Sabtu, 21 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

BPBD Validasi Kerusakan Rumah Warga

Senin, 25 Jun 2018 13:05 | editor : AF. Ichsan Rasyid

ANTRE: Salah seorang warga terdampak banjir bandang menunggu mengambil bahan kebutuhan bayi, kemarin (24/6).

ANTRE: Salah seorang warga terdampak banjir bandang menunggu mengambil bahan kebutuhan bayi, kemarin (24/6). (DEDY JUMHARDIYANTO/JAWAPOS.COM)

BANYUWANGI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi terus mendata rumah yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang di empat dusun Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Ada 23 rumah yang mengalamai rusak parah dari total 415 rumah yang terdampak banjir.

Kepala BPBD Fajar Suasana merinci rumah yang mengalami rusak berat sebanyak 23 unit. Kategori rumah rusak berat ini adalah yang mengalami ambruk, jebol, dan roboh. “118 rumah rusak sedang dengan kerusakan lumpur masuk rumah ketinggian 20 - 100 cm.  Sedangkan sisanya yang 274 mengalami rusak ringan. Itu update terakhir kami,” ungkapnya.

Fajar menjelaskan, data itu didapat dari pendataan langsung tim BPBD ke rumah warga. Sehingga data tersebut bukan hanya berdasar laporan semata. “Tapi tim BPBD turun mendata satu-satu untuk melihat kerusakannya, juga kami dokumentasikannya,” paparnya.

Selama seharian kemarin (24/6), tim BPBD konsentrasi pada pembersihan jalan utama Gambor yang merupakan jalur alternatif Banyuwangi-Jember. Ada 12 dump truck dan enam excavator (alat berat) dikerahkan untuk mengambil material dan sedimen yang tersisa. “Ruas jalan utama sudah kita bersihkan. Namun untuk sementara masih tertutup untuk umum. Kita gunakan dulu untuk jalur operasional alat berat dan dump truck,” jelas Fajar.

Tim BPBD Banyuwangi juga dibantu personel dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Batu, Jember, dan Pemprov Jatim, yang totalnya mencapai 35 orang. Selain pembersihan jalan, selama dua hari ini juga prioritas membersihkan fasilitas umum, seperti masjid, agar segera bisa digunakan kembali oleh publik. “Sangat membantu sekali, karena mereka sudah mahir untuk melakukan upaya-upaya evakuasi,” terang Fajar.

Setelah pembersihan fasilitas umum dan fasilitas sosial, baru konsentrasi membersihkan rumah-rumah warga. Hal itu sangat memakan waktu, karena harus manual. Pada tahap ini, sangat dibutuhkan tenaga namun juga butuh alat pendukung seperti sekop, linggis, cangkul, alat pengangkut material.

“Kami berharap relawan yang datang dapat membawa peralatan kerja. Yang tidak membawa peralatan bisa membantu hal lain agar kerja penanganan lebih efektif,” tandasnya. (ddy)

(bw/ddy/ics/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia