Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Man Nahnu

Mengukur Kepantasan

Oleh: H. Samsudin Adlawi

02 Januari 2018, 18: 27: 16 WIB | editor : Ali Sodiqin

Mengukur Kepantasan

Share this          

CATATAN ini saya tulis siang kemarin. Ketika, mungkin, banyak orang masih terlelap. Terbungkus dalam selimut tidur. Sehabis bergadang. Semalam suntuk. Larut dalam pesta pergantian tahun. Dari 2017 ke 2018.

Begitulah cara sebagian besar masyarakat merayakan tahun baru. Ada yang trek-trekan. Naik motor dengan knalpot brong. Banyak juga yang putar-putar kota. Bersama teman atau keluarga. Nonton berbagai pertunjukan. Juga pengajian akhir tahun. Orang yang tinggal di daerah atas (Glagah dan Licin) turun gunung. Yang dari selatan dan utara menuju ke arah yang sama: Kota Banyuwangi. Arak-arakan. Mobil dan motor berjejal. Memenuhi jalan. Suara terompet bersahut-sahutan. Dengan deru knalpot.

Saya sering berpikir: apakah mereka benar-benar tahu apa yang dilakukan. Kenapa tidak bosan-bosan. Dari tahun ke tahun merayakan pergantian tahun dengan cara yang sama. Turun ke jalan. Muter-muter. Kongko-kongko. Di pinggir jalan. Atau di lapangan. Menunggu detik-detik terakhir memasuki tahun baru. Dan, bersorak bersama ketika detik pertama tahun yang baru berdetak.

Pantaskah kita merayakan tahun baru dengan gegap gempita. Tentu, jawabannya sangat subjektif. Tergantung masing-masing pribadi. Nafsi bi nafsi. Person to person. Masing-masing kita punya standar kepantasan. Yang tidak pantas itu kalau melakukan sesuatu padahal tidak tahu apa tujuannya: kenapa harus melakukannya.

Yang namanya perayaan, automatically berhubungan dengan keberhasilan. Anak sekolah yang lulus dari sekolah merayakannya bersama keluarga dan teman-temannya. Pasangan yang melepas masa lajang menggelar pesta. Ketika diterima bekerja di tempat yang dicita-citakan, seseorang biasanya juga menggelar perayaan. Meski hanya kecil-kecilan. Gaji pertamanya dipakai mentraktir teman-temannya. Atau keluarga. Atau bahkan membelikan baju pacarnya (kalau punya).

Berarti, mereka yang kemarin malam tumplek blek di jalanan kota adalah orang-orang yang berhasil di tahun 2017? Susah menjawabnya. Mereka sendiri yang tahu. Pastinya, sungguh sangat menyedihkan dan menggelikan kalau ada orang yang hidup susah di tahun 2017, kemarin malam ikut perayaan tahun baru. Masak mereka merayakan kegagalan dengan hura-hura. Benar-benar sulit diterima akal sehat. Atau bahkan akal sehat tak bakalan mau menerimanya.

Saya sih memilih berdiam diri. Tak ke mana-mana. Hanya kumpul-kumpul sama warga di perumahan. Sambil makan bakar jagung dan ikan. Enak. Sangat produktif. Dapat silaturahminya. Perut dapat asupan bergizi pula. Tanpa membakar BBM setetes pun.

Mungkin, untuk tahun baru tahun depan perlu ada syarat khusus. Setidaknya syarat untuk diri sendiri. Yakni, harus melakukan muhasabah (menghitung dan menimbang: lebih banyak minus atau plus) lebih dulu. Kalau plusnya lebih banyak dari minus, atau rapor merahnya lebih sedikit dari rapor birunya, disilakan ikut perayaan tahun baru 2018. Dengan begitu, dijamin tahun 2018 akan datang dengan senyum paling lebar. Sebab, ia disambut oleh orang-orang yang memang layak menyambutnya. 

Muhasabah bisa dilakukan kapan pun, sebenarnya. Tidak harus menunggu sampai akhir tahun. Bisa dilakukan kapan saja. Setiap semester (enam bulan) sekali, setiap kuartal (empat bulan), atau triwulanan (tiga bulan). Saya sendiri terbiasa melakukannya setiap hari. Kebiasaan itu terbawa dari kebiasaan di kantor. Saya selalu memonitor perkembangan di kantor secara day to day. Terutama untuk perkembangan omzet iklan dan oplah koran. Dari day to day itu masih dipertajam dalam laporan month to month, dipertajam lagi dalam laporan triwulanan, lalu semester, dan baru laporan akhir tahun. Dengan begitu, saya bisa tahu secara presisi perkembangan perusahaan dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga pertiga tahun, satu semester, dan perusahaan dalam setahun.

Kebiasaan itu terbawa dalam perilaku keseharian. Setiap hari saya menyempatkan diri untuk mengingat dan menghitung ulang. Apa saja yang sudah saya lakukan. Terutama terkait ibadah dan amal. Turun atau naik. Hal yang sama juga saya terapkan di Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi. Yang saya pimpin. Saya selalu rewel kepada para komisioner lainnya. Saya selalu ajukan pertanyaan: sudah berapa mustahik yang dibantu, ada berapa proposal pengajuan distribusi dari UPZ (Unit Pengumpul Zakat), dan tinggal berapa saldo di kas. ”Saya ingin saldo kas Baznas di akhir tahun bisa nol persen,” kata saya kepada para komisioner. Saya berprinsip, sebagai penyambung amanat para muzaki, Baznas harus sesegera mungkin mendistribusikan dana yang disetor muzaki. ”Sebagai lembaga pengelola dana sosial keagamaan, tidak seharusnya merasa bangga jika saldo kasnya besar. Makin besar saldo di kas, makin menunjukkan pengelolanya tidak bekerja,” tegas saya.

”Setujuuu!” sahut para komisioner kompak. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia