laki, sebab perempuan Indonesia seyogianya bukanlah yang ingin menyaingi laki-laki. Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung, jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah satu dari pada sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali (Soekarno). Kesejahteraan sosial di Indonesia akan terwujud jika tak ada gap pemisah antara laki-laki dan perempuan dalam berjuang, tak ada gap di mana laki-laki dan perempuan berjuang sendiri.(*)

*) Warga Situbondo, penerima Beasiswa Magister BPI LPDP, Kemenkeu RI

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia