Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis

Overproduksi, Harga Buah Naga Jeblok

11 Desember 2017, 11: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MELIMPAH: Pedagang menunjukkan buah naga siap konsumsi di Pasar Blambangan Banyuwangi kemarin.

MELIMPAH: Pedagang menunjukkan buah naga siap konsumsi di Pasar Blambangan Banyuwangi kemarin. (Rendra Kurnia/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Buah naga termasuk salah satu primadona hortikultura di Bumi Blambangan. Banyak petani yang merasakan manisnya berbisnis buah warna merah itu. Namun kini, panen buah naga berlangsung serentak, overproduksi pun tak bisa dihindari. Akibatnya, harga buah bernama latin Hylocereus polyrhizus ini pun jeblok.

Turunnya harga buah naga secara drastis, membuat petani semakin mengerutkan dahi. Harga buah naga di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 1.500 per kilogram (kg). Padahal biasanya, harga di level petani bisa mencapai 10.000 per kg. 

Tidak hanya harga saja yang turun, musim hujan ini juga membuat kualitas buah naga di bawah standar. Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Banyuwangi, ada lima kecamatan sentra penghasil buah naga. Lima kecamatan itu antara lain Kecamatan Pesanggaran, Kecamatan Siliragung, Kecamatan Bangorejo, Kecamatan Tegaldlimo, dan Kecamatan Purwoharjo.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiyawan mengatakan, sentra produksi buah naga tidak hanya ada di lima kecamatan tersebut. Kini, lahan pertanian yang ditanami buah naga sudah merambah hingga hampir merata di seluruh kecamatan. ”Ada di banyak daerah, misalnya Kecamatan Sempu, Kecamatan Genteng, Kecamatan Muncar, Kecamatan Gambiran, dan Kecamatan Cluring. Beberapa daerah itu, kini para petaninya sudah mulai beralih menanam buah naga,” jelas Arief.

Untuk saat ini, jelas Arief, lahan pertanian di Banyuwangi seluas 65.457 hektare. Sedangkan, lahan yang ditanami buah naga dan jeruk seluas 16.000 hektare. Lahan petani yang akan ditanami buah naga terindikasi akan semakin meluas.

Untuk produksi buah naga, dalam lima tahun terakhir rata-rata sebanyak 795.102,83 ton per tahun. Sedangkan, panen padi lima tahun terakhir rata-rata mencapai 121.279,33 hektare per tahun. Dengan makin banyaknya alih fungsi lahan ini, Dinas Pertanian Banyuwangi menilai akan mengancam produktivitas padi yang semakin menurun. Hal tersebut tidak hanya berdampak buruk bagi harga buah naga. Akan tetapi juga semakin mempersempit lahan serta hasil pertanian padi di Banyuwangi.

Dinas Pertanian, kata Arief, sebenarnya sudah memprediksi hal tersebut. Selain terus melakukan sosialisasi kepada para petani, mereka juga sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi. Koordinasi ini dalam rangka membantu petani agar harga produksi hasil pertanian mereka bisa lebih stabil.

Arief mengakui, sangat sulit mengubah pola pikir petani. Karena petani saat ini lebih memikirkan keuntungan sesaat yang didapatkan dari hasil menjual buah naga. ”Mengubah mindset petani itu merupakan tugas berat yang dihadapi oleh pemerintah,” ujarnya.

Banyak petani yang semula menanam padi namun memutuskan untuk mengalihfungsikan lahannya. Kemudian, mereka mengganti tanaman padi dengan buah naga karena tergiur dengan keuntungan berlipat yang didapatkan. Dan ironisnya, sekarang mereka tidak mendapatkan keuntungan tersebut karena harga buah naga justru merosot drastis.

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia