Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Penelitian Bappeda-IAI Ibrahimy

Garda Ampuh Upaya Jitu Angkat Anak Putus Sekolah

13 Oktober 2017, 08: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Garda Ampuh Upaya Jitu Angkat Anak Putus Sekolah

Share this          

GARDA Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah) adalah program lanjutan dari Gempita Perpus (Gerakan Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Murid Putus sekolah) sebagai salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mengentaskan anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Hal ini didasari oleh angka anak tidak sekolah (ATS) dari Dinas Pendidikan di Kabupaten Banyuwangi yang mencapai 7.567 anak pada tahun 2015.

Pada awalnya Garda Ampuh ditujukan untuk menekan angka putus sekolah di kalangan anak muda usia produktif, namun saat ini juga mengakomodasi usia produktif non-usia sekolah. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus berupaya untuk mendukung program Garda Ampuh dengan menyekolahkan kembali masyarakat usia sekolah yang bebas buta huruf baik di pendidikan formal maupun nonformal, program siswa asuh sebaya (SAS), program keaksaraan usaha mandiri (KUM) untuk masyarakat yang bebas buta aksara di atas usia produktif, program kursus bahasa asing, dan program smart kampung.

Dasar hukum program tersebut adalah Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 4 Tahun 2014 tentang Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (GEMPITA-PERPUS) Kabupaten Banyuwangi. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program Garda Ampuh dan faktor apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan program Garda Ampuh pendidikan kesetaraan paket A, B, C di Kabupaten Banyuwangi, Bappeda Kab. Banyuwangi melakukan penelitian bekerja sama dengan Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi yang beranggota Zaki Al Mubarok MSi, Ahmad Izza Muttaqin MPdI, dan Emi Hidayat MSi.

Ketua Tim peneliti Zaki Al Mubarok MSi menyampaikan hasil penelitian bahwa terdapat beberapa faktor yang berpengaruh  terhadap keberhasilan dan keberlangsungan Garda Ampuh di antaranya faktor internal berupa data anak putus sekolah, koordinasi dengan stakeholder, pembiayaan (penganggaran), partisipasi peserta didik, sarana prasarana pembelajaran serta faktor eksternal berupa stigma bahwa PKBM lembaga tidak berkualitas, motivasi orang tua peserta didik,  minimnya sarana promosi dan sosialisasi program Garda Ampuh. ”Pelaksanaan program Garda Ampuh secara garis besar berjalan baik, efektif, dan efisien. Indikatornya adalah program Garda Ampuh direncanakan secara matang dengan basis data by name by address yang real time,” ujar Zaky

Pada tahap sosialisasi, Bupati Banyuwangi H Abdullah Azwar Anas secara langsung me-launching program Garda Ampuh pada tanggal 2 Mei 2016 yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016 di Taman Blambangan.

Pada tahap pencarian data, pada tahun pelajaran 2016/2017 ditemukan sebanyak 5.243 anak putus sekolah, dan disekolahkan kembali ke pendidikan formal 1.479 anak dan di pendidikan nonformal 3.764 anak.

Zaky menambahkan, pada tahap pembelajaran didapati lembaga pendidikan yang melayani peserta didik program Garda Ampuh pendidikan formal sebanyak 14 lembaga, PKBM 24 lembaga, LKP 5 lembaga, dan Pokjar 6 lembaga. Sedangkan jumlah peserta didik program Garda Ampuh berdasar jenis kelamin adalah 40.21% adalah laki-laki, dan 59.79% adalah perempuan. Jenis putus sekolah sebanyak 1.881 anak adalah putus sekolah dasar/sederajat, SMP/sederajat sebanyak 1.281 anak, 225 anak SMA/sederajat, SMK sebanyak 75 anak. Tujuan lembaga rekomendasi program Garda Ampuh 134 anak meneruskan ke pendidikan formal dan 2.534 orang lebih memilih pendidikan kesetaraan Paket A Paket B dan Paket C. Sedangkan yang meneruskan ke jenjang formal, 15 anak ke sekolah dasar/sederajat, 31 anak ke SMP/sederajat, SMA/sederajat adalah 98 anak. Adapun peserta program Garda Ampuh yang meneruskan pendidikan nonformal/kesetaraan,551 anak meneruskan ke Paket A, 1.072 anak ke Paket B dan ke jenjang Paket C adalah 911 anak. Output Garda Ampuh yang  mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) tahun pelajaran 2016/2017, Paket A 123 anak, Paket B 432 anak, dan Paket C 1219 anak.

”Pada tahap evaluasi didapati kelebihan program Garda Ampuh adalah program ini sudah relatif bisa diterima oleh masyarakat luas, bersifat masif karena melibatkan banyak stakeholder, masyarakat sangat antusias, tingkat kehadiran dalam setiap pembelajarannya relatif tinggi, peserta didik/warga belajar yang tidak mampu tidak dipungut biaya alias gratis, sedangkan yang mampu diminta bersedekah (siswa asuh sebaya),” kata Zaky.

Sementara itu Ir Prastyo Hadi, Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappeda mengatakan bahwa program Garda Ampuh disambut baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah menjadikan program tersebut sebagai embrio program nasional Pendataan ATS (Anak Tidak Sekolah) dengan batas usia 6-21 tahun. Secara umum hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya keefektifan program Garda Ampuh dengan bukti banyaknya anak tidak sekolah yang berhasil dientaskan. Program Garda Ampuh juga memenuhi asas efisien dalam pola penanganan anak putus sekolah dengan adanya Perbub Nomor 4 Tahun 2014. ”Namun demikian perlu adanya peningkatan kualitas layanan program agar dampaknya dan nilai kemanfaatannya semakin bertambah dengan melakukan inovasi dalam promosi dan sosialisasi agar masyarakat awam semakin mengetahui Program Garda Ampuh dan ikut serta bersama-sama menyukseskan dan mengawal program Garda Ampuh,” ujar Prastyo.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia