Jumat, 19 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Jelajahi Peninggalan Bersejarah (2)

Dinding Masjid Dilapisi 20 Ribu Keping Keramik Biru

27 September 2017, 10: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

RASA SYUKUR: Penulis berdoa di dalam Masjid Biru setelah salat Tahiyatul Masjid.

RASA SYUKUR: Penulis berdoa di dalam Masjid Biru setelah salat Tahiyatul Masjid. (JAWA POS FOTO)

Share this          

KOTA Paris di Prancis punya landmark bernama Eiffel. Kota Istanbul Turki juga punya. Namanya: Blue Mosque. Masjid Biru.

Disebut Masjid Biru karena masjid itu berhiaskan keramik warna biru yang melapisi hampir seluruh dindingnya. Dari jauh, kubah dan menaranya juga tampak kebiruan. Tersamput warna abu-abu klasik. Selain menguarkan  keindahan, warna biru juga memancarkan keteduhan.

Masjid Biru berdiri anggun di jantung kota Turki. Dibangun oleh Sultan Ahmed I. Dari dinasti Utsmaniyah yang menguasai Turki abad ke-14.  “Sultan Ahmed I berkuasa 1603-1617,” kata Ali, saat memandu jelajah Masjid Biru.

Dikatakan, konstruksi Masjid Biru dibangun mulai 1609. Selesai dalam tujuh tahun (1616). Arsiteknya sangat terkenal di zaman itu: Mehmed Aga.

Enam menara menunjuk langit. Menambah elok Masjid Biru. Di Turki ada dua masjid bermenara enam. “Satunya berada di Adana,” jelas Ali. Enam menara itu setia menunggui kubah setinggi 43 meter. Kubah itu lumayan besar. Berdiameter 23,5 meter. Disanggah kolom beton berdiameter lima meter.

Keberadaan enam menara Masjid Biru berselimut legenda. Konon, sejatinya Sultan Amed I meminta Mehmed Aga membuat menara dari altin (‘emas’, bahasa Turki). Ternyata sang arsitek salah dengar. Dia kira Sultan Ahmed ingin punya masjid dengan enam menara. Orang Turki menyebut ‘enam’ dengan alti. Mirip sekali dengan altin.

Apa boleh buat. Terbangunlah Masjid Biru dengan enam menara. Bukan empat menara (seperti umumnya masjid) dari emas. Ketika bangunan masjid hampir jadi, Mehmed Aga merasa ketakutan. Dia mengira kepalanya bakal dipenggal oleh Sultan Ahmed. Atas kekeliruan pendengarannya. Diminta empat jadinya enam menara. Nyatanya, setelah masjidnya berdiri megah dengan enam menara yang tampak unik, Sang Sultan malah terpukau.

Tapi masalah belum selesai. Konon, gara-gara jumlah menaranya sama dengan Masjidilharam di Makkah, Sultan Ahmed dihujani kritikan tajam. Dari dalam dan luar. Sampai akhirnya dia menemukan solusi jitu: menyumbang biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidilharam.

Saat masuk dari pintu gerbang barat, saya melihat ada rantai besi cukup berat melintang. Ternyata rantai besi itu ada sejak dulu. Di masa lalu, hanya Sultan Ahmed I yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda. Rantai itu dipasang agar Sultan menundukkan kepalanya saat melintas masuk. Agar kepalanya tak terantuk. Itu simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi.

Berada di kompleks Masjid Biru serasa sedang bertamasya. Menikmati keindahan arsitektur bernilai seni tinggi. Saat masuk ke pelataran harus melewati taman bunga yang indah. Pepohonan rindang berdiri kukuh, melindungi taman bunga tersebut. Lalu pengunjung disambut deretan tempat wudu di sisi depan masjid. Setelah wudu saya masuk ke dalam kompleks masjid.

Sebagai penghormatan, saat masuk ke masjid semua wisatawan diharuskan berpakaian sopan. Yang perempuan harus mengenakan kerudung. Ada penjaga di depan pintu yang selalu mengingatkan pengunjung yang lupa pakai kerudung. Begitu melewati pintu masuk, saya langsung berjalan ke saf depan dan melakukan salat Tahiyatul Masjid.

Alhamdulillah. Saya sujud lama sekali. Menumpahkan rasa syukur: bisa melihat kemegahan Masjid Biru. Bisa merasakan aura kehebatan arsitekturnya. Bisa merasakan visi pemimpin Islam ketika itu dalam mengagungkan kebesaran agamanya.

Pengunjung yang tidak  melakukan salat dilarang merangsek sampai saf depan. Tidak boleh melewati batas yang ditetapkan. Beberapa meter dari pintu masuk masjid. Mereka hanya diizinkan menikmati keindahan dalam masjid dari saf belakang.

Kalau dari luar hanya tampak menara dan kubahnya yang indah, begitu masuk ke dalam masjid pemandangannya lebih dahsyat. Tampak biru. “Interior  dalam masjid dihiasi 20 ribu keping keramik. Semua berwarna biru,” papar Ali yang asli Turki.

Keramik itu cukup istimewa. Diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik. Sebuah kawasan di Turki yang menghasilkan keramik nomor wahid. Bukan hanya warna biru. Tapi juga hijau, ungu, dan putih.

Keramik yang merimbuni dinding Masjid Biru dari beragam motif. Ada motif daun tulip, mawar, anggur, dan bunga delima. Juga motif-motif geometris. Bukan hanya keramiknya. Karpet yang menutup lantai Masjid Biru tak kalah istimewa. Terbuat dari sutera. Diproduksi di tempat pemintalan sutera terbaik. Turki memang sangat terkenal dengan karpetnya.

Lampu-lampu minyak dari kristal produk impor menambah anggun Masjid Biru. Lampu itu menggantung. Tepat di bawah kubah raksasa yang penuh kaligrafi. Barang-barang dan hadiah berharga juga tersimpan di dalam masjid. Salah satunya Alquran bertulisan tangan.

Yang tak kalah menakjubkan adalah mihrabnya. Tempat imam memimpin salat. Terbuat dari marmer yang dipahat hiasan stalaktit. Mihrab itu berada di kiri mimbar yang tinggi sekali. Banyak sekali anak tangganya.

Masjid Biru tampaknya didesain sedemikian rupa. Dalam kondisi paling penuh sekalipun, semua jamaah tetap bisa melihat dan mendengar khatib.

Yang menarik adalah motivasi Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru. “Tujuannya sangat nasionalis,” tutur Ali. Yakni, menandingi bangunan Hagia Sophia. Bangunan yang berada satu blok dengan Masjid Biru itu buatan kaisar Constantinopel dari Byzantium.

Sebelum jatuh ke daulat Turki Utsmaniyah pada 1453 M, Hagia Sophia dulunya gereja Byzantium. Arsitekturnya juga indah sekali. Pertama dibangun sebagai katedral. Lalu diubah dan difungsikan menjadi masjid selama 500 tahun. Tapi sejak pemerintahan sekuler Republik Turki berkuasa (Mustafa Kemal Attatruk), Hagia Shopia atau Aya Sofya beralih fungsi menjadi museum. Hingga kini.

Waduh, saya lupa mengukur luas Masjid Biru. Yang pasti sangat besar bangunannya. Sebagai gambaran saja, Masjid Biru memiliki 260 jendela. Silakan hitung sendiri. Kira-kira berapa luas bangunan dengan 260 jendela. Hahaha... (bersambung)

ANGGUN: Masjid Biru dipotret dari gerbang utama.

ANGGUN: Masjid Biru dipotret dari gerbang utama. (SAMSUDIN ADLAWI/RABA)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia