Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Menjelajah Peninggalan Bersejarah (9)

Memandangi Asia sekaligus Memunggungi Eropa

03 Oktober 2017, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

NAIK FERY:  Penulis duduk di geladak belakang feri membelakangi Istanbul bagian Asia.

NAIK FERY: Penulis duduk di geladak belakang feri membelakangi Istanbul bagian Asia. (JAWA POS PHOTO)

Share this          

Satu lagi tempat bersejarah di Turki. Letaknya tidak di daratan. Juga bukan berupa reruntuhan bangunan kuno. Melainkan di air. Yakni, Selat Bosphorus.

Di tengah Selat Bosphorus kita bisa menikmati dua keindahan sekaligus: Asia dan Eropa. Di sisi yang berlawanan. Bosphorus memisahkan Turki bagian Eropa dengan Turki bagian Asia. Selat itu juga menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Laut Marmara terhubung dengan Laut Aegea. Jalur yang digunakan Achilles menyerang Troy di Asia kecil. Sejak zaman kejayaan Yunani sebelum era Byzantium dan Usmaniyah, Bosphorus telah menjadi bandar rempah yang ramai.

Selat Bosphorus lumayan panjang: 30 km. Lebar maksimalnya 3.700 meter. Dan minimalnya 750 meter. Dengan kedalaman dari 36 meter sampai 124 meter.

Selat Bosphorus menjadi saksi bisu. Ketika Al-Fatih (Sultan Muhammad Al-Fatih) menaklukkan Konstantinopel. Pahlawan Turki itu masuk lewat Selat Bosphorus. Namun, pasukan Romawi kaya pengalaman perang. Mereka tidak membiarkan begitu saja rencana serangan Al-Fatih lewat selat.

Mereka pasang rantai-rantai besar. Melintangi Selat Bosphorus. Kapal-kapal perang Al-Fatih pun tidak bisa memasukinya. Tapi Al-Fatih tak kalah cerdas. Di tengah malam buta, Al-Fatih bersama pasukannya memindahkan kapal-kapal perangnya. Jumlahnya 70 kapal. Melintasi pagar-pagar rantai bawah laut. Dengan cara mengangkat kapal-kapal mereka ke daratan.

Dari atas dek feri Bosphorus Cruise, saya mencoba flash back. Membayangkan Al-Fatih dan pasukannya sedang menaikkan dan menarik kapal-kapal perangnya ke daratan. Satu-satu. Hingga melewati tempat rantai-rantai bawah laut yang dipasang pasukan Romawi.

Begitu sudah melewati rantai, kapal-kapal itu diturunkan lagi ke laut. Perjuangan yang luar biasa. Dan strategi yang sangat cerdas. Berkat strategi jitu tersebut, Al-Fatih dan pasukannya berhasil mengalahkan Konstantinopel. Yakni menyerang titik terlemah benteng keliling Romawi. Sepanjang 21 km.

Benteng itu bukan hanya sangat panjang. Tapi juga tebal sekali. Terdiri dari dua lapis. Lapis pertama setebal 2 meter. Sedangkan lapis keduanya setebal 4 meter. Sangat mustahil berhasil menyerang lewat tembok tebal itu. Makanya pasukan Romawi sangat pede. Sebaliknya, mereka lengah. Lalai pada kemungkinan serangan lainnya. Yakni strategi Al-Fatih: dengan cara mengangkat kapal-kapal perang melalui daratan.

Lama sekali saya tenggelam dalam renungan. Di atas dek feri yang mondar-mandir di Selat Bosphorus. Memikirkan kembali kehebatan Al-Fatih dan pasukannya. Sambil memperhatikan Benteng Romawi. Yang masih berdiri kokoh di pinggir selat. Juga Istana Topkapi yang tampak di kejauhan. Di bagian Istanbul Eropa.

Dalam catatan sejarah, Bosphorus juga menjadi saksi selama ribuan tahun Istanbul sebagai tempat yang sangat penting. Menjadi Ibu Kota Kekaisaran Byzantium. Lalu berganti jadi pusat Kekhalifahan Usmani dan Republik Turki sebelum dipindah ke Ankara pada 1937 oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Rasa penasaran membuat saya tergesa-gesa. Lupa mencatat nama feri yang saya naiki. Termasuk harga tiketnya. Sepintas saya lihat di loket ada tulisan 15 Lira. Suasananya ramai sekali sih. Begitu sampai di dermaga sudah banyak sekali orang. Yang hendak naik. Juga turun dari feri-feri lainnya. Yang berjajar di sebelah.

Sepanjang perjalanan angin sangat kuat memeluk. Tapi udaranya bersih. Air selatnya juga. Tak ada sampah. Walau selembar kertas. Puluhan wisatawan terlihat duduk. Di deretan bangku feri. Bersantai menikmati pemandangan di kanan kiri selat. Tampak juga wisatawan lokal. Dari penjuru Turki. Berbaur dengan wisatawan mancanegara.

Semua penumpang antusias menikmati hamparan pemandangan yang indah. Seperti beragam landmark dan bangunan dengan arsitektur khas Eropa dan Asia. Bahkan Mediterania. ”Bangunan-bangunan di Turki sisi Asia lebih modern, Yang sisi Eropa lebih kuno,” kata Ali Ekinci, yang mendampingi saya.

Dari feri, saya juga melihat keindahan Jembatan Bosphorus. Yang menghubungkan Turki sisi Asia dan Turki sisi Eropa. Jembatan Bosphorus selesai dibangun pada 1988. Ketika diresmikan, jembatan tersebut menjadi jembatan gantung terpanjang ke-5 di dunia. Konon, Sekarang posisinya merosot jauh. Nangkring di urutan ke-19.

Yang terbaru. Benua Asia dan Eropa di wilayah Turki kini tidak hanya dihubungkan oleh jembatan dan kapal feri. Sebab, sejak 21 Desember 2016 sudah ada terowongan bawah Selat Bosphorus. Sepanjang 4,5 km. Tapi yang benar-benar di bawah Selat Bosphorus terowongannya hanya 1 km. Alhamdulillah, saya sudah mencoba ketiga penghubung benua Asia dan Eropa di Turki: jembatan, feri, dan terowongan. (habis/c1)

DUA TURKI:  Kota Istanbul bagian Asia terlihat di seberang Selat Bosphorus.

DUA TURKI: Kota Istanbul bagian Asia terlihat di seberang Selat Bosphorus. (SAMSUDIN ADLAWI/JAWA POS)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia