Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Man Nahnu

Bandara Banyuwangi

Oleh: Samsudin Adlawi

25 Oktober 2017, 07: 40: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Bandara Banyuwangi

Share this          

BANDARA Blimbingsari berganti nama. Menjadi Bandara Banyuwangi. Sesuai keputusan Menteri Perhubungan Nomor 830 Tahun 2017.

Dari perspektif bisnis, pergantian nama itu sangat jitu. Cerdas. Memanfaatkan nama Banyuwangi yang lagi hot. Jadi bahan perbincangan orang sak Indonesia. Bahkan dunia. Banyuwangi sangat seksi. Membuat banyak pihak ingin mengunjunginya.

Banyak pertemuan besar digelar di Bumi Blambangan. Mulai hanya sekadar acara gathering. Sampai yang serius: seminar. Seperti yang dilakukan keluarga besar Pelindo III. Seribuan orang Pelindo III akhir pekan kemarin kumpul di Banyuwangi. Sebelumnya, malah keluarga besar kehakiman yang bedol kantor ke kota The Sunrise of Java.

Itu baru sebagian kecil contoh. Masih banyak rombongan superjumbo yang datang ke Kota Gandrung. Yang kalau disebutkan semua malah membuat tulisan ini tidak menarik.

Pendek kata, Banyuwangi sudah menjadi brand. Pengaruhnya sangat kuat. Berbeda dengan Blimbingsari. Meski sudah menjadi kecamatan, Blimbingsari tetap terasa asing. Orang tahunya Banyuwangi. Bukan Blimbingsari. Mendengar nama Bandara Blimbingasri orang masih bertanya-tanya: di mana bandara itu? Di Indonesia ataukah luar negeri? Lain halnya ketika disebut nama Bandara Banyuwangi. Orang akan langsung nyambung: ”Wah, Banyuwangi ya”. Hebat daerah itu. Semua orang membincangkannya. Saya penasaran. Ingin ke sana. Melihat langsung perkembangannya. Dlsb. Dst.

Dipilihnya nama Bandara Banyuwangi sekaligus mengakhiri spekulasi yang lama tak menemui ujungnya. Dulu sempat muncul perbedaan seputar nama bandara. Tepatnya di zaman Bupati Samsul Hadi. Ada beberapa usulan. Mulai nama pahlawan sampai nama daerah. Masing-masing usulan punya pendukung yang militan. Ingin usulannya yang diterima. Nama-nama yang diusulkan baik semua. Antara lain: Minakjinggo, Mas Alit, Sidopekso, Sritanjung, Surati, dan Agung Wilis. Mereka orang-orang hebat. Dan diakui kepahlawannnya oleh warga Banyuwangi. Nah, dipilihnya nama Bandara Banyuwangi tidak mengalahkan nama-nama itu. Justru sebaliknya. Malah membuat mereka jadi pemenang semua. Tidak saling mengalahkan. Di antara mereka tidak ada yang kalah dan menang.

Tapi tidak salah juga bila ada yang ngeyel: biasanya bandara kan menggunakan nama pahlawan. Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Juanda di Sidoarjo-Surabaya, Ngurah Rai di Bali, Notohadinegoro di Jember. Dan masih banyak yang lainnya. Itu benar. Tidak bisa dibantah. Namun harap diketahui, ada banyak bandara di Indonesia memakai nama kota. Tempat bandara tersebut berada. Seperti Bandara Pangkalpinang di Kota Pangkalpinang. Lalu Bandara Sentani di Jayapura. Ada juga Bandara Sepinggan di Balikpapan. Kota Tarakan punya bandara bernama Bandara Tarakan. Bandara Timika di Tembagapura dan Bandara Wamena di Jayapura. Di Pulau Bintan ada bandara. Namanya Bandara Bintan.

Fakta juga bicara. Dari sepuluh bandara terbaik di dunia, beberapa di antaranya malah menggunakan nama kota tempat bandaranya berada. Bandara paling indah di Tiongkok (bahkan dunia) berada di Ibukota Beijing. Namanya Beijing International Airport. Lalu Hong Kong International Airport (HKIA) lebih akrab dengan sebutan Chek Lap Kok Airport. Atau Bandara Chek Lap Kok. Sebutan itu merujuk kepada lokasi bandaranya: di Pulau Chek Lap Kok. Sejak dibuka pada 1998 silam, Bandara Chek Lap Kok menjadi salah satu pusat transit penerbangan penting di dunia. Karena posisinya sangat strategis. Selain itu, bandaranya sangat besar. Berkapasitas 45 juta penumpang!

Berpindah ke semenajung Korea. Mampir ke Incheon International Airport di Korea Selatan. Incheon bukan nama orang. Apalagi pahlawan. Incheon merupakan nama kota penting di Korsel. Ingat Asean Games 2014 diselenggarakan di mana? Di Incheon. Salah satu kota andalan destinasi wisata Korsel. Incheon punya kesenian, hiburan, mode, sejarah, dan alam. Incheon memiliki segalanya. Dan makin terkenal karena namanya menjadi nama bandara penting di Korsel.

Di Amerika Serikat juga ada bandara menggunakan nama kota. Yakni Denver International Airport. Bandara terluas ketiga di dunia: luasnya 140 km2! Denver merupakan kota terbesar di negara bagian Colorado Amerika Serikat.

Mudah-mudahan penggantian nama dari Bandara Blimbingsari menjadi Bandara Banyuwangi membawa berkah. Banyuwangi makin dikenal di penjuru dunia. Dan sebagai gol utamanya: masyarakat Banyuwangi ikut terkerek hidupnya. Makin sejahtera hidupnya. Saya pun tidak malu mengakui. Ikut bangga dengan nama Bandara Banyuwangi. Meski begitu masih ada yang ngganjel di hati. Ganjalan itu terkait dengan IATA (International Air Transport Association). Alias kode bandara dalam bahasa Osengnya. Meski sudah berganti nama menjadi Bandara Banyuwangi, kode bandara atau IATA-nya tetap pakai BWX. Bukan BWI. Sebab, kode bandara BWI sudah lebih dulu dipakai Bandara Baltimore di Amerika Serikat.

BWX terasa asing. Sebab, BWI sudah sangat terkenal. Dengan hanya menyebut BWI orang langsung paham. Itu sebutan untuk Banyuwangi. Seperti halnya ketika melihat kode bandara SUB, orang langsung ingat Surabaya. Atau kode bandara CGK yang muncul kali pertama di benak adalah Cengkareng. Tempat bandara internasional Soekarno-Hatta berada. Ya mau bagaimana lagi. Bandara Banyuwangi kan baru seumur jagung. Jadi harus mengalah ketika kode bandara BWI (meski sangat identik dengan Banyuwangi) dipakai Baltimore AS yang usianya jauh lebih tua. Yang bisa saya lakukan hanya satu. Membiasakan diri menyebut BWX. Agar kelihatan sering naik pesawat. Supaya terbiasa. Terutama saat menjawab pertanyaan dari staf maskapai.

Staf maskapai: “Tujuan ke mana, Pak?”

Saya: “BWX”

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia