Sabtu, 21 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Lebaran Bar-baran

Oleh Supriyadi KS

Senin, 25 Jun 2018 20:31 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Lebaran Bar-baran

TELAH sepekan kita ber-Idul Fitri. Gema yang kemarin itu masih terngiang, walau gemuruhnya hanya semalam saja. Saat itu, bait-bait takbir mengudara ke langit, seolah datangnya dari kejauhan. Jalan-jalan kampung-kota dipenuhi orang-orang hilir mudik, menyusuri jalan dari ujung ke ujung, memenuhi keperluan untuk esok Lebaran. Betapa indahnya hidup bila diawali seperti itu. Semua orang bersuka cita. Anak-anak mendekat ke masjid, berebut mikrofon dan atau beduk. Takmir masjid tampak sibuk membagi zakat. Di sela-sela mata para penerima zakat seolah berkata: betapa berharganya setiap berkah dalam hidup ini.

Waktu terus beranjak malam. Orang-orang masih saja terjaga. Semua orang seperti tersadar bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk terlelap dalam tidur adalah waktu yang dicuri dari kehidupan. Meski kehidupan itu sendiri dipenuhi oleh segala macam hasrat dan keinginan yang sulit untuk dijelaskan.

Tak terasa waktu, sepekan kita telah meninggalkan Ramadan. Tidak tampak lagi keriuhan dan kesibukan. Ketika orang-orang menjadi rajin sedekah dan infak, musala atau masjid perkantoran menjadi lebih ramai, orang-orang menjalankan qiyamul lail tiap malamnya, banyak bertadarus, parpol dan para politisi membagi ”takjil” setiap hari.

”Bagi orang seperti kami, bulan Ramadan itu enak, Mas. Banyak orang memberi tanpa diminta. Memberi apa saja, yang kadang pemberian itu tidak kami butuhkan,” pengakuan Pak Tro (begitu orang-orang desa memanggil) yang bekerja mengumpulkan sampah rumah tangga, mengenangkan bulan yang berlimpah rezeki dengan aneka kesenangan.

Ke mana hilangnya kebiasaan-kebiasaan selama Ramadan itu? Apakah Lebaran ini benar-benar sudah bar-baran atas semua kebaikan? Takbir di akhir Ramadan yang mengisyaratkan sebuah kemenangan seolah juga mengisyaratkan sebuah batas. Sebuah sekat antara bulan dilipatkannya pahala dan hari-hari depan yang sesungguhnya boleh jadi lebih besar tantangan dan hambatan yang akan ditemui. Takbir itu seolah menandakan sebuah batas antara kegembiraan dan kesedihan. Antara kemenangan dan kekalahan.

Selepas Ramadan ini seperti ringan rasanya untuk berbuat apa saja. Jangan-jangan kita kembali pada wajah asli kita yang mungkin buruk rupa. ”Nampaknya, semua kembali seperti semula?” ungkap seorang kawan setengah bertanya.

”Ya, mungkin benar. Kalau kita bersedia menelisik lebih jauh, sepertinya pandangan kita akan bulan Ramadan sebagai bulan puncak ketakwaan seakan menyiratkan bahwa bulan yang lain adalah takwa seadanya,” kata seorang kawan

”Apa asyiknya puasa Ramadan. Aku, kau, dia, juga mereka, kita semua berpuasa pada hari dan bulan yang sama?  Aku lebih suka berpuasa seorang diri. Orang-orang tetap makan dan minum, dan aku tidak. Bahkan, ketika itu aku berada di antara mereka,” sombong seorang yang lain.

”Ya, boleh jadi begitu. Tapi perlu kita ingat, bahwa masih ada enam hari puasa syawal. Kita hanya diberi waktu sehari untuk ”lepas kendali”. Kita diminta berpuasa saat makanan melimpah ruah,” sergah seorang kawan.

Memandang Ramadan di tujuh hari Lebaran ini seperti memandang sebuah kebaikan yang terus berlangsung dan pergi. Barangkali kita boleh bersuka hati atau bahkan tidak peduli, ketika pada hari ini masih bisa melakukan kebaikan-kebaikan seperti di bulan mulia itu. Bukankah di antara tanda diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya? Kalaulah kebaikan itu tak tampak lagi pada hari ini, dan pergi, entah kepada siapa peradaban ini akan berharap.

”Entahlah, atas dasar apa peradaban ini akan kita bangun? Apakah akan kita bangun tatanan peradaban ini di atas ketamakan, keserakahan, dendam, dan lisan yang lepas kendali melabrak dengan fitnah serta dengki?” ujar seorang kawan di sela obrolan Lebaran

Memang, banyak yang bisa diobrolkan tentang puasa dan Lebaran. Cukup menarik. Paling tidak sebagai sebuah pengingat, bahwa substansi kebaikan memiliki implikasi restoratif bagi perilaku dan moralitas kita sehari-hari. Bahwa sebuah kata ”kebaikan” akan menemukan maknanya ketika berlangsung berkesinambungan lagi bertahap.

Ya, berlalunya Ramadan dan datangnya syawal selalu menghadirkan pernak-pernik dan nuansa yang menarik untuk diobrolkan dan direnungkan lebih jauh sebagai wujud dialektis antara wahyu Tuhan (puasa) dengan nilai-nilai budaya masyarakat. Antara entitas yang sakral dengan bungkus yang khas. Antara penghambaan kepada Tuhan dan kesadaran sebagai manusia. Karena puasa bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kesadaran hidup, toleran, dan kebersamaan.

Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengais makna dari hari ke hari, agar Lebaran tidak menjadi ”bar-baran”,  untuk kemudian menjadikannya sebagai simpanan dalam menyambut Ramadan berikutnya. (*)

*Ketua DPD Partai NasDem, Dewan Kehormatan Perpenas.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia