Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Tips & Trik

Pengobatan Dispepsi tanpa Obat

Selasa, 06 Feb 2018 11:55 | editor : AF. Ichsan Rasyid

dr Fauziah Budiandayani

dr Fauziah Budiandayani (RS YASMIN FOR JAWAPOS.COM)

Oleh :

dr Fauziah Budiandayani*

PENYAKIT dyspepsia (dispepsi) oleh masyarakat sering disamakan dengan penyakit maag, karena terdapat kesamaan gejala antara keduanya. Hal ini sebenarnya kurang tepat. Karena kata maag berasal dari bahasa Belanda, yang berarti lambung. Sedangkan kata dyspepsia berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu ”dys” yang berarti buruk dan ”peptei” yang berarti pencernaan, jadi dyspepsia berarti pencernaan yang buruk.

Pengertian dispepsia adalah sekumpulan gejala berupa nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian atas yang menetap atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada terasa panas yang telah berlangsung sejak 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala timbul dalam 6 bulan sebelumnya.

Gejala–gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit maag, namun penyebabnya tidak harus selalu oleh penyakit maag, oleh karena itu dalam medis untuk menggambarkan sekumpulan gejala tersebut digunakan istilah sindrom dispepsi.

Masyarakat sekarang sudah pintar dalam mengenali penyakit sindrom dispepsi.Dan banyaknya obat-obatan di pasaran yang dijual bebas dapat dibeli masyarakat tanpa resep dokter. Karena pada sindrom dispepsi ini adalah penyakit yang sehari-hari kita temukan dan banyak diderita oleh masyarakat terutama di masyarakat yang tinggal di kota besar. Hal itu berhubungan erat dengan pola makan masyarakat zaman sekarang dan pola kebiasaan masyarakat zaman sekarang yang cenderung memiliki kebiasaan pola makan yang tidak teratur atau makan melewati jam waktu makan yang seharusnya akibat kepadatan aktivitas, kebiasaan minum kopi di awal hari sebelum melakukan kegiatan yang dilakukan laki-laki maupun perempuan pada zaman sekarang. Tingkat stres yang tinggi juga memicu peningkatan penderita sindrom dispepsi.

Pada dasarnya penyakit ini tidak membahayakan hanya saja mengganggu aktivitas dan nafsu makan yang dapat menurun bila berkepanjangan berakibat buruk juga bagi penderitanya. Di sisi lain, sindrom dispepsi juga bisa dikatakan sebagai gejala awal terjadinya penyakit kronis di saluran pencernaan Anda, seperti tukak lambung, kanker usus, gangguan empedu, atau pun hati.

Menurut penelitian, sindrom dispepsi lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Hal tersebut berhubungan dengan tingkat stres perempuan yang lebih tinggi disbanding laki-laki. Di sisi lain, stigma perempuan yang gendut terlihat jelek berakibat pola makan diet yang tidak benar di masyarakat berakibat perempuan lebih sering terkena sindrom dispepsi.

Pengobatan sindrom dispepsi bisa dalam bentuk obat yang biasanya dijual bebas untuk penanganan awal. Bila tidak tertangani, Anda bias konsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Namun, yang ingin saya bahas kali ini adalah bila penderita sindrom dispepsi yang sudah sembuh dapat kambuh kembali dalam jangka waktu dekat bila tidak mengubah pola makan dan pola hidupnya. Untuk itu, penderita harus konsisten melakukan beberapa hal untuk pencegahan sindrom dispepsi berulang. Hal pertama membiasakan pola makan yang teratur, sehari tiga kali dengan porsi makan terdiri dari karbohidrat, sayur, dan protein dengan porsi kecil dengan durasi setiap 8 jam dengan antara makan pagi dan siang diselingi camilan begitu pula antara makan siang dan sore.

Membiasakan tidak makan di atas jam 8 malam. Sebab di atas jam 8 malam otot usus besar sudah berhenti menggiling makanan karena sifat otot usus besar bersifat otonom di mana bergerak tanpa bias diatur. Sehingga berefek makanan akan terendap di lambung hingga pagi, hal ini merangsang enzim-enzim di saluran pencernaan untuk mengeluarkan asam lambung terus-menerus yang berakibat berlebihannya produksi asam lambung di pagi hari yang memicu terjadinya sindrom dispepsi.

Membiasakan minum air putih setelah bangun tidur sebanyak kurang lebih 200 cc untuk menetralkan PH asam lambung yang diproduksi selama Anda tidur. Bila Anda memiliki sindrom dispepsi, pada saat tidur posisi kepala lebih tinggi sedikit dibanding perut. Ini untuk menghindari asam lambung yang naik ke saluran pencernaan atas pada saat tidur.

Hindari meminum kopi dan teh atau pun minuman yang mengandung kafein. Karena kafein merangsang enzim-enzim mengeluarkan asam lebih banyak. Membatasi makanan yang asam dan pedas, pada saat proses penyembuhan sebaiknya mengurangi makanan yang mengandung santan dan susu terutama sebelum tidur karena itu sulit diolah.

Membiasakan tidur yang cukup dan tidak tidur di larut malam, karena kebiasaan tidur larut malam memicu kebiasaan minum kopi yang nantinya merangsang produksi asam lambung. Dan luangkan waktu untuk beristirahat di sela-sela kesibukan Anda untuk mengurangi stress. Karena stress merupakan faktor terbesar terjadinya sindrom dispepsi. Bila Anda menjalankan tips-tips yang tadi sudah dijelaskan, akan menekan risiko terjadinya sindrom dispepsi berulang. (bay/c1)

 *) Dokter RS Yasmin Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia