Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Man Nahnu

Guruku Inspirasiku

06 Februari 2018, 12: 08: 51 WIB | editor : Syaifuddin Mahmud

Guruku Inspirasiku

Share this          

KABAR duka itu menyeruak dari Sampang. Kamis (1/2) pekan lalu. Ahmad Budi Cahyanto, guru seni rupa SMA 1 Torjun, Kabupaten Sampang, meninggal dunia secara tak lazim: diduga dianiaya oleh salah satu siswanya sendiri.

Dunia pendidikan pun geger. Seperti biasa, kejadian itu langsung viral. Langsung bermunculan gerakan #saveguru. Tak kalah banyak juga pihak yang menyorot dunia pendidikan. Mulai perilaku guru sampai sistem pendidikan di sekolah. Yang mana yang benar, entahlah. Anggap saja semuanya benar. Baik yang mengecam perilaku siswa maupun yang mengkritisi sistem pendidikan. Tapi yang paling benar tentu saja ini: segenap insan pendidikan harus introspeksi. Merenung berjamaah. Terutama para gurunya.

Di tulisan Man Nahnu pekan lalu (30/1), Ajar dan Didik, saya singgung sedikit tentang kondisi zaman now. Terutama terkait dengan perilaku siswa. Perlu dipertimbangkan juga untuk kembali ke pendekatan pendidikan zaman old (sekadar menyebut saja, untuk menandingi istilah zaman now). Betapa pentingnya guru tidak hanya mengajar di depan siswanya. Melainkan juga mendidik muridnya. Bukankah Mendikbud Muhadjir Effendy sedang getol mengampanyekan pendidikan karakter!

Mungkin masih ada yang bingung. Bagaimana cara mengajar sambil mendidik, ya. Gampangnya begini. Anggap saja sekolah sebagai rumah sendiri. Ketika seorang guru sudah merasa sekolah tempatnya mengajar seperti rumahnya, maka secara otomatis yang bersangkutan akan menganggap murid-muridnya sebagai anak sendiri. Dengan perasaan seperti itu, maka guru akan lebih banyak mendidiknya daripada mengajar. Atau ia akan mengajar dengan model mendidik.

Senakal apa pun murid yang sedang diajarnya, si guru tetap akan berusaha menyadarkan murid nakalnya itu. Sebagaimana orang tua yang sedang menghadapi kenakalan anaknya. Senakal-nakal seorang anak, orang tua akan berusaha menahan emosinya. Ia akan mati-matian menahan amarah agar tidak sampai memukulnya. Seperti pepatah kuno: sebuas-buasnya serigala tidak akan memakan anaknya sendiri. Memang belakangan mulai ada orang tua yang menghajar anaknya sampai kelenger. Tapi kasuistik. Tidak bisa di-gebyah uyah. Masih terlalu amat sangat banyak orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang. 

Sebetulnya tidak hanya untuk zaman now. Sejak dulu pun seharusnya tidak boleh sampai ada murid berani sama guru. Tidak ada celah bagi murid untuk ngelamak sama gurunya. Apalagi sampai, maaf, menghajar gurunya –seperti yang terjadi di Sampang. Dengan catatan, asal:

1. Guru tidak boleh pilih kasih. Guru tidak boleh membeda-bedakan siswanya. Guru tidak boleh gampang terpesona. Murid yang cantik/ganteng harus diperlakukan sama dengan murid yang wajahnya biasa-biasa saja. Murid yang cerdas bin pintar tidak boleh diberi perlakuan yang lebih dibanding muridnya yang biasa-biasa saja. Kalau pun mau membedakan antara yang pintar dan kurang pintar seyogianya bukan guru yang melakukannya. Melainkan sekolah. Misal, dibuat kelas kelompok anak pintar dan kelompok anak yang sedengan ke bawah. Tujuannya, untuk kelompok yang terakhir bisa diberi perhatian lebih. Terutama terkait dengan pengayaan pelajaran. Supaya bisa mengejar teman-temannya yang ada di kelompok pandai. Nah, apakah ada guru yang suka terpesona pada murid yang pandai memberinya perlakuan istimewa. Hanya guru yang bisa menjawab.

2. Guru menganggap siswanya sebagai anak sendiri. Tidak ada orang tua yang tidak ingin memberi pendidikan terbaik kepada anaknya. Semangat seperti itu jika dipunyai guru, maka ia tidak akan punya kesempatan untuk ’menghukum’ siswanya. Waktunya akan habis untuk mencari cara bagaimana memintarkan siswanya. Seperti orang tua yang selalu menginginkan anaknya lebih pintar dari dirinya. Artinya, guru harus punya kesadaran kalaupun saat ini ia mengajar di depan kelas bukan berarti lebih pintar dari muridnya. Melainkan karena lebih dulu mengerti tentang materi yang diajarkan daripada muridnya. Dengan begitu kalau menghadapi murid yang ternyata sudah tahu materi yang diajarkannya, si guru harus legawa. Harus memberi reward kepada muridnya tadi. Bukan malah merasa tersinggung. Merasa dilecehkan. Atau merasa dikalahkan. Namun meski si murid tadi pintarnya nauzubillah, jangan lantas dianakemaskan. Perlakukan sebagaimana murid yang lainnya. Biar tidak besar kepala. Sekali diperlakukan istimewa dan perlakuan seperti itu diketahui oleh siswa lainnya, maka sejak saat itu –disadari atau tidak—si guru tadi sudah membuat suasana ruang belajar tidak kondusif. Si guru akan divonis sebagai orang yang tidak adil dan tidak bijak. Bisa jadi akumulasi perasaan negatif itu akan menyuburkan bibit-bibit antipati kepada guru yang bersangkutan. Kalau sudah begitu, pasti yang namanya ’proses mendidik’ tidak bakal berjalan dengan baik. Murid akan mendengarkan dengan baik ketika gurunya mengajar. Dia hanya mendengarkan ilmunya. Tapi tidak akan mau meneladani sikap gurunya yang dianggapnya tidak adil!

Yang terakhir, 3. Guru benar-benar menerapkan teori pendidikan. Guru tidak dilarang memberi penghargaan kepada siswanya. Sebaliknya, guru juga boleh kok ’menghukum’ siswanya. Teori pendidikan mengajarkan reward dan punishment. Ketika murid menjawab dengan runtut dan benar guru harus memberinya pujian. Kasih jempol dua. Sebaliknya, untuk siswa yang tidak bisa menjawab atau selalu menjawab tapi salah, guru tidak boleh mengatai-ngatainya: ”Otakmu penuh udang ya” atau ”Gobl*k” atau ”Kamu mikir pakai otak atau pakai dengkul”. Dalam teori yang saya pelajari ketika kuliah dulu hingga mendapatkan Akta IV (semacam SIM untuk mengajar), bagi siswa yang tidak bisa menjawab (dan sikapnya menyakitkan sekalipun) guru harus tetap memberi pujian. Misal mengatakan begini: ”Jawabanmu masih kurang tepat” atau ”Jawabanmu sudah Ok, tapi masih kurang benar” atawa ”Coba nanti dipelajari lagi di rumah pertanyaannya ya”. Dan masih banyak ungkapan simpati yang bisa diucapkan guru agar tidak mematikan semangat muridnya. Juga tidak sampai menyinggung perasaan muridnya.

Wa ba’du. Semua guru pasti senang mendengar kabar siswanya sukses menjadi ini dan itu. Tapi, saya yakin, tidak ada yang paling membanggakan bagi guru selain murid-murid yang meneladani sikapnya saat mengajar. Bunga di hati guru akan langsung mekrok ketika mendengar pengakuan siswanya yang sukses mengatakan: ”Saya bisa menjadi seperti ini karena terinspirasi guru saya”. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

(bw/*/aif/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia