Senin, 27 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Sports

Dorong Wisata Budaya, Pencak Sumping Masuk Festival

19 Februari 2018, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JADI FESTIVAL: Arisan Mencak Sumping Mondoluko yang digelar di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, September tahun lalu.

JADI FESTIVAL: Arisan Mencak Sumping Mondoluko yang digelar di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, September tahun lalu. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

JawaPos.com – Tradisi arisan pencak sumping yang digelar di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, setiap menjelang hari raya Idul Adha tahun ini mulai diperhatikan dengan serius. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, memasukkan tradisi tersebut ke dalam agenda Banyuwangi Festival.

Kabid Kebudayaan Disparbud Banyuwangi, Choliqul Ridha mengatakan, tradisi itu sebenarnya sudah dipantaunya sejak dua tahun lalu. Melihat animo dari peserta yang menurutnya terus terpupuk, bahkan berkembang, membuat Pemkab Banyuwangi meliriknya sebagai kunci untuk bisa mempromosikan wilayah Desa Tamansuruh.

“Pencak sumping ini budaya lokal yang memadukan tradisi, adat, dan olahraga. Dan ini asli milik Banyuwangi. Jadi untuk tahun ini akan kita coba kemas lebih menarik supaya bisa disaksikan lebih banyak orang,” terang Ridha. Dia juga menambahkan, salah satu hal yang menjadi pertimbangan Pemkab, bahwa tradisi pencak sumping tidak hanya diikuti oleh warga Tamansuruh saja.

Namun, Ridha melihat ada beberapa warga dari Desa-desa di luar Kecamatan Glagah sepeti Giri, Licin dan Kalipuro yang ikut tampil. Sehingga turut memeriahkan festival pencak sumping yang sebelumnya dinamai arisan mencak itu.

“Nanti akan kita support untuk fasilitas penunjangnya. Sedangakan secara umum penyelenggara masih Dusun Mondoluko secara mandiri. Tapi mungkin nanti penyelenggaraanya lebih lama, kalau biasanya satu hari, kali ini bisa dua hari,” jelasnya.

Sementara itu, sebelumnya, Asran salah satu tetua perguruan Cibagor Mondoluko yang menyelenggarakan tradisi pencak sumping mengatakan jika kegiatan itu sudah berlangsung selama hampir lima generasi. Ada pun pesertanya, berasal dari banyak desa  dari beberapa kecamatan seperti Licin, Glagah, Srono, Rogojampi, Banyuwangi dan Kalipuro.

“Yang kita undang biasanya sampai 50 perguruan ada yang masih memegang mencak sumping ada juga yang sudah dari perguruan lain,” ujar kakek 70 tahun itu.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia