Kamis, 21 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Situbondo

Sakit, Jamaah Haji Situbondo Meninggal di Makkah

07 September 2017, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DAMAI: Jenazah Tiwa sesaat sebelum dimakamkan di pemakaman umum Sarayi’, Mekkah.

DAMAI: Jenazah Tiwa sesaat sebelum dimakamkan di pemakaman umum Sarayi’, Mekkah.

Share this          

KAPONGAN- Salah satu jamaah haji asal Kecamatan Kapongan, Situbondo wafat di tanah suci Mekkah pada Senin (4/09) lalu. Pemakaman baru dilakukan kemarin pagi (05/09). Meskipun demikian, jamaah haji tersebut telah tuntas melaksanakan seluruh kewajiban ibadah hajinya.

Kepala Seksi Keberangkatan Haji dan Umrah pada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Situbondo, Maulana Ridho mengatakan, jamaah haji yang meninggal atas nama Tiwa Binti Sukandar. Tiwa wafat karena sakit. “Beliau wafat di kamar hotelnya. Sekitar pukul 12.15 waktu Arab Saudi (WAS). Semoga beliau khusnul khotimah,” beber pemilik nama panggilan Ridho itu.

Ridho menjelaskan, Tiwa adalah CJH asal dusun Blumbung, Desa Wonokoyo, Kecamatan Kapongan. Dia merupakan jamaah dari Kloter 32 dengan rombongan nomor 6. “Nomor paspor Bu Tiwa yaitu B6595545,” ujarnya.

Ketua Kloter 32, H. Cahaironi Hidayat mengungkapkan, jenazah Tiwa disalatkan keesokan harinya setelah jamaah rombongan menunaikan salat subuh di Masjidil Haram. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Sarayi’. “Sebelumnya beliau telah melakukan wukuf  dan seluruh kewajiban haji lainnya. Jadi beliau telah bergelar haji,” tandasnya.

Sementara itu, dokter pendamping, dr. Juni Setiawan menerangkan, Tiwa didagnosa meninggal karena sakit gangguan penyakit sistem pernafasan (PPOK). Yaitu sakit paru-paru kronis yang memberat, “Berdasar buku riwayat kesehatan, Tiwa juga pernah menjalani pengobatan tuberkulosis paru-paru,” bebernya ketika dihubungi via telepon kemarin malam.

dr. Juni menjelaskan, sebelum pemberangkatan haji, hasil pemeriksaan kesehatan Tiwa menunjukkan adanya gambaran menyerupai bekas TBC. Meskipun demikian, TBC dimungkinkan tidak aktif karena telah melakukan pengobatan. “Sehingga beliau tetap diberangkatkan,” paparnya.

Selain menderita sakit gangguan pernafasan, kondisi penyerta kelelahan dan anorexia (nafsu makan berkurang) dalam masa Arofah-Muzdalifah-Mina. Dimana  kegiatan yang ada cukup menguras energi dalam mobilisasi jamaah antar tempat-tempat tersebut di atas (Armina). “Sehingga, dengan usia beliau yang saya kira lebih dari 70 tahun, sangat rentan untuk mengami gangguan pernafasan,” pungkasnya.

(bw/ily/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia