Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi
Refleksi Harjaba

Abdullah Azwar Anas

Oleh: Andang Subaharianto

19 Desember 2017, 18: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Abdullah Azwar Anas

Catatan Harjaba ke-246

Bisa jadi, peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-246 adalah yang terakhir kali bersama Bupati Abdullah Azwar Anas. Dengan akrab orang-orang menyapanya Pak Anas. Di sejumlah tempat terpasang gambar Pak Anas berbaju merah. Mendampingi Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Kita tahu dua nama itu dijagokan pada Pilgub Jatim 2018. Pak Anas memperkenalkan dirinya Mas Anas. Kata mas adalah sebutan kekerabatan, setara dengan kang (Osing, Jawa), atau cak (Arek). Biasanya untuk kesetaraan dan penghormatan. Tapi sebutan mas juga bernilai antropologis. Yakni mengatasi kemajemukan kultur di Jatim. Baik Jawa, Madura, Mataraman, Arek, Tengger, Osing, maupun Tionghoa dan Arab, menerima sapaan mas sebagai bagian kulturnya. Sebuah pilihan cerdas.

Banyuwangi pantas bersyukur punya Pak Anas. Muda, cerdas, dan penuh semangat. Dalam ingatan saya, Pak Anas adalah pembelajar yang baik. Saat di bangku SMAN 1 Jember, Pak Anas sudah juara pertama lomba pidato pemuda se-Kabupaten Jember. Juga langka, pelajar SMA membagi waktu belajarnya dengan menjadi reporter radio. Ini bukan “belajar sambil bekerja”, tapi “belajar sambil belajar yang lain”. Bakat kepemimpinan politiknya sudah tampak sejak muda. 

Peringatan Harjaba ke-246 merupakan momentum refleksi. Warga Banyuwangi tentu punya catatan masing-masing. Begitu pula kepala dinas, camat, kepala desa, dan segenap pegawai pemerintah. Catatan-catatan itu penting buat hari esok. Catatan saya ini pun hanya potret satu sisi. Itu pun tidak dengan riset ketat. Pak Anas menarik diprotret dari banyak sisi.

Di mata saya, Pak Anas tergolong pemimpin muda yang cemerlang. Pantas banyak penghargaan diterimanya. Saya teringat teorinya. Saat bertemu di awal saya bertugas di Untag (Maret 2016), kurang lebih Pak Anas bilang, “Kalau kita punya anak perempuan dilamar dua jejaka, yang satu satpam bergaji Rp 10 juta, yang satu lagi baru lulus ITS, pilih mana? Tentu kita pilih yang baru lulus ITS. Punya prospek.”

Pak Anas memprospek Banyuwangi. Sangat tahu potensi dan keeksotisan Banyuwangi yang laku jual. Maka dibuatlah Banyuwangi Festival (B-Fest). Saya pun merasakan. Geliat Banyuwangi, jenggirat tangi.  Pak Anas dan jajarannya tentu punya data untuk meyakinkan. Anda pun punya. Bisa saling melengkapi. Tapi saya simpel saja. Blimbingsari.

Sejak pertengahan 2017 tiga kali penerbangan langsung Blimbingsari-Jakarta. Dua kali NAM Air, sekali Garuda. Yang ke Surabaya juga tiga kali. Saya pun sudah empat kali terbang Blimbingsari-Jakarta. Kursi nyaris penuh. Keputusan perusahaan penerbangan tentu bukan berkat lobi Pak Anas semata. Ini soal membaca prospek.

Banyuwangi memang sedang menari. Mengikuti irama gendang yang terdengar kuat ditabuh Pak Anas. Banyak orang berdatangan. Wisatawan melonjak tajam. Dari sekitar 500.000 pada 2010 menjadi sekitar 4 juta orang pada 2016. Penumpang pesawat meningkat. Tahun 2015, berangkat 51.019, datang 49.391. Tahun 2016 meningkat menjadi: berangkat 57.340, datang 55.745. Tamu hotel juga meningkat. Tahun 2015, tamu domestik 540.669, mancanegara 59.597. Tahun 2016 meningkat, domestik 551.513, mancanegara 64.102. Tapi baru sekitar 15% dari jumlah wisatawan.

Harus diakui, B-Fest yang kini sudah 72 macam punya tuah. Bukan sekadar mendatangkan tamu, tapi juga menggembirakan masyarakat. Pesta pastilah gembira ria. Berkali-kali saya mendengar Pak Anas menegaskannya. Rakyat harus gembira agar gampang diajak. Pemimpin akan mudah bekerja bila rakyatnya gampang digerakkan. Kira-kira itulah rumus Pak Anas.

Karena itu Pak Anas pantas menyandang gelar “bupati festival”. Tak ada daerah di Indonesia, bahkan dunia, yang memiliki agenda festival sebanyak dan semeriah Banyuwangi. Dan ternyata juga menginspirasi  banyak bupati.

Tapi saya juga membaca sisi yang lain. B-Fest bukan sekadar menggembirakan dalam arti sosio-psikologi. B-Fest juga bermakna sosio-politik dalam konteks integrasi sosial. B-Fest menyatukan warga yang plural, yang tidak jarang bergesekan dan saling berebut pengaruh.

Pluralitas Banyuwangi cukup tinggi. Banyuwangi terbentuk dari reruntuhan perang Puputan Bayu (1771). Kurun waktu 1766-1771 tercatat sebagai masa perebutan pengaruh di Blambangan antara Inggris, VOC, Mataram, Bali, dan penguasa lokal Blambangan. Juga antara Islam, Hindu, dan varian agama Jawa lain. Tidak aneh bila pengelompokan sosial dan konstelasi kekuasaan Banyuwangi modern sebagian berjejak di masa lampau, dan sebagian lain bikinan modernisme.

Dalam konteks tersebut B-Fest manjur sebagai sarana integrasi sosial. Mirip ritual slametan yang dicatat Beatty, antropolog Inggris yang menghabiskan waktu risetnya di Kemiren pada tahun 1990-an. Kata Beatty (2001), slametan merupakan peristiwa komunal tapi tak mendefinisikan komunitas secara tegas; semua orang setuju dengannya tapi belum tentu menyepakati maknanya. Slametan itu kesepakatan sementara di antara orang-orang yang berbeda orientasi.

Banyak kalangan rupanya sedang membaca prospek Banyuwangi. Tidak salah. Berbeda dengan citra lamanya sebagai “kota santet”, kini Banyuwangi tampil molek sebagai “kota festival”. Banyuwangi memang prospektif. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Jawa Timur yang dipublikasikan Bank Indonesia (Agustus 2017), grafik angka simpanan masyarakat dan kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Banyuwangi cenderung meningkat. Simpanan tahun 2012 baru mencapai Rp 4,2 triliun, Juli 2017 sudah mencapai Rp 7,6 triliun. Kredit UMKM yang dikucurkan bank umum juga meningkat tajam. Tahun 2012 baru Rp 2,1 triliun (di bawah Jember, Rp 2,6 triliun), Juli 2017 sudah mencapai Rp 4,6 triliun (melampaui Jember, Rp 3,9 triliun). 

Simpanan meningkat, kredit UMKM juga meningkat. Artinya, perekonomian masyarakat bergerak. Pertumbuhan ekonomi  tinggi, sebesar 6,01 persen (2016). Pendapatan per kapita pun naik dari Rp 20,8 juta pada 2010 menjadi Rp 41,4 juta per orang per tahun pada 2016. Maka kebutuhan, tuntutan, harapan, dan standar hidup pun akan meningkat. Yang dulu belum terpikirkan, kini mulai muncul sebagai tuntutan baru. Aspirasi akan makin banyak.Tuntutan terhadap pelayanan publik pun akan terus meningkat. Begitulah Maslow mendalilkan.

Banyuwangi jenggirat tangi. Pantang surut kembali. Tentu tidak mudah. Suara gendang yang ditabuh Pak Anas terasa begitu kuat. Suara gendang itu sudah membangunkan. Tapi, cepat atau lambat, Pak Anas juga tidak akan menabuhnya lagi.

Tantangan beratnya adalah mengalih-ubahkan suara gendang yang berpusat di pendopo itu menjadi suara gendang bertalu-talu yang ditabuh warga di tengah masyarakat. Saatnya mendorong (meski pelan) gawe pendopo menjadi gawe masyarakat. Dari kekuatan figur ke sistem. Dan ini tidak lebih mudah. Di samping kultur yang masih kuat berorientasi tokoh, standar warga juga sudah berubah. Dirgahayu Banyuwangi. (*)  

 *Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia