Jumat, 20 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Pemkab Terapkan Pengacak Sinyal Ketika Rapat

Kali Pertama Diterapkan Istri Pejabat Bingung Cari Suami

Selasa, 20 Mar 2018 07:27 | editor : Syaifuddin Mahmud

OPERATOR JAMMER: Ainur Rofiq bersama alat pengacak sinyal ketika dioperasikan di arena Musrenbangkab di Hotel Ketapang Indah, Kamis lalu (15/3).

OPERATOR JAMMER: Ainur Rofiq bersama alat pengacak sinyal ketika dioperasikan di arena Musrenbangkab di Hotel Ketapang Indah, Kamis lalu (15/3). (TULUS FOR RABA)

 Pemkab Banyuwangi punya cara khusus untuk membuat peserta rapat bisa fokus dan tidak terganggu dengan gawai mereka. Salah satunya adalah alat jammer sinyal. Dengan alat ini, hampir semua ponsel yang dibawa peserta saat mengikuti  rapat akan kehilangan sinyal dalam waktu tertentu.

 

Gawai menjadi alat yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas masyarakat di era sekarang. Di sisi lain, benda tersebut memiliki dampak negatif salah satunya membuat orang menjadi susah fokus dengan lawan bicaranya.

       Hal inilah yang dibaca oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Melihat potensi kurang konsentrasi yang begitu tinggi akibat dari penggunaan gawai, Anas kemudian menerapkan penggunaan alat jammer portable di beberapa kesempatan rapat khusus.

       Alat pengacak sinyal ini dioperasikan ketika berlangsung rapat-rapat tertentu yang pesertanya melibatkan pejabat di lingkungan pemkab. Dengan harapan, para peserta yang mengikuti rapat tidak pecah konsentrasinya karena bermain handphone.

       ”Bapak-bapak tidak usah repot-repot memeriksa HP, karena begitu masuk tadi sinyal sudah kita jamming,” ujar Anas sambil tersenyum ketika membuka rapat Musrenbang Kabupaten Banyuwangi di Hotel Ketapang Indah Kamis lalu (15/3).

       Anas pun meminta maaf karena peserta tidak bisa menggunakan ponsel selama Musrenbang berlangsung. Jaringan ponsel peserta sengaja diacak agar tetap fokus pada materi kegiatan. ”Mohon maaf jika ada yang tidak bisa menggunakan smartphone-nya karena memang dalam setiap rapat saya meminta agar sinyal diacak agar peserta nggak main handphone terus,” kata Anas di hadapan 700 lebih peserta Musrenbang.

       Kali pertama kali memberlakukan aturan tersebut setahun lalu, banyak istri-istri atau suami-suami dari peserta rapat yang bingung mengapa ponsel pasangannya tidak bisa dihubungi selama beberapa jam. ”Tapi sekarang tahu kalau HP-nya nggak aktif tiga atau empat jam tahu pasti rapat sama Pak Anas. Tapi jangan disalahgunakan ya,” pesannya.

       Ainur Rofiq, 49, adalah salah satu orang yang ditugasi oleh pemkab untuk mengoperasikan alat jammer tersebut. Pria yang bekerja sebagai staf di Bidang Persandian Dinas Kominfo Banyuwangi ini mengaku sudah hampir lima tahun menjadi operator jammer.

       Yang pertama digunakan adalah alat jammer versi 3G. Di beberapa rapat khusus yang digelar pemkab, alat itu sering kali dibawa. ”Pertama kali tahun 2013. Waktu itu saya yang pertama kali ditugasi, mungkin alasannya agar peserta lebih konsentrasi,” terang lulusan PSSN itu.

       Alat jammer berfungsi untuk mengacak sinyal. Baik itu sinyal ponsel maupun sinyal Wifi. Jadi seluruh ponsel akan langsung kehilangan sinyal begitu alat dihidupkan. Untuk alat pertama yang dimiliki Banyuwangi, yaitu jammer 3G hanya bisa mengacak sinyal handphone yang berjalan di jaringan 3G dan di bawahnya seperti 2G dan Edge.

       Sedangkan alat yang saat ini dimiliki Banyuwangi, yaitu jammer 4G  bisa mengacak sinyal 4G dan turunan di bawahnya termasuk sinyal Wifi.  ”Banyuwangi sendiri baru memiliki satu alat saja. Alat yang sebelumnya sudah kita kembalikan ke badan sandi negara karena alat ini alat khusus. Di Jawa Timur saja hanya lima kabupaten yang punya, termasuk provinsi Jatim,” jelas alumni SMAN 1 Glagah itu.

       Selama mengoperasikan alat pengacak sinyal itu, Rofiq mengaku sering berpindah tempat. Tergantung di mana Bupati menghendaki alat itu dipasang. Mulai dari upacara 17 Agustus, sidang rapat paripurna, hingga rapat-rapat khusus yang diselenggarakan pemkab dan SKPD di beberapa lokasi seperti Villa Solong.

       ”Jangkauan alat ini bisa sampai 40 meter persegi, bisa diatur juga sesuai kebutuhan. Terkadang protokol juga punya aturan sendiri, jadi kita menyesuaikan saja,” imbuh Rofiq.

       Selama di bawah pengawasannya, alat yang diproduksi Prancis itu nyaris tidak pernah rusak. Rofiq pun selalu berusaha berhati-hati agar alat tersebut selalu bisa digunakan kapan saja.

       ”Kebetulan di pendidikan saya dulu ada materi untuk penggunaan alat ini. Jadi sampai sekarang masih saya yang diberi amanat,” kata mantan staf bagian umum itu.

       Untuk sekali pemakaian dengan baterai, jammer portable bisa mematikan sinyal selama maksimal tiga jam. Tetapi jika alat disambungkan ke listrik waktunya bisa lebih lama, sampai sehari semalam.

       Selama digunakan untuk mematikan sinyal saat rapat, paling lama protokol memintanya untuk menghidupkan mesinnya selama tiga jam. Selain itu rata-rata alat hanya dihidupkan antara satu setengah hingga dua setengah jam.

       ”Sampai sekarang alatnya lancar terus dan tidak pernah gagal mematikan sinyal. Kecuali sinyal dari kabel fiber optik, baru tidak bisa. Nanti kalau sinyal 4,5 G atau 5 G sudah mulai banyak digunakan. Kita akan update lagi,” pungkas Rofiq sambil tersenyum.

(bw/fre/aif/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia