Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Menjelajah Peninggalan Bersejarah (6)

Ziarah ke Makam Guru Sufi dan Sastrawan Terkemuka

01 Oktober 2017, 09: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JAWA POS PHOTO

AGUNG: Masjid Rumi yang di dalamnya ada makam guru sufi itu sekarang jadi museum.

Share this          

Perjalanan dari Bursa menuju Pamukkale memang bikin pantat panas. Ternyata itu belum seberapa. Dibanding perjalanan lanjutan dari Pamukkale ke Kapadokya (Cappadocia). Kalau jarak Bursa ke Pamukkale 550 km. Jarak Pamukkale ke Kapadokya Lebih jauh lagi: 650 km! Bokong lebih panas lagi.

Ditambah perjalanan Istanbul-Bursa yang 165 km, total perjalanan saya sudah mencapai 1.350 km! Itu baru separo perjalanan saya menjelajahi Turki yang 2.800 km.

Setelah lima jam melaju, ketika perjalanan sudah menempuh jarak 405 km, kami berhenti. Mampir sebentar di Kota Konya. Bukan sekadar untuk relaksasi. Tapi ziarah ke makam Maulana Jalaluddin Rumi.

Begitu memasuki kompleks pemakaman guru para sufi itu, lelah yang mendera lenyap seketika. Sebab, ziarah ke makam Rumi memang jadi tujuan utama saya ke Turki. Dan betul kata banyak orang: “ke Turki tak lengkap sebelum singgah di Konya”. Ziarah ke makam Rumi. Saya merasakan sensasi itu. Makam yang indah. Dinding dan pilar-pilarnya penuh dengan kaligrafi indah. Dipadu warna merah, kuning, dan hijau. Khas Islam dan Turki. Menjadi lengkap perkenalan saya dengan Rumi. Lewat buku-bukunya yang saya baca.

Makam Rumi berada di dalam masjid. Tapi masjid itu telah beralih fungsi. Jadi museum. Sejak pemerintahan sekuler Mustafa Kemal Ataturk. Sebelum masuk museum Rumi, saya wudu dulu di depan museum. Seperti pengunjung muslim lainnya. Wisatawan nonmuslim tidak perlu wudu. Cukup berpakaian sopan. Menutup rambut bagi yang perempuan. Pakai apa saja. Tidak harus jilbab.

Setelah wudu lalu ambil kresek yang tersedia di pintu masuk. Kresek itu bukan untuk membungkus sepatu. Tapi untuk melapisi sepatu saat masuk ke museum. Jadi pengunjung masuk museum tetap bersepatu. Sepatu yang dibungkus kresek. Kalau lupa melepasnya saat keluar museum, akan kelihatan lucu. Seperti yang dialami Choliq Baya. Direktur Jawa Pos Radar Jember itu baru sadar kresek di sepatunya belum dilepas setelah sekian lama. Dia baru sadar setelah berada di luar kompleks museum. “Waduh, berarti tadi aku foto-foto pakai kresek ini ya,” sesalnya disambut gerrr anggota rombongan lainnya.

Aura keteduhan sangat terasa saat masuk pintu museum Rumi. Saya langsung disambut deretan makam. “Itu makam para pengikut Maulana Rumi,” kata Ali Ekinci, pendamping rombongan saya. “Makam Maulana berada di ujung sana. Yang kijingnya paling tinggi,” tambahnya.

Makam Rumi memang paling menonjol. Diselimuti kain. Di ujungnya ada tanda: lilitan serban panjang warna hijau toska di nisan bulat berwarna putih. Persis di samping makam Maulana Rumi, ada makam anaknya. Makanya dari jauh serbannya tampak ada dua.

Ali yang sangat menguasai sejarah Islam mengatakan, putra Rumi itu bernama Sultan Walad. Dia anak sulung. Juga tokoh sufi terkenal. Dialah yang mengembangkan orde sufi Whirling Dervishes (tarian sufi) yang sangat masyhur. Di seluruh dunia. Hingga kini.

Tepat di belakang makam Rumi ada satu makam lagi. Juga besar dan tinggi ukurannya. Itulah makam bapaknya Rumi. Seorang ulama besar juga. Saat hidup, mendiang menjadi guru panutan. Tempat bertanya soal agama bagi orang Konya dan orang Turki pada umumnya.

Di samping kanan makam Rumi ada ruangan. Sekitar lima meter persegi. Di situlah dulu Rumi dan pengikutnya menari tarian sufi. Sekarang sudah beralih fungsi. Menjadi museum. Senasib dengan Masjid Rumi.

Persis di tengah ruangan itu ada kotak kecil dilindungi kaca. “Di dalam kotak itu ada rambut jenggot Nabi yang tanggal,” jelas Ali.

Di sekelilingnya ada display dalam kaca juga. Di antaranya jubah dan sikke (songkok khas kaum sufi) Rumi, Alquran tulisan tangan, dan Alquran terkecil di dunia, serta kitab dan syair-syair koleksi Rumi.

Meski sudah beralih jadi museum, bangunan tempat peristirahatan terakhir Rumi tetap tidak kehilangan fungsi aslinya. Sebagai masjid. Setelah berdoa di sekitar makam Rumi, pengunjung langsung menuju ruangan di sebelah bekas arena menari sufi. Tempat itu dibuat lebih tinggi. Hanya dibatasi dengan sekat setinggi semeteran. Bisa menampung seratusan jamaah salat. Saya juga naik ke situ. Salat. Lalu meninggalkan museum Rumi.

Senasib dengan Masjid Rumi, pondok tempat Rumi mengajar juga beralih fungsi. Pondok itu ada 17 ruangan. Pintu 17 ruang itu pendek sekali. “Dibuat pendek supaya murid Rumi saat masuk menundukkan kepala. Sebagai tanda hormat kepada sang guru Rumi,” papar Ali.

Setelah tidak menjadi pesantren, 17 ruangan yang berjajar tepat berhadapan dengan museum Rumi berfungsi menjadi sekolah. Lalu, beralih menjadi bagian museum setelah Mustafa Kemal Ataturk melarang sekolah Islam di seluruh Turki. Sekarang 17 ruangan itu untuk men-display segala hal yang berkaitan dengan Rumi. Mulai kitab, Alquran, alat-alat musik untuk mengiringi tarian sufi, baju dan jubah lengkap dengan sikke Rumi, tas kulit Rumi, dan lain-lain. Di paling ujung yang dulunya dapur pesantren, kini diisi diorama Rumi sedang berbincang dengan beberapa pengikutnya. Di sebelahnya ada dua orang yang sedang menari sufi. Di dekat pintu terdapat dandang-dandang besar.  Juga peralatan dapur lainnya. Dipakai masak untuk para santri Rumi.

Makam Rumi menjadi berkah bagi Konya. Kota yang tidak jauh dari wilayah Kurdistan. Dekat perbatasan Turki-Syuriah-Irak.

Konya kini dihuni sekitar 700 ribu penduduk. Kota itu sudah dihuni sejak zaman perunggu muda. Sekitar 300 SM. Fakta menunjukkan, Konya pernah menjadi salah satu pusat perdagangan penting di jalur sutera. Karena tanah Konya sangat subur. Menjadikannya sebagai pusat industri gandum di Turki.

Kini Konya identik dengan Rumi. Devisa pun terus mengalir ke Konya. Sekitar sejuta orang dari seluruh lini datang ke Konya. Setiap tahun. Berziarah ke makam Rumi. Tokoh terkemuka tasawuf dan kesusastraan.

Sayang saya berziarah September. Bukan Desember. Andai datang pada 17 Desember saya akan beruntung. Katanya pada tanggal meninggalnya Rumi (17 Desember 1273) itu, peziarah bisa menikmati tarian sufi. Yang terkenal indah. Dan unik. (bersambung/c1)

NISAN KHAS:  Dua nisan berbalut serban biru toska menandai makam Jalaluddin Rumi dan anaknya.

NISAN KHAS: Dua nisan berbalut serban biru toska menandai makam Jalaluddin Rumi dan anaknya. (SAMSUDIN ADLAWI/JAWA POS)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia