Minggu, 22 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Jantung Terasa Mau Copot saat Pesawat Take Off

Minggu, 24 Jun 2018 00:00 | editor : Bayu Saksono

Jantung Terasa Mau Copot saat Pesawat Take Off

Berjalan-jalan ke luar negeri menjadi pengalaman baru. Malaysia dan Thailand menjadi tempat tujuan selama ”melancong” kali ini. Ragam persiapan pun dilakukan agar liburan bisa maksimal dan minimal tidak tersesat di negeri orang. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi NIKLAAS ANDRIES dan Layouter RAMADA KUSUMA

Perjalanan menuju Malaysia dan Thailand kami mulai dari kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi Kamis (22/6) ke­marin. Ini menjadi perjalanan pertama ke luar negeri. Masih dalam suasana hari raya Idul Fitri yang ramai, maka per­­jalanan menuju Bandara Internasional Juanda, Surabaya, pun terpaksa meng­gu­nakan kendaraan pribadi.

Sebab, semua tiket travel hingga kereta api ludes. Awalnya, kami berencana mem­pergunakan jasa akomodasi bus. Namun, melihat efektivitas waktu, kendaraan roda empat kami anggap sebagai solusi perjalanan awal menuju ke Surabaya. Persis pukul 22.00, mobil kami berangkat dari kantor. Niklaas Andries sebagai sopirnya dan Ramada Kusuma, duduk sebelahnya sebagai navigatornya.

MENDARAT: Rombongan mahasiswa, rektor, dan wakil rektor IAI Ibrahimy Genteng berpose bersama sebelum berangkat menuju Pattani, Thailand.

MENDARAT: Rombongan mahasiswa, rektor, dan wakil rektor IAI Ibrahimy Genteng berpose bersama sebelum berangkat menuju Pattani, Thailand. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Perjalanan lumayan lancar meski kondisi jalan terbilang cukup ramai. Dua jam per­jalanan, kami sempat rehat sejenak di rest area di Banyuglugur, Situbondo. Se­lama 30 menit kami ngopi dan makan sekadar untuk mengganjal perut. Pukul 00.00 perjalanan kami lanjutkan menuju Surabaya.

Namun, belum lama perjalanan berlanjut, rasa kantuk membuat kami beristirahat di SPBU di Kraksaan, Probolinggo.

Sekitar habis Subuh pukul 05.00, roda kendaraan yang kami tumpangi kembali mengaspal. Adanya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo di Surabaya membuat kami bergegas menuju rumah seorang sahabat sebagai jujukan.

Sekitar pukul 08.00, kami sudah sampai di lokasi yang kami jadikan tempat peristirahatan sementara ini. Hingga pukul 14.00, dengan menggunakan taksi online kami bergerak menuju Terminal 2 Internasional Juanda. Kami langsung check in dan menuju ruang tunggu.

Tidak ada masalah, bahkan di imigrasi semua ber­jalan lancar. Sembari menunggu pesawat, kami menyempatkan diri untuk makan. Pesawat di­jadwalkan bertolak dari Surabaya menuju Kuala Lumpur, Malaysia, pukul 16.00. Jujur, rasa deg-degan ada di hati kami berdua. Terutama saya, hingga usia 29 tahun, ini pengalaman pertama naik pesawat.

Maka saat petugas bandara meminta penumpang untuk masuk pesawat, detak jantung saya bertambah semakin cepat. Bus bandara mengantar kami dan penumpang lainnya menuju ke pesawat. Mungkin masih suasana Lebaran, kursi pesawat terisi penuh. Penumpang pesawatnya, selain warga Malaysia juga ada sejumlah tenaga kerja Indonesia yang kembali ke tempatnya bekerja.

Salah satunya adalah Hasan, 42, yang duduk di sebelah kami di kursi nomor 27. Dia merupakan TKI asal Panarukan, Situbondo. Dia sudah bekerja sebagai buruh bangunan di Negeri Jiran Malaysia. Bapak anak satu ini menjadi teman saya ngobrol se­kaligus untuk mengatasi rasa waswas pengalaman pertama naik pesawat. ”Saya pulang tiap tahun saat Lebaran. Ini pulang untuk kerja lagi” katanya.

Sejatinya, pesawat berangkat pukul 16.00. Namun, akhirnya molor hingga 42 menit. Tertundanya keberangkatan ini tidak lain karena keberadaan pesawat kepresidenan yang mengangkut Presiden Joko Widodo akan bertolak ke Bali. Tertundanya penerbangan menjadi obat penawar rasa gugup sebelum take off. Setidaknya melihat pesawat kepresidenan secara langsung menjadi pengalaman.

Setelah diizinkan terbang, pesawat kemudian menuju landasan pacu. Sejurus kemudian pesawat mulai ngebut untuk take off. Rasanya jantung mau copot. Itulah kesan pertama saat pesawat meninggalkan landasan pacu. Tangan rasanya tidak ingin lepas dan terus memegang erat sandaran lengan.

Terbang di ketinggian 34.000 meter selama dua jam 35 menit menjadi waktu tempuh pesawat menuju tujuan. Beberapa saat setelah berada di ketinggian tersebut, kengerian yang dirasakan mulai terkikis. Cuaca yang sedikit tidak bersahabat membuat pesawat beberapa kali mengalami guncangan.

Kondisi ini membuat saya memilih untuk tidur selama perjalanan. Tidur namun tidak nyenyak. Seolah detik di jam tangan yang saya kenakan begitu lama. Dan suara dari pilot yang memberitahukan akan segera mendarat membuat hati terasa lega. Persis pukul 20.00 waktu Kuala Lumpur, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Kuala Lumpur.

Turun dari pesawat membuat hati saya lega. Kami pun segera mencari imigrasi dan pintu keluar bandara. Usaha kami menemukan tujuan tersebut tidak mudah. Selain terminal dari pesawat turunnya kami cukup jauh. Kendala lainnya yakni berupa papan penunjuk arah yang tertulis dalam bahasa Malaysia.

Kami pun harus beradaptasi sejenak dan seperti bermain mencari jejak menuju pintu keluar. Alhamdulillah, konter imigrasi berhasil dicapai. Setelah paspor kami distempel, perjalanan dilanjutkan menuju ruang tunggu di pintu keluar bandara. Masalah lainnya kami dihadapkan pada komunikasi seluler.

Ketersediaan wi-fi di penjuru bandara sedikit membantu kami untuk berkomunikasi. Dan Alhamdulillah, di sini kami bertemu rombongan mahasiswa dan dosen Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Genteng. Mengenakan almamater dan batik serba hijau mereka sudah menunggu di ruang tunggu pintu keluar bandara Terminal 2 Kuala Lumpur.

Termasuk di antaranya pentolan IAI Ibrahimy seperti Lukman Hakim Achmad Hariyanto dan Kholilur Rahman. Keduanya tengah mengawal mahasiswanya yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata dan Praktik Kerja Lapangan (KKN/PPL) di Thailand.

Tahun ini, IAI Ibrahimy Genteng mengirim duta lebih banyak. Sekolah berbasis Islam ini menyumbang tujuh mahasiswa. Dua di antaranya adalah perempuan. Selama lima bulan mereka akan menetap di Negeri Gajah Putih sebagai program pertukaran mahasiswa sekaligus kewajiban KKN/PPL di kampusnya.

Rombongan berangkat pukul 22.00. Menggunakan bus, dijadwalkan perjalanan akan menempuh jarak 600 km. Diperkirakan rombongan akan tiba di Provinsi Pattani, Thailand, Sabtu (23/6) sekitar pukul 12.00. Kami pun ikut dalam rombongan mereka. ”Kegiatan ini juga bagian dari mengasah kemampuan mahasiswa dalam menyerap penga­laman dan ilmu baru. Serta berbagi keilmuan,” ujar Wakil Rektor IAI Ibrahimy Genteng Lukman Ha­kim.

(bw/jpr/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia