Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Menjelajah Peninggalan Bersejarah (8)

Merasakan Sensasi Tinggal dalam Rumah Bawah Tanah

02 Oktober 2017, 17: 53: 11 WIB | editor : Ali Sodiqin

HARUS MENUNDUK: Abdul Aziz, Direktur Radar Semarang (kiri) keluar dari pintu rumah bawah tanah, sementara Ali Ekinci (kanan) memegang pintunya.

HARUS MENUNDUK: Abdul Aziz, Direktur Radar Semarang (kiri) keluar dari pintu rumah bawah tanah, sementara Ali Ekinci (kanan) memegang pintunya. (SAMSUDIN ADLAWI/JAWA POS)

Share this          

PANTAS saja Kapadokya menjadi jujugan wisatawan yang melancong ke Turki. Terutama bagi mereka yang suka pada peninggalan kuno. Sejarah masa silam.

Selain Pasabag Valley dan Camel Valley (baca tulisan saya kemarin), Kapadokya juga punya Saratli. Sebuah kota kecil. Berada di bawah tanah. Di Kapadokya ada 200 lebih Saratli. Mampu menampung 25 ribu orang. ”Kota bawah tanah ini dibuat sekitar 2500 tahun silam,” kata Ali Ekinci, pemandu saya selama menjelajah Turki.

Saratli dibuat oleh warga setempat dan kaum Nasrani. Untuk menghindari kejaran pasukan Romawi. Menghindari peperangan. Dan kejaran musuh. Mereka bisa tinggal di rumah-rumah bawah tanah itu dalam waktu lumayan lama. Bisa dalam hitungan bulan. Bisa juga bertahun-tahun. Tergantung situasi di luar. ”Para perempuan dan anak-anak sembunyi dalam rumah bawah ini saat perang,” tandas Ali.

Begitu sampai di kawasan Saratli saya tertegun sejenak. Lalu mengikuti Ali: masuk ke dalam rumah bawah tanah. Pintunya tidak lebar. Hanya cukup untuk satu orang. Selain sempit, pintu masuknya berupa lorong itu juga menurun. Saat masuk badan harus membungkuk. Atap lorong masuknya pendek. Tak ada daun pintu dari kayu atau besi. Pintu masuknya dari batu. Sama dengan dinding dan atapnya. Daun pintu dari batu itu bentuknya bulat. Berdiameter satu meter. Tebal sekitar 25 centimeter. Ada lubang di tengahnya. Selebar gagang tombak. ”Kalau ada musuh yang akan membuka paksa pintu batu ini, kaum lelaki yang ada di dalam akan menombak atau menusuknya dengan pedang dari lubang pintu ini,” papar Ali.

Pintu batu itu menggunakan teknologi sederhana. Bibir pintu sebelah kanan dilubangi selebar daun pintu yang bulat. Untuk menutup pintu cukup mendorongnya.

Setelah berjalan sekitar 15 langkah sambil menunduk, saya sampai di sebuah ruangan. Tidak besar. Sekitar 4 x 3 meter persegi. Ruangan pertama itu ternyata dapur. Ditaruh di ujung depan supaya asapnya langsung keluar saat masak. Tidak mulek ke seluruh ruangan lainnya.

Dari dapur saya dan rombongan masuk lebih dalam lagi. Tentu saja dengan posisi jalan masih menunduk. Sampailah di ruangan kedua. Khusus untuk kandang binatang. Yang dibawa pengungsi sembunyi. Luasnya kurang lebih sama dengan ruang pertama.

Kemudian kami menyusuri lorong lagi. Menuju ruang ketiga. Masih berjalan menunduk. Tapi lebih pelan langkahnya. Sebab sempit dan menurun. Dan mulai agak sulit bernapas. Baru plong setelah sampai di ruang keempat. Yakni ruang untuk menyimpan sayur, buah, dan bekal yang lainnya. Meski disimpan dalam waktu lama, sayur, buah, dan perbekalan yang lain tidak akan busuk. Karena suhu di dalam sangat sejuk. Tidak terpengaruh suhu di luar. Meski di luar sedang musim panas atau musim dingin bersalju. Suhu di dalam tetap sejuk. Saya penasaran. Saya mencari-cari gerangan apa yang membuat suhu dalam rumah bawah tanah itu sejuk. Akhirnya ketemu juga. Saya melihat ada lubang seukuran lepek (alas cangkir) di salah satu atap rumah batu bawah tanah. ”Ruangan ini juga berfungsi sebagai gereja atau tempat berdoa. Itu lihat di dindingnya ada tanda salib besar,” kata Ali menunjuk ke salah ke dinding dekat pintu.

Jalan menuju ruang keempat lebih lebar. Juga lebih panjang. Bisa berjalan berdampingan tiga orang. Dan tidak usah berjalan menunduk lagi. Ruang keempat untuk tempat tinggal. Bisa menampung ribuan orang.

Meski rumah-rumah bawah tanah merupakan batu yang dilubangi, tapi di dalamnya ada tempat menyimpan air. Sejenis sumur. Itu ada di ruang kelima. Saya sempat melongok ke ”sumur” itu. Kelihatan airnya. Tepat di bawah terali besi. Agar orang tidak tercebur ke dalam.

Ruang kelima itu terhubung langsung ke pintu keluar. Berada di 45 derajat dari pintu masuk. Sambil menyusuri ruangan rumah bawah tanah saya terus berpikir. Bagaimana caranya membuat rumah perlindungan sehebat itu. Dan menghabiskan waktu berapa lama. Pasti lama sekali. Apalagi kata Ali, ruang dan jalan rumah bawah tanah itu digali secara manual. Pakai alat seadanya. ”Ini salah satu alatnya,” tukas Ali sambil menunjukkan ganco. Alat yang sama digunakan masyarakat Indonesia untuk menggali tanah keras dan beton.

Lorong dan pintu dalam rumah bawah tanah ternyata bercabang-cabang. Di dinding dekat pintu setiap ruangan saya melihat ada lorong. Ukuran pintunya lebih kecil. Saat ada musuh atau terjadi peperangan, warga bisa masuk ke dalam rumah bawah tanah. Lewat pintu terdekat dengan desanya. Lalu menyusuri lorong yang bercabang ke mana-mana. Sesuai yang diinginkan. Ketika ada musuh mengejar sampai ke dalam rumah bawah tanah, para pengungsi dengan cepat akan mematikan semua lampu yang menempel di dinding lorong. Lampu-lampu itu ditaruh cerukan dinding-dinding lorong. ”Lampunya dinyalakan dengan minyak zaitun,” jelas Ali.

Tak terasa hampir satu jam saya menyusuri rumah-rumah di kota bawah tanah. Merasakan sensasi tinggal di dalamnya. Mencoba merasakan ketakutan yang dialami penghuninya 2500 tahun silam. Hidup berdesak-desakan dalam rumah bawah tanah. Perasaan itu terbawa sampai menjelang pintu keluar. Begitu menghirup udara bebas lagi, tak terlihat peperangan atau musuh yang sedang mengintai. Saya hanya melihat toko kelontong yang menjual berbagai suvenir khas Kapadokya. Khususnya Saratli. Rumah di kota bawah tanah.(bersambung/c1)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia