Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon-featured
Man Nahnu
Ke Turki, Jelajahi Peninggalan Bersejarah (1)

Melihat Pedang Rasulullah di Istana Topkapi

26 September 2017, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

500 TAHUN: Inilah pohon yang di taman Sultan Mehmet II pertama kali di Istana Topkapi.

500 TAHUN: Inilah pohon yang di taman Sultan Mehmet II pertama kali di Istana Topkapi. (JAWA POS FOTO)

Share this          

Dua belas jam duduk di dalam pesawat, pantat rasanya panas. Dan pegal. Begitu turun dari bandara Ataturk di Istanbul, Turki, lelah langsung lenyap dibawa terbang suhu 17 derajat yang menyambut. Sejuk sekali.

Berkunjung ke Turki di akhir musim gugur seperti sekarang, warna Turki menjadi keemasan. Dedaunan di taman kota mulai menghijau. Dimulai dari bandara Turki, saya bersama rombongan pimpinan Jawa Pos Radar akan menyusuri beberapa kota bersejarah. Jaraknya cukup juauuuh:  2.800 km!

Akan kami tempuh dalam tujuh hari. Tidak apa-apa. Sudah telanjur sampai di Turki. Negeri yang memiliki 85 ribu masjid. Sekali melangkah, pantang surut ke belakang. Meski, tentu saja, akan sangat melelahkan.

Dari bandara kami mampir dulu ke Warung Nusantara. Sarapan. Menikmati nasi gurih, mi, telur dadar, dan ayam bumbu bali. Sambil melihat lalu lalang trem.

Kemudian lanjut ke benteng kuno. Sepanjang 22,5 km. Namanya Benteng Konstantinopel. Dibangun abad ke-5. Meski hari Sabtu, jalanan Istanbul tetap tidak sepi. Sebab, di Istanbul ada tiga juta lebih mobil.

Setelah sejam menyusuri jalanan Istanbul, sampai ke tujuan pertama: Topkapi. Istana di Turki yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Dibangun oleh Sultan Muhammad Alfatih. Sultan yang terkenal dengan sebutan Sultan Mehmet II itu merupakan penakluk Istanbul dari kekuasaan Konstantinopel.

Disebut Topkapi karena di atas pintu istana ada meriam. Top artinya ‘meriam’. Kapi Artinya ‘pintu’. Di Istanbul ada 16 istana. Topkapi yang paling besar. Luasnya 69 kali stadion sepak bola. Atau sekitar 70 hektare.

Meski sangat luas tak terasa lelah mengelilingi Topkapi. Banyak pohon besar dan rindang. Berusia ratusan tahun. Yang tertua pohon yang dibangun Sultan Mehmet II. Ditanam 500 tahun silam. Pohon itu masih tumbuh di balik pintu gerbang kedua. Sayang tinggal sepertiga. Karena bagian atasnya lapuk dimakan usia.

Istana Topkapi punya tiga pintu gerbang. Dilengkapi empat halaman.  Masuk pintu pertama disambut pohon mapel. Di kanan dan kiri jalan setapak terbuat dari pahatan batu. Begitu memasuki pintu gerbang ketiga ribuan pengunjung berebut masuk ke sejumlah ruangan yang menyimpan benda-benda pusaka Islam.  Tersimpan di dalamnya antara lain, pedang Rasulullah saw, juga bendera perang warna hitam, cuilan gigi, jenggot, dan rambut milik Rasulullah SAW yang gugur.

Benda bersejarah lainnya tongkat Nabi Musa As yang berubah jadi ular dan pedang Nabi Daud As yang digunakan membunuh Jalud. Di mata pedang Daud konon ada tulisan: “Dengan pedang ini Isa As akan membunuh Dajjal di atas Alaqsa.”

Dua pancuran emas di Kakbah, penutup hajar aswad dan kunci pintu Kakbah. Juga ada baju Siti Fatimah dan jubah Ali bin Abi Thalib. Dan masih banyak lagi benda sangat berharga lainnya.

Benda-benda pusaka Islam itu dibawa ke Istana Topkapi sekitar 500 tahun lalu. Tepatnya saat Kesultanan Utsmaniyah memimpin seluruh Jazirah Arab. Sultan menghendaki seluruh benda dari Jazirah Arab tersebut berada di Turki. Karena Sultan takut benda-benda keramat itu diambil para imperialis Belanda dan negara Eropa, maka Sultan memerintahkan agar semua benda bersejarah Islam itu terselamatkan.

Ternyata benar. Benda-benda berharga bagi umat Islam itu tetap terjaga di Istana Topkapi. Bisa dibayangkan kalau masih tetap berada di Makkah dan sekitarnya. Akan bernasib sama dengan sejumlah banyak situs penting Islam di Arab Saudi yang diratakan dengan tanah.(bersambung)

GERBANG KEDUA: Direktur JP RaBa Samsudin Adlawi berdiri di depan pintu gerbang kedua Istana Topkapi.

GERBANG KEDUA: Direktur JP RaBa Samsudin Adlawi berdiri di depan pintu gerbang kedua Istana Topkapi. (JAWA POS FOTO)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia