Minggu, 22 Jul 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling
Ke Alas Purwo, Sembunyi dari Peradaban (1)

Selalu Terbayang Kawasan Angker, Wingit, dan Medeni

Minggu, 10 Dec 2017 11:55 | editor : Ali Sodiqin

Penangkaran hewan langka di pintu masuk Alas Purwo.

Penangkaran hewan langka di pintu masuk Alas Purwo. (Shulhan Hadi/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Mendengar nama Alas Purwo, selalu terbayang sebagai kawasan angker, wingit, bahkan medeni. Itu karena Alas Purwo memang dikenal sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin Asia.

ALI SODIQIN, Alas Purwo

Alas Purwo juga terdapat beberapa tempat yang dianggap kramat, sakral, dan menyimpan daya magis tinggi. Seperti di goa Istana, goa Padepokan, goa Mayangkoro. Konon, di tempat tersebut presiden pertama RI, Ir Soekarno, pernah bertapa.

Apalagi, saat memasuki kawasan tersebut, pengunjung akan dikejutkan dengan tulisan berbahasa Indonesia; Alam itu pasrah kepadamu. Sebuah pesan yang bermakna sangat mendalam. Bahwa, kerusakan alam lebih disebabkan ulah tangan manusia.

Jalan menuju Alas Purwo kini sudah mulus.

Jalan menuju Alas Purwo kini sudah mulus. (Bagus Rio/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Mitos yang hingga kini masih berkembang di masyarakat; siapapun yang mengambil tumbuhan atau hewan di Alas Purwo, akan berakibat fatal di kemudian hari. Mungkin karena itu, di resort Rowobendo, pintu masuk ke Alas Purwo, tertulis pesan; Jangan tinggalkan apapun, kecuali telapak kaki. Dan jangan mengambil apapun, kecuali foto.

Sejatinya, pesan tersebut bukan karena anggapan Alas Purwo masih angker. Namun lebih untuk menjaga kelestarian hutan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pada awal 1990-an itu. Selain wisata religius, Alas Purwo sendiri sebetulnya menyimpan ragam obyek wisata menarik.

Pantai Trianggulasi di Taman Nasional Alas Purwo

Pantai Trianggulasi di Taman Nasional Alas Purwo (Rendra Kurnia/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Tak cuma pepohonan rindang yang berumur ratusan tahun dengan hewan-hewan langka yang dapat dijumpai di sepanjang perjalanan, juga terhampar puluhan kilometer pantai berpasir putih bersih. Cerita-cerita kuno yang ada di komik dan film-film tentang orang-orang yang melepas kehidupan duniawi, juga dapat dijumpai di hutan seluas 43.420 ha itu.

Ada dua alternatif rute untuk mencapai kawasan ini. Pertama dari arah Banyuwangi ke Kalipahit lewat Muncar. Jaraknya sekitar 59 km. Atau kira-kira 120 menit perjalanan kendaraan bermotor. Dari Kalipait menuju Pasaranyar (3 km), kemudian ke pos Rowobendo (10 km). Rute kedua dari Jember menuju Benculuk (80 km), kemudian langsung ke Kalipait (20 km). Biasanya, setelah beristirahat sejenak di pos Rowobendo, pengunjung melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat wisata yang ada di dalam taman nasional.

Fotografer berburu hewan liar di Sadengan.

Fotografer berburu hewan liar di Sadengan. (GALIH COKRO/JawaPos)

Jika lebih dulu pergi ke arah Trianggulasi, Pancur, Sadengan, atau Plengkung, di samping kiri kendaraan akan terlihat bangunan mirip candi di Jawa Tengah. Itu adalah Pura Luhur Giri Salaka. Tempat peribadatan umat Hindu Bali dan Banyuwangi untuk merayakan upacara Pagerwesi setiap 210 hari sekali. Masyarakat yang tinggal di sekitar Alas Purwo ini mayoritas berasal dari Jawa Tradisional.

Piodalan agung juga digelar Pura Giri di kawasan Taman Nasional Alas Purwo.

Piodalan agung juga digelar Pura Giri di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. (Agus Baihaqi/RadarBanyuwangi)

Mereka adalah pendatang dari Jawa (Mataraman). Karena itu, tradisi kejawen seperti yang kerap dilakukan umat Hindu, yakni bertapa atau bersemedi, masih sering dilakukan masyarakat di sini. Pada hari-hari tertentu seperti malam 1 Suro, bulan purnama, atau bulan mati, masyarakat Hindu Bali dan ahli kebatinan Jawa sengaja datang ke taman nasional ini untuk meditasi atau melaksanakan upacara religius. (bersambung)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia