Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Man Nahnu
Man Nahnu

Dam Gembleng Bersihkan si Gemblung

Oleh: H. Samsudin Adlawi

28 November 2017, 16: 50: 55 WIB | editor : Ali Sodiqin

Dam Gembleng Bersihkan si Gemblung

Share this          

MAAF, saya salah kira. Awalnya saya mengira dam-dam di Banyuwangi dicat warna-warni hanya karena latah. Ikut-ikutan. Meniru daerah lain. Meniru kampung warna warni di Malang. Atau kampung warna-warninya Kali Lo.

Ternyata bukan duplikasi semata. Ada maksud khusus. Yang terselip di baliknya. Dam-dam itu dicat agar menjadi indah. Hasilnya? Ternyata juga bukan hanya indah. Ada dampak ikutannya. Ada multiefek yang dahsyat. Setelah (berubah) menjadi indah, fungsi dam-dam itu bertambah. Bukan lagi tempat pengendali distribusi air. Melainkan jadi jujugan alias destinasi wisata baru.

Banyak orang yang mendadak berkunjung ke sana. Menikmati keindahan dan kesejukan yang menguar dari efek air dam. Dan tak lupa pula mereka melakukan ritual wajib: melakukan foto selfie atau wefie. Dengan gaya paling gantik dan cantik tentunya. Tak kalah dengan artis. Atau bahkan melebihi artis. Alias lebay. Hehehe... Lalu berlomba-lomba mengunggahnya ke medsos. Maunya sih supaya foto dirinya yang lagi mejeng dilihat warganet. Tanpa mereka sadari ulahnya telah makin memopulerkan dam-dam yang dikunjunginya. Lumayan yang bersangkutan jadi terkenal. Dam tempatnya selfie-wefie numpang tenar secara gratis.

Saya termasuk orang yang terprovokasi oleh unggahan foto-foto dam warna-warni. Kalau sebelumnya hanya melihat sepintas dari dalam mobil saat melintas. Sabtu kemarin saya bisa melihat secara langsung. Bahkan, berlama-lama merasakan denyutnya. Di luar perkiraan saya. Ternyata memang sangat indah. Dam itu bernama Gembleng. Dam Gembleng berada di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Masuk wilayah koordinator eksploitasi (Korek) Air Pengairan Srono. ”Dulu dam ini kumuh, apalagi lingkungan sekitarnya, Pak,” kata Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo.

Kebetulan Sabtu kemarin saya dan Pak Guntur cukup lama di Dam Gembleng. Berbaur bersama ratusan peserta lomba foto ”Manusia dan Air”. Lomba foto on the spot itu kolaborasi Dinas Pengairan bersama Jawa Pos Radar Banyuwangi. Bukan hanya fotografer dari Bumi Blambangan. Pesertanya juga datang dari berbagai daerah.

Panitia tidak salah memilih Dam Gembleng sebagai spot lomba foto. Lokasinya sangat menantang. Selain damnya sendiri, lingkungan di sekitar juga menyimpan banyak angle foto. Ada aliran sungai, persawahan, dan kebonan. Juga fungsi sosial. Yakni, sebagai destinasi wisata baru. Saat lomba foto Sabtu kemarin, banyak warga yang berwisata di Dam Gembleng. Proses penambahan fungsi itulah yang membuat juri memenangkan Dam Gembleng sebagai jawara lomba antardam se-Banyuwangi, beberapa waktu lalu. Bocoran yang saya terima dari Pak Guntur seperti itu.

Dam Gembleng bukan dam biasa. Ia termasuk salah satu dam tua yang ada di kota The Sunrise of Java ini. Umurnya lebih tua dari orang tua saya sekali pun. Catatan sejarah menulis, bendungan-bendungan di Kota Gandrung sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Selain sangat kokoh, bendungan atau dam itu dibangun dengan arsitektur antik dan klasik. Setidaknya ada tiga dam yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Dam Gembleng dan Dam Karangdoro yang tertua. Keduanya dibangun pada 1921. Lalu menyusul Dam Sasak Gantung dibangun pada 1926. Ketiga dam itu masih kokoh. Hingga kini. Di balik kekokohan dam-dam itu terkubur keringat dan darah. Konon, pembangunannya melibatkan warga sekitar. Mereka tidak diupah karena statusnya sebagai tahanan Belanda. Nasib mereka kurang lebih sama dengan sesama para pekerja yang ’dipaksa’ membangun dua terowongan di Gumitir. Bukan upah yang diterima, tapi lebih banyak menerima siksa. Terutama ketika tentara Belanda melihat kerjanya mulai lelet.

Kembali ke Dam Gembleng. Dam yang satu itu berada di perbatasan dua desa. Yakni Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi dan Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Srono. Dua desa itu dikenal sangat subur. Berkat suplai air yang melimpah dari Dam Gembleng. Total ada sekitar 1.735 hektare sawah yang menikmati suplai air dari Dam Gembleng.

Sekali lagi, terlepas dari fungsi wajibnya menyuplai air, Dam Gembleng sudah bertransformasi menjadi destinasi wisata baru. setiap Sabtu dan Minggu banyak masyarakat yang berkunjung. Mereka membawa serta anaknya. Melihat dan menikmati pemandangan asri. Yang terhampar di persawahan dan tumbuh-tumbuhan yang mengelilingi Dam Gembleng. Fungsi baru itu membuat Dam Gembleng kini bersih dari si gemblung. Dulu sebelum tertata, Dam Gembleng tampak sepi dan gelap. Informasi yang sampai ke saya, para gemblung ketika itu menjadikan Dam Gembleng spot paling favorit untuk mabuk berjamaah. Tapi, sekarang itu tidak akan terjadi lagi. Si gemblung sudah terusir dari Dam Gembleng.

Saya bersyukur bisa keliling Dam Gembleng. Menikmati keindahannya. Sekaligus merasakan semangat perubahannya. Dari yang sederhana menjadi jujugan wisata. Sayang sekali, sampai menjelang pulang saya tidak berhasil menemukan tetenger Dam Gembleng. Yakni, nama dan tahun pembuatannya. Umumnya, untuk bangunan di zaman Belanda tetenger-nya berupa batu besar. Kalau bisa ditemukan kembali batu besar bertuliskan tahun pembuatan 1921 dan dipasang di salah satu sudutnya, niscaya Dam Gembleng akan makin ciamik. Bisa menjadi jujugan wisata sejarah yang sesungguhnya. Saya yakin tim Pak Guntur bisa melacak tetenger itu. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com/c1)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia