Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Hari Pers Nasional dan Semangat Membangun Literasi

10 Februari 2018, 12: 26: 26 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Hari Pers Nasional dan Semangat Membangun Literasi

SATU tanggal almanak biasa dikaitkan dengan pers yang turut membangun gelora literasi di negeri ini adalah 9 Februari. Hari itu diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) menjadi penanda betapa pentingnya sebuah media, dalam hal ini jurnalistik dalam pembangunan jati diri dan semangat mencerdaskan bangsa.

Penanda kesaktian pers (media cetak, Red) dalam menjaga semangat literasi di negeri ini tak lepas dari pengalaman pribadi penulis yang tumbuh besar di tengah keluarga pelanggan setia media cetak mainstream yang berimplikasi pada kegemaran untuk menumbuhkan habit membaca dalam kesehariannya.

R. M. Tirtoadisuryo yang dijuluki Nestor Jurnalistik salah satu pendiri surat kabar pertama di Indonesia Medan Prijaji pada awal tahun 1903. Dia menyadari bahwa surat kabar adalah alat penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat menjadikan semangat kepenulisan sejak saat itu mulai bergairah yang diinisiasi oleh kalangan pribumi sendiri.

Dunia pers Indonesia bisa dibilang semakin menghangat dengan terbitnya Medan Prijaji pada tahun itu, sebuah surat kabar pertama yang dikelola secara mandiri oleh kaum sendiri. Munculnya surat kabar ini bisa dikatakan merupakan masa permulaan bangsa Indonesia terjun dalam dunia pers yang berbau politik.

R. M. Tirtoadisuryo sebagai pemikir dan pencetus awal lahirnya media di negara ini mendekati segala keterbatasan teknologi pada saat itu melalui cara yang cerdas dengan isi rasionalisasi yang dilengkapi referensi konseptual atas segala tindakan yang terjadi pada masanya.

Pada masa itu hingga saat ini media massa mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Peran komunikasi sangat menentukan dalam penyampaian informasi maupun suatu kebijakan pemerintah. Sejalan dengan tingkat perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat, maka metode komunikasi pun mengalami perkembangan yang pesat pula.

Namun semua itu, mempunyai aksentuasi (penekanan) sama yakni komunikator menyampaikan pesan, ide, dan gagasan, kepada pihak lain (komunikan). Hanya model yang digunakannya berbeda-beda. Pendekatan konseptual yang digunakan oleh berbagai media menjadikan masing-masing media memiliki kekhasan dalam hal penulisan yang tidak dimiliki antara satu media cetak dengan media yang lainnya.

Hal itulah yang merupakan amsal seberapa penting peran media dalam menentukan kemajuan kepenulisan bagi masyarakatnya. Mengingat melalui media tersebutlah berbagai aspek pembelajaran yang secara tersirat didapat oleh pembacanya.

Senjakala Media Cetak

Di tengah hegemoni peran media cetak yang cukup memberikan andil dalam geliat dunia literasi di negeri ini, justru tidak sebanding dengan kenyataan di lapangan. Tak dapat dipungkiri, biaya produksi yang cukup besar mengakibatkan satu demi satu media cetak bertumbangan.

Mengutip Jawa Pos edisi Minggu 31 Desember 2017 yang mengangkat judul ”Satu Lagi Media Cetak Tutup Usia” menuliskan tentang Kota Solo, Jawa Tengah yang menjadi kuburan media cetak. Hal itu bukan tanpa alasan, pasalnya sudah cukup banyak media cetak yang harus gulung tikar di kota tersebut, dan yang terakhir adalah koran harian Joglosemar.  Setelah sepuluh tahun meramaikan ragam informasi di Kota Solo dan sekitarnya, mulai awal tahun 2018, koran harian yang dimiliki oleh pengusaha percetakan dan penerbitan S. Haryadi itu resmi tutup. Koran harian Joglosemar, terbit terakhir Sabtu (30/12).

Tak hanya harian Joglosemar, awal tahun 2018, Rolling Stone Indonesia menyatakan telah mengakhiri usaha penerbitan majalah musik miliknya. Hal itu diumumkan PT a&e Media sebagai penerbit majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia.

Lewat situsnya, perusahaan itu mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2018 mereka tak lagi memegang lisensi majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia.

Segala kepemilikan merek di bawah Rolling Stone Indonesia atau yang terhubung dengan Rolling Stone Indonesia telah dikembalikan kepada pemilik merek Rolling Stone di New York, Amerika Serikat, dan Rolling Stone International.

Padahal sebelum era webzine, jika berbicara jurnalisme musik, nama Rolling Stone jelas tak bisa dilepaskan. Majalah musik yang pertama terbit pada 1967 ini bisa dibilang meletakkan standar baru dalam dunia jurnalisme musik.

Jauh-jauh hari sebelum itu, kabar tak kalah mengejutkan datang dari koran sore, Sinar Harapan. Koran yang pertama kali terbit 27 April 1961 itu resmi tak lagi terbit per 1 Januari 2016. Sinar Harapan merupakan media besar di dekade tahun 1980-an.

Pada awal berdiri, oplah Sinar Harapan hanya sekitar 7.500 eksemplar. Namun pada akhir tahun 1961, oplahnya melonjak menjadi 25.000 eksemplar. Seiring dengan perkembangan waktu, Sinar Harapan terus berkembang menjadi koran nasional terkemuka serta dikenal sebagai ’Raja Koran Sore’.

Sadar Teknologi

Ancaman senjakala media cetak yang selalu menjadi hal ihwal dalam geliat kepenulisan di surat kabar berbasis cetak yang selalu dibahas di berbagai media sebenarnya dapat diantisipasi dengan pola-pola persuasif dengan menerima segala kemajuan teknologi bukan justru melawannya.

Media cetak mainstream yang hingga kini masih bertahan tentu merupakan media pemilik paradigma  teknologi sebagai anugerah, bukan ancaman. Jadi kedatangannya justru disambut dengan berbagai inovasi yang membuat media tersebut tetap bertahan di tengah masyarakat.

Laman  digital.jawapos.com/ yang menyajikan hasil kerja redaksi cetak dalam bentuk digital menjadikan angin segar bagi semangat berliterasi di negeri ini di tengah ancaman senjakala tadi. Pun begitu, terlepas dari apa pun kepentingannya, sudah sepatutnya semangat Hari Pers Nasional 2018 dapat menjadikan pengelola media cetak dapat lebih aware terhadap teknologi.

Meskipun hemat penulis, bagaimanapun juga pengalaman membaca yang begitu mahal hanya dapat diraih dengan membaca koran cetak . Membuka lembar per lembar halaman, mencium wangi aroma tinta yang berpadu dengan khas kertas, dapat membaca dengan tenang dan bebas dari distraksi adanya pesan masuk dari gawai yang dipastikan akan membuyarkan konsentrasi saat membaca. (*)

*) Penggiat Rumah Baca Anak Lereng Gunung Srawet, Bangorejo, Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia