Sabtu, 21 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Lebaran, Terjebak dalam Kungkungan Tradisi?

Oleh: Asmu’i Syarkowi

Kamis, 14 Jun 2018 07:05 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Lebaran, Terjebak dalam Kungkungan Tradisi?

IDUL FITRI yang kini lazim dikenal dengan ”Lebaran” memang telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Berbagai kegiatan dan acara diadakan khusus menyambut dan merayakannya. Khususnya di Indonesia. Di mana masyarakat menyambut dan merayakan Lebaran dengan cara yang sangat unik. Lebaran tidak lagi dimonopoli oleh orang yang berpuasa tetapi telah dimiliki oleh masyarakat umum. Bahkan, oleh nonmuslim sekalipun.

Pada setiap Lebaran, kita saksikan banyak orang sibuk mempersiapkan berbagai penampilan. Dari penampilan diri sampai penampilan rumah. Untuk penampilan diri misalnya, orang mempersiapkan diri dengan membeli pakaian baru dan segenap perhiasan.

Untuk penampilan rumah, orang mempersiapkannya dengan mengadakan kebersihan, pengecatan rumah, mempersiapkan hidangan Idul Fitri dengan aneka makanan dan minuman.

Akibat semua itu, kita dapat lihat menjelang Idul Fitri, hampir semua toko, pasar, supermarket, mal, selalu ramai gegap gempita dan berjejal-jejal dipenuhi orng-orang, termasuk kaum muslimin. Kebiasaan itu, akhirnya menggantikan anjuran keras beriktikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan.

Sudah menjadi rahasia umum, untuk menyambut Lebaran ini, jutaan rupiah harus dikeluarkan oleh kaum muslimin. Bahkan ada kesan, seolah bekerja setahun memang sengaja diperuntukkan merayakan Idul Fitri yang memang hanya datang sekali dalam setahun.

Bagi mereka yang kebetulan di luar kampung halaman, pada menjelang Idul Fitri juga harus pulang ke kampung halaman. Akibatnya jasa angkutan dari yang angkutan darat, laut, dan udara terlihat padat. Orang rela berdesak-desakan untuk sekadar mengantre membeli tiket dan berjubel dalam bus maupun kapal.

Tangisan bayi dan anak-anak akibat kepanasan dalam kendaraan pun seolah tidak terdengar dan hilang di tengah hiruk pikuknya orang dalam kendaraan.

Semua itu terjadi dan sengaja dilakukan oleh kaum muslimin hanya untuk sebuah tujuan : merayakan Lebaran. 

Pada saat demikian juga hampir semua media massa memberitakan perilaku manusia Indonesia menyambut Lebaran. Berbagai stasiun TV pun perlu membuat liputan khusus dengan membuat judul liputan ”Seputar Mudik Lebaran”. Bagitulah kejadian tersebut terus berulang dari tahun ke tahun.

Sebagai seorang muslim, kita memang perlu bertanya, apakah hal seperti itu dibenarkan menurut ajaran Islam?  Atau, setidaknya adakah tuntunannya dalam agama kita? Pertanyaan ini penting, untuk mengukur sejauh mana praktik menyambut Idul Fitri ini dari segi kacamata ajaran agama kita. Sebab, sebagai seorang muslim, kita memang diharuskan melihat setiap gejala dan peristiwa dengan kacamata ajaran agama. Tujuannya agar kita tidak terjebak terhadap praktik-praktik yang salah. Salah karena yang kita lakukan adalah tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama kita.

Mengenai hal ini, kita semua tentunya telah yakin bahwa setiap praktik perbuatan yang tidak sesuai dengan  ajaran agama akan menjerumuskan kita ke dalam lembah dosa. Dan, setiap praktik perbuatan dosa pasti akan menyebabkan kita menuai murka Allah SWT.

Hari raya Idul Fitri memang salah satu dari dua hari raya besar Islam. Hari raya yang satu lagi adalah Idul Adha. Menurut sejarah, Idul Adha mulai ada sejak tahun pertama Hijriah, sedangkan Idul Fitri mulai ada sejak tahun ke dua Hijriah. Dua hari raya tersebut sebenarnya diperkenalkan oleh Rasulullah SAW sebagai pengganti dua hari raya yang dikenal oleh orang Arab sejak zaman Jahiliyah.

Dua hari raya yang dikenal sejak zaman Jahiliyah tersebut ialah hari raya Nairuz dan Mahrayan. Rasulullah SAW mengganti dua hari raya tersebut dengan Idul Adha dan Idul Fitri, karena praktik peringatan dua hari raya yang dilakukan oleh orang Arab, termasuk kaum muslimin waktu itu, berbau tradisi Jahiliyah.

Tradisi Jahiliyah itu antara lain ialah ketika mereka merayakan hari raya Nairuz dan Mahrayan tersebut dengan pesta pora, mabuk-mabukan, dan tidak jarang dari praktik merayakan hari raya tersebut sampai menimbulkan keonaran dalam masyarakat.

Melihat praktik demikianlah, kemudian Rasulullah SAW terpanggil untuk mengubah tradisi yang tidak terpuji ini dengan kegiatan-kegiatan yang Islami. Maka diperkenalkan dua hari raya tersebut.

Pada hari raya tersebut, Rasulullah memang membolehkan umat Islam untuk bersuka ria, bersenang-senang. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah oleh Imam Al Bukhary, dapat kita peroleh berita bahwa Rasulullah SAW pernah membolehkan wanita bernyanyi, mengadakan bunyi-bunyian, dan mengadakan permainan saat hari raya.

Nyanyian yang dimaksud tentunya bukan nyanyian yang mengundang kemaksiatan. Bunyi-bunyian yang dimaksud juga bukan bunyi-bunyian suara petasan seperti yang dulu pernah semarak dan sekarang dilarang oleh pemerintah. Dan permainan tersebut juga bukan permainan judi seperti yang terjadi di beberapa tempat.

Kebiasaan mengunjungi tempat hiburan, kebiasaan mudik, sebenarnya bukan kebiasaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kebiasaan tersebut hanyalah mubah atau boleh-boleh saja dilakukan.

Dalam Ajaran Islam, persoalan yang mubah bisa berubah status hukum menjadi wajib, sunat, atau bahkan menjadi haram. Perubahan hukum tersebut tergantung alasan yang terjadi. Mudik, misalnya bisa menjadi sunat apabila mudik tersebut dimaksudkan untuk silaturahmi dengan sanak saudara. Sebab silaturahmi memang ada tuntunannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda :

”Hai sekalian manusia tebarkanlah salam, sambunglah tali persaudaraan, dan salatlah ketika orang-orang sedang terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan sejahtera.”

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda :

”Barang siapa ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi ( HR Bukhary )”.

Mudik menjadi wajib, misalnya jika ada orang tua yang mengharapkan kehadirannya dan dia mempunyai kesempatan untuk memenuhi harapan orang tua tersebut. 

Mudik juga bisa menjadi haram, jika mudik tersebut dilakukan hanya sekadar pamer keberhasilan. Atau karena mudik menyebabkan seseorang membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak perlu, yang akhirnya menjerumuskan ke dalam pola hidup boros. Padahal, andaikan biaya yang digunakan untuk mudik tersebut dikirimkan kepada sanak saudara yang memerlukan pasti akan lebih bermanfaat.

Hukum wajib, sunat, dan haram tersebut juga bisa berlaku kepada kebiasaan mubah lain dalam merayakan Lebaran. Akan tetapi, dari semua perilaku kita merayakan Lebaran ini yang pasti adalah bahwa Lebaran merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dengan ibadah Ramadan yang telah sebulan sebelumnya.

Jika hasil yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah dalam rangka menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa, maka setiap orang yang melakukan ibadah puasa dan merayakan Lebaran mestinya merayakannya dalam suasana takwa pula.

Merayakan Lebaran dengan hura-hura, pesta pora, dan perilaku boros sudah barang tentu, selain dilarang oleh agama, juga akan mencemari hasil ibadah yang telah susah payah dilakukan selama sebulan di bulan Ramadan.

Itulah sebabnya para ulama dahulu memperingatkan kita dengan suatu pepatah indah :

”Tidaklah hari raya itu teruntuk mereka yang berpakaian serba baru. Akan tetapi, hari raya itu hanyalah teruntuk orang yang semakin bertambah ketakwaannya”.

Itu pula sebabnya mengapa bagi para salihin, sekalipun hari raya itu merupakan hari bahagia, mereka tidak merasa bergembira dengan datangnya hari raya. Tapi dengan datangnya hari raya justru bertambah sedih. Kesedihan ini timbul karena pada hari itulah godaan hawa nafsu dan setan mulai tumbuh. Mereka sedih jika pahala puasa yang susah payah dilakukan selama sebulan bisa hancur dengan perilaku setelah Ramadan yang dimulai dengan godaan cara merayakan Lebaran ini.

Pada akhirnya, ada baiknya kita renungkan ulang bahwa dalam urusan Lebaran ini sejatinya terkumpul dua persoalan : syar’i dan tradisi. Keduanya dapat berjalan seiring. Silaturahmi adalah syar’i, tetapi berbaju baru adalah tradisi. Meminta maaf (halal bihalal) kepada orang lain adalah syar’i, tetapi meminta maaf menunggu saat hari Lebaran adalah tradisi.

Memelihara tradisi merupakan bagian dari melestarikan budaya. Yang tidak boleh adalah jika karena memelihara tradisi justru melanggar syar’i, seperti berlaku boros. Apabila yang demikian tidak dikaji ulang, tradisi berlebaran akhirnya akan menjebak kita dalam kesusahan dan kepenatan hidup secara berulang setiap tahun. Wallahu a’lam.(*)

 *) Warga Pandan,Desa Kembiritan, Genteng.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia