Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Menjelajah Peninggalan Bersejarah (3)

Masjid Biru di Istanbul, Bursa Punya Masjid Hijau

28 September 2017, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TEDUH: Penulis di depan mihrab dan mimbar Masjid Hijau.

TEDUH: Penulis di depan mihrab dan mimbar Masjid Hijau. (JAWA POS FOTO)

Share this          

Dari Istanbul menuju Bursa butuh waktu sekitar 1,5 jam. Sekarang lebih cepat dibanding tiga tahun silam. Tepatnya, setelah selesai dibangun jembatan Osman Gazi. Sepanjang 2 km lebih. Disambung terowongan sepanjang 3 km lebih, jembatan itu memangkas jarak 50 km. Dulu jarak Istanbul-Bursa 190 km. Sekarang tinggal 140 km.

Bursa adalah kota terbesar keempat di Turki. Setelah Istanbul, Ankara, dan Izmir. Berada di bagian barat Turki. Luas kotanya 11.034 m2. Jumlah penduduk pada tahun 2015 sebanyak 2,34 juta jiwa.

Tercatat sebagai ibukota pertama kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) pada tahun 1326 sampai 1365. Bursa dijuluki Yesil Bursa, ‘bursa yang hijau’. Sesuai kondisi kotanya: banyak kebun dan taman yang hijau. Bahkan, Bursa termasuk kota penghasil buah terbanyak di Turki.

Kalau Istanbul punya Blue Mosque, Bursa punya Green Mosque. Masjid Hijau. Bahasa Turkinya Yesil Camii. Yesil maknanya ‘hijau’. Camii (dibaca jami) secara harfiah bermakna ‘masjid jami’. Orang Turki beda dengan kita. Mereka juga mengenal istilah mescid. Tapi sebutan itu untuk bangunan musala atau masjid kecil.

Disebut Masjid Hijau karena interior masjid didominasi warna hijau dan toska. Sama seperti Blue Mosque di Istanbul. Disebut Masjid Biru karena langit-langit dan interior dalamnya didominasi warna biru.

Masjid Hijau berdiri di sebuah bukit di kota Bursa. Masjid Hijau sering disebut Masjid Mehmed I. Merujuk kepada nama sosok yang membangunnya.

Ukuran Masjid Hijau tak sebesar Masjid Agung Bursa. Tapi, Masjid Hijau menghadirkan keindahan tersendiri. Salah satunya jejak-jejak peralihan seni bina bangunan dari era Seljuk Turki ke era Utsmaniyah-Turki. Ciri utamanya kubah besar dan menara tinggi. Di kemudian hari, itu menjadi ciri khas bangunan masjid imperium Utsmaniyah.

Masjid Hijau mulai dibangun pada 1419. Di masa pemerintahan Sultan Celebi Mehmed. Selesai hanya dalam kurun tiga tahun. Arsiteknya Haci Ivaz Pasha. Dia menghiasi karyanya dengan beraneka ragam ornamen. Pembuatannya secara handmade. Dilakukan oleh tangan-tangan kreatif para pelukis ternama di masanya. Termasuk pelukis Haci Ali dan Ilyas Ali.

Seniman ternama Mehmed Mejnun melengkapi keindahan masjid dengan kemegahan karya keramik lukisnya dan kaligrafi. Dia membuat keramik itu khusus untuk Masjid Hijau.

Mihrab Masjid Hijau cukup tinggi: 10 meter. Rancangannya sudah menggunakan bentuk cerukan ke dalam tembok. Kelihatan indah dengan ornamen Muqornas di atasnya. Menyerupai sarang lebah menggantung. Seperti stalaktit. Tapi tidak ada dua pilar besar di sisi kanan dan kirinya seperti yang tampak pada Masjid Biru dan masjid-masjid Utsmaniyah yang dibangun belakangan.

Selain mihrab, tempat muazin dan sultan juga dibuat khusus. Keramiknya digurat menggunakan tangan dengan motif bunga.

Kelebihan lain Green Mosque terletak pada denah bangunannya. Bentuknya tak lumrah. Berbentuk huruf “T” terbalik. Secara artifisial membagi ruang salat dalam masjid menjadi tiga bagian: ruang utama di sekitar mihrab dan mimbar serta empat ruangan sayap kiri dan kanan. Dipakai untuk menyidangkan perkara.

Dan untuk penuntut ilmu yang butuh tempat menginap. Di antara kedua ruang di sayap itu ada satu pancuran. Dari bahan batu pualam. Untuk berwudu. Juga untuk meredam suara dari serambi ruang sidang. Dan menyejukkan masjid saat musim panas tiba.

Sementara di atas pintu masuk ada balkon. Khusus untuk salat Sultan berikut keluarganya. Juga untuk iktikaf Sultan dan keluarga di 10 hari terakhir Ramadan. Ada dua lagi ruang kecil di kanan dan kiri lorong masuk masjid untuk jamaah masbuk.

Di kompleks Yesil juga ada Green Mausoleum. Bangunan kompleks makam Sultan Celebi Mehmed dan keluarganya. Terletak di seberang jalan dari masjid. Seperti Green Mosque, Green Mausoleum juga didominasi warna hijau. Juga diarsiteki oleh Haci Ivaz Pasha.

Mausoleum dibangun khusus untuk Sultan dan keluarganya. Karena itu, proses pembangunannya sangat detail dan apik. Semua unsur seninya memiliki keindahan cukup menawan. (bersambung)

MAUSOLEUM: Makam Sultan Celebi Mehmed I. Mausoleum dibangun khusus untuk Sultan dan keluarganya. Proses pembangunannya sangat detail dan apik. Semua unsur seninya memiliki keindahan cukup menawan.

MAUSOLEUM: Makam Sultan Celebi Mehmed I. Mausoleum dibangun khusus untuk Sultan dan keluarganya. Proses pembangunannya sangat detail dan apik. Semua unsur seninya memiliki keindahan cukup menawan. (SAMSUDIN ADLAWI/RABA)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia