Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan
RS Al Huda Genteng

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Bayi

13 Desember 2017, 14: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DETEKSI: Tes pendengaran metode Auditory Brainstem Response (ABR) pada bayi baru lahir di RS Al Huda.

DETEKSI: Tes pendengaran metode Auditory Brainstem Response (ABR) pada bayi baru lahir di RS Al Huda. (RSAH For RaBa)

GAMBIRAN - Rumah Sakit (RS) Al Huda memberikan layanan hearing test for baby (tes pendengaran pada bayi) dengan metode Auditory Brainstem Response (ABR).

Layanan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. ”Mengingat pentingnya peran fungsi pendengaran dalam proses tumbuh kembang anak, terutama perkembangan bicara, pemeriksaan ABR sejak awal kelahiran bayi sangat diperlukan. Sehingga, gangguan pendengaran pada anak dapat dideteksi lebih awal, dan bisa segera ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya,” terang dr Soegeng Hery P MMRS, Manajer Instalasi Rawat Jalan RS Al Huda.

Sejak tersedianya fasilitas layanan ini di RSAH, beberapa penyebab gangguan pendengaran pada bayi bisa segera diketahui. Ada yang perlu dirujuk, banyak juga yang ternyata gangguannya sederhana dan bisa ditangani di RS Al Huda.  ”Fasilitas ini dapat dikatakan metode terkini dibandingkan dengan metode yang ada sebelumnya. Dapat mendeteksi gangguan pendengaran dengan kelainan sampai di tingkat otak.” papar Soegeng.

Menurut Soegeng, alat tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi baru lahir sampai anak usia 12 tahun. ”Pemeriksaannya pun tidak rumit. Tidak menimbulkan rasa sakit, dan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah bayi lahir,” jelasnya.

Menurut Soegeng, ada banyak faktor penyebab mengapa pendengaran bayi terganggu. Di antaranya, yang paling ringan adalah diakibatkan sisa cairan persalinan yang masih tertinggal dalam lubang telinga. Atau karena si bayi terlalu aktif bergerak. ”Kalau hanya gangguan seperti itu, maka dokter akan dengan mudah melakukan pertolongan dengan mengeluarkan sisa cairan atau membantu bayi menjadi lebih tenang,” jelasnya. Meski demikian, lanjut dia, tetap penting untuk mengetahui sedini mungkin sumber penyebab gangguannya. ”Karena meski gangguan pendengaran diakibatkan sisa cairan persalinan, bila tidak terdeteksi dalam waktu cukup lama, dikhawatirkan bisa berubah menjadi gangguan pendengaran yang serius,” paparnya.

Soegeng menambahkan, penyebab terbanyak gangguan pendengaran di Indonesia disebabkan infeksi saluran telinga bagian tengah (congek), juga akibat penyumbatan kotoran telinga (serumen), dan tuli sejak lahir. ”Sebenarnya sebagian besar gangguan ini, atau sekitar 50 persennya dapat dicegah” imbuhnya.

Dan sudah seharusnya, RS Al Huda turut menggalakkan program deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. Dengan begitu, diharapkan dapat membantu mencegah keterlambatan tumbuh kembang anak. Terutama dalam hal kemampuan bicaranya. ”Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan tes pendengaran pada bayi, bisa menghubungi nomor telepon 0333-842033 ext. 317, atau datang langsung ke RS Al Huda, Jalan Gambiran No 225 Genteng Banyuwangi,” pungkas Soegeng.

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia