alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Deteksi Kadar Air dalam Tanah, Tes Geolistrik sebelum Bangun Sumur Bor

RadarBanyuwangi.id – Tim Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi ”turun gunung” ke Desa Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo, kemarin (26/8). Mereka datang untuk melakukan tes geolistrik pada lokasi yang rencananya akan dibangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air irigasi di desa setempat.

Kali ini, tim datang dipimpin langsung Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo. Selain Guntur, pengetesan juga disaksikan Kepala Desa (Kades) Sidowangi Muansin.

Guntur mengatakan, tes geolistrik merupakan salah satu cara paling akurat untuk mendeteksi keberadaan lapisan akuifer, yakni lapisan bawah tanah yang mengandung air dan mampu mengalirkan air. Hal ini disebabkan lapisan tersebut bersifat permeabel yang mampu mengalirkan air, baik karena adanya pori-pori pada lapisan tersebut ataupun karena sifat dari lapisan batuan tertentu. ”Jadi, akuifer ini berbeda dengan air tanah dangkal,” ujarnya.

Guntur menyebut, pasokan air akuifer relatif stabil. Tidak terpengaruh musim hujan dan musim kemarau. ”Air akuifer akan terus ada sepanjang tahun,” kata dia.

Menurut Guntur, pengetesan geolistrik dilakukan guna menghindari ketidakakuratan pada saat akan melakukan pengeboran. ”Ini untuk menjamin saat kita akan melakukan pengeboran, di bawah sana benar-benar ada airnya. Debit airnya konstan,” terangnya.

Masih menurut Guntur, pengetesan geolistrik dilakukan di Desa Sidowangi karena Pemkab Banyuwangi mendapat usul dari pemerintah desa setempat. Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Sidowangi mengusulkan pembangunan sumur bor untuk mencukupi kebutuhan air bagi warga dan air irigasi.

Selain mengusulkan kepada pemkab, pihak Pemdes Sidowangi juga sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan yang akan dihibahkan kepada pemerintah desa setempat untuk dijadikan lokasi sumur bor. ”Nah, jika hasil pengetesan geolistrik menyatakan di lokasi ini memang terdapat lapisan akuifer, maka pembangunan sumur bor akan dilakukan pada tahun depan,” bebernya.

Dikonfirmasi di lokasi yang sama, Kades Sidowangi Muansin menuturkan, selain untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga, sumur bor dibutuhkan untuk mencukupi air irigasi di desa yang dia pimpin tersebut. ”Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian warga kami. Kalau irigasi lancar, maka hasil pertanian warga kami yang mayoritas adalah petani akan meningkat,” ujarnya.

Menurut Muansin, potensi pertanian di Desa Sidowangi sangat besar. Terdapat lahan pertanian seluas 634 hektare (ha) dengan komoditas jagung, tembakau, dan cabai. Namun sayang, selama ini petani di desa tersebut hanya mampu panen sekali dalam setahun.

Dikatakan, selama ini pertanian di Desa Sidowangi dilakukan dengan sistem tadah hujan. Di sisi lain, imbuh Muansin, musim hujan di wilayah Sidowangi datang lebih lambat dan berlalu lebih cepat dibandingkan daerah lain.

Muansin menuturkan, biasanya, saat musim hujan petani menanam jagung. Saat tanaman jagung tumbuh tinggi, maka di bawah tanaman jagung itu akan ditanami cabai rawit atau tembakau. ”Nah, saat masa pertumbuhan cabai atau tembakau inilah kebutuhan air sangat besar sehingga dibutuhkan pengeboran. Di sisi lain, saat perkembangan cabai atau tembakau, biasanya musim hujan sudah berlalu,” tuturnya.

Jika ada sumur bor, kata Hamsin, diharapkan petani yang selama ini hanya panen sekali dalam setahun, bisa panen sepanjang tahun. ”Sehingga kesejahteraan petani meningkat. Ini juga secara otomatis akan menjamin pasokan cabai di Banyuwangi tetap stabil,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)

RadarBanyuwangi.id – Tim Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi ”turun gunung” ke Desa Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo, kemarin (26/8). Mereka datang untuk melakukan tes geolistrik pada lokasi yang rencananya akan dibangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air irigasi di desa setempat.

Kali ini, tim datang dipimpin langsung Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo. Selain Guntur, pengetesan juga disaksikan Kepala Desa (Kades) Sidowangi Muansin.

Guntur mengatakan, tes geolistrik merupakan salah satu cara paling akurat untuk mendeteksi keberadaan lapisan akuifer, yakni lapisan bawah tanah yang mengandung air dan mampu mengalirkan air. Hal ini disebabkan lapisan tersebut bersifat permeabel yang mampu mengalirkan air, baik karena adanya pori-pori pada lapisan tersebut ataupun karena sifat dari lapisan batuan tertentu. ”Jadi, akuifer ini berbeda dengan air tanah dangkal,” ujarnya.

Guntur menyebut, pasokan air akuifer relatif stabil. Tidak terpengaruh musim hujan dan musim kemarau. ”Air akuifer akan terus ada sepanjang tahun,” kata dia.

Menurut Guntur, pengetesan geolistrik dilakukan guna menghindari ketidakakuratan pada saat akan melakukan pengeboran. ”Ini untuk menjamin saat kita akan melakukan pengeboran, di bawah sana benar-benar ada airnya. Debit airnya konstan,” terangnya.

Masih menurut Guntur, pengetesan geolistrik dilakukan di Desa Sidowangi karena Pemkab Banyuwangi mendapat usul dari pemerintah desa setempat. Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Sidowangi mengusulkan pembangunan sumur bor untuk mencukupi kebutuhan air bagi warga dan air irigasi.

Selain mengusulkan kepada pemkab, pihak Pemdes Sidowangi juga sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan yang akan dihibahkan kepada pemerintah desa setempat untuk dijadikan lokasi sumur bor. ”Nah, jika hasil pengetesan geolistrik menyatakan di lokasi ini memang terdapat lapisan akuifer, maka pembangunan sumur bor akan dilakukan pada tahun depan,” bebernya.

Dikonfirmasi di lokasi yang sama, Kades Sidowangi Muansin menuturkan, selain untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga, sumur bor dibutuhkan untuk mencukupi air irigasi di desa yang dia pimpin tersebut. ”Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian warga kami. Kalau irigasi lancar, maka hasil pertanian warga kami yang mayoritas adalah petani akan meningkat,” ujarnya.

Menurut Muansin, potensi pertanian di Desa Sidowangi sangat besar. Terdapat lahan pertanian seluas 634 hektare (ha) dengan komoditas jagung, tembakau, dan cabai. Namun sayang, selama ini petani di desa tersebut hanya mampu panen sekali dalam setahun.

Dikatakan, selama ini pertanian di Desa Sidowangi dilakukan dengan sistem tadah hujan. Di sisi lain, imbuh Muansin, musim hujan di wilayah Sidowangi datang lebih lambat dan berlalu lebih cepat dibandingkan daerah lain.

Muansin menuturkan, biasanya, saat musim hujan petani menanam jagung. Saat tanaman jagung tumbuh tinggi, maka di bawah tanaman jagung itu akan ditanami cabai rawit atau tembakau. ”Nah, saat masa pertumbuhan cabai atau tembakau inilah kebutuhan air sangat besar sehingga dibutuhkan pengeboran. Di sisi lain, saat perkembangan cabai atau tembakau, biasanya musim hujan sudah berlalu,” tuturnya.

Jika ada sumur bor, kata Hamsin, diharapkan petani yang selama ini hanya panen sekali dalam setahun, bisa panen sepanjang tahun. ”Sehingga kesejahteraan petani meningkat. Ini juga secara otomatis akan menjamin pasokan cabai di Banyuwangi tetap stabil,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/