Sabtu, 21 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Derita Hari Nuryadi, Korban Banjir Alasmalang

Rumah Hancur, Tersisa Baju dan Celana yang Dipakai

Minggu, 24 Jun 2018 18:15 | editor : Bayu Saksono

PENUH LUMPUR: Hari Nuryadi bersama dengan satu unit motor miliknya yang hanyut terbawa derasnya banjir, Jumat lalu (22/6).

PENUH LUMPUR: Hari Nuryadi bersama dengan satu unit motor miliknya yang hanyut terbawa derasnya banjir, Jumat lalu (22/6). (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

BANJIR bandang di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh meninggalkan duka mendalam bagi sejumlah warga. Salah satunya adalah Hari Nuryadi, 54. Pria yang tinggal di Dusun Bangunrejo, RT 01, RW 02, Desa Alasmalang itu hancur terbawa derasnya air. Deru mesin backhoe meraung-raung. Ribuan warga bersama-sama relawan dari berbagai komunitas, lembaga, dan instansi bergotong- royong membersihkan material banjir di rumah-rumah warga.

Batang kayu, pasir, batu, dan ma­terial banjir masih berserakan di jalan raya, tepi sungai, bahkan hingga masuk ke dalam rumah-rumah warga. Di tengah kesibukan warga yang tengah mem­bersihkan material sisa banjir bandang, seorang lelaki dengan mengenakan sarung dan kopiah tampak tenang di tepi ru­mah­nya yang sudah porak-poranda.

Tak banyak yang dilakukan lelaki yang di­ketahui bernama Hari Nuryadi ini. Dia hanya meratapi rumahnya yang sudah hancur pas­ca-diterjang banjir bandang. Tak ada sedikit pun yang bisa diselamatkan. Rumahnya han­cur, seluruh barang perabot rumah tangga habis.

Tidak hanya itu, toko pakan burung yang baru dirintisnya sebulan lalu juga ludes. Se­perangkat alat studio rekaman dan satu set sound system, serta peralatan musik seperti gitar, drum, kendang, semuanya amblas di­bawa derasnya banjir. ”Tidak ada yang tersisa. Hanya tinggal pakaian yang saya gunakan ini,” ungkap bapak dua anak ini.

Barang lainnya yang masih ditemukan dan tersisa yakni satu unit motor Suzuki. Motor ter­sebut ditemukan 50 meter di belakang ru­­mahnya, saat petugas membersihkan sedimentasi lumpur di belakang rumahnya. ”Motor ini diangkat alat berat dan hanya ini yang tersisa. Lainnya sudah tidak ada yang saya punya,” ujar lelaki yang juga seniman musik Banyuwangi itu.

Hari Nuryadi menuturkan, dia tidak tahu ba­gaimana persisnya saat air banjir datang. Maklum, pagi itu dia sudah berangkat kerja menjaga tambak ikan di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Sementara istrinya, Hidayah, 37, baru saja pulang meng­antarkan nasi sarapan pagi di tambak tem­patnya bekerja. ”Saat istri saya pulang mengantar makanan, air banjir sudah mulai tinggi. Beruntung, kedua anak saya langsung lari ke bukit dan rumah ditinggal begitu saja tanpa penghuni,” kenangnya.

Begitu banjir melanda, dia sempat mengira jika rumahnya masih bisa diselamatkan. Na­mun, ia kaget bukan kepalang, ketika me­nge­tahui rumahnya sudah ludes tak tersisa. ”Depan rumah saya ini penuh dengan batang kayu. Saya kira di dalam masih selamat. Ter­nyata semuanya hancur dan rata dengan tanah,” terang lelaki yang akrab disapa Adhi Satria ini.

Rumah dengan bangunan dinding berukuran 7 x 20 meter miliknya hancur. Sementara alat studio rekaman, sound system, satu set alat musik, toko pakan burung, perabotan rumah tangga, semuanya hanyut tak tersisa. ”Kalau ditotal, nilai kerugian barang isi rumah dan perabot mencapai Rp 70 jutaan,” jelasnya.

Mendapati rumahnya yang sudah tak bisa dihuni lagi, untuk sementara waktu Hari Nuryadi kini terpaksa tinggal di pondok sederhana di tambak tempatnya bekerja di Dusun Cemoro, Desa Balak. Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Uang sepeser pun juga tidak punya. ”Saya baru saja utang ke bank untuk modal toko pakan burung. Tapi semua kini sudah habis. Saya juga bingung harus bagaimana lagi,” ujarnya memelas.

Dia hanya bisa berharap pada pemerintah provinsi dan pemerintah Banyuwangi untuk segera memperbaiki kembali jembatan Alasmalang. Pasalnya, salah satu penyebab terjadinya banjir adalah tersumbatnya jembatan oleh batang pohon. Sehingga, air banjir naik ke perkampungan.

”Selama di tengah masih ada tiang jembatan, maka akan terus terjadi banjir lagi. Karena ada sumbatan dan air bisa naik lagi ke per­kampungan. Apalagi, jika musim hujan atau pada bulan November dan Desember bisa lebih parah dari banjir yang terjadi saat ini,” duganya.

Selain rumah milik Hari Nuryadi, rumah milik tetangga rumahnya, Andon dan Sunanti juga hancur total dan rata dengan tanah. ”Saya masih bersyukur karena kami sekeluarga masih selamat. Perkara harta benda sambil jalan yang penting diberikan kesehatan masih bisa berupaya kembali,” tandasnya.

(bw/ddy/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia