Kamis, 19 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Pendaftar Online Masih Datangi Sekolah

Selasa, 26 Jun 2018 18:15 | editor : Bayu Saksono

JALUR REGULER: Calon peserta didik baru mendaftarkan diri lewat jalur reguler di SMAN 1 Giri, kemarin (25/6).

JALUR REGULER: Calon peserta didik baru mendaftarkan diri lewat jalur reguler di SMAN 1 Giri, kemarin (25/6). (ARNINDHITA ARIFIN/RABA)

GIRI – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur reguler di tingkat SMA/SMK dibuka mulai kemarin (25/6). Meski menggunakan sistem online, masih banyak masyarakat yang memilih tetap datang mendaftar ke sekolah secara langsung.

Salah satunya di SMAN 1 Giri. Masih ada beberapa wali murid yang mengantarkan anaknya untuk bisa mendaftarkan diri langsung dibantu oleh operator sekolah. Banny Firsha, operator PPDB SMAN 1 Giri mengatakan, sejak pagi hingga siang hari ada sekitar 15 orang yang mendaftar langsung ke sekolahnya.

Sebagian besar berasal dari zona 1, yaitu wilayah Banyuwangi kota dan Kecamatan Giri. ”Ada yang dari Cluring juga. Mereka rata-rata kurang yakin ketika mendaftar, tapi tidak datang ke sekolah. Tetap kita layani, asalkan membawa persyaratan seperti PIN dan KK,” terang Banny.

Sebenarnya untuk jenjang SMA, para pendaftar tidak usah datang ke sekolah. Pendaftar bisa men­daftarkan diri dari mana pun. ”Di website pendaftaran, infonya sudah lengkap. Termasuk perang­kingan siswa yang mendaftar juga sudah ada. Sampai siang ini tadi sudah ada 175 pendaftar yang pilihan satunya SMAN 1 Giri,” jelasnya.

Sementara itu, pemandangan berbeda terlihat di jenjang SMK. Meski pendaftaran bisa dilakukan secara online, namun hampir seluruh pendaftar tetap men­datangi sekolah. Ternyata peserta tetap harus menyertakan persya­ratan bukti kesehatan sesuai dengan jurusan yang mereka tuju.

”Mereka harus tetap ke sini, ka­rena selain mendaftar online, mereka tetap harus menunjukkan hasil tes kesehatan. Seperti tes buta warna atau tinggi badan,” ujar operator PPDB SMKN 1 Glagah Misbahus Surur.

Dia mengatakan, peraturan ini diterapkan hampir oleh semua SMK. Sebab, SMK memiliki perbedaan persyaratan masuk di setiap jurusan.

Seperti larangan buta warna di jurusan elektro, dan kesehatan fisik prima di jurusan pelayaran. Bahkan, untuk beberapa jurusan menurut Misbah nyaris tidak bisa dimasuki siswa inklusif atau berkebutuhan khusus. ”Tes kese­hatannya tidak di sini, tapi mereka tinggal membawa bukti dari Puskesmas atau layanan kese­hatan,” ujarnya.

(bw/fre/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia