alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Dorong Peran Aktif Pemuda dalam Pemulihan Ekonomi

BANYUWANGI – Bupati Ipuk Fiestiandani mendorong para pemuda lintas agama berperan aktif dalam pembangunan Banyuwangi. Tidak terkecuali dalam upaya pemulihan ekonomi yang sempat terpuruk imbas pandemi Covid-19.

Dorongan itu dia sampaikan dalam dialog kepemudaan bertajuk ”Peningkatan Peran Remaja, Pemuda, dan Tokoh Lintas Agama dalam Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi Menuju Banyuwangi Maju, Unggul, dan Sejahtera”, Kamis (23/12). Dialog yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi tersebut diikuti ratusan peserta asal lintas elemen, mulai kalangan remaja, pemuda, dan tokoh lintas agama, serta penyuluh agama Islam bidang KUB se-Banyuwangi.

Hadir dalam kegiatan ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH M. Yamin LC, Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Pendeta Anang Sugeng, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Suminto, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Eka Wahyu Widayat, Pengurus Paroki Banyuwangi Yos Sumiyatna, perwakilan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Indrana Cahyana, dan seluruh pengurus FKUB dari ormas Islam. Yakni NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan LDII.

Bupati Ipuk mengatakan, sebagai penduduk usia produktif, pemuda harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan. ”Pemuda harus bisa berinovasi dan melakukan eksekusi sesuai dengan kapasitasnya, ” ujarnya.

Ipuk mengatakan Indonesia mengalami bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif , yakni usia 15 sampai 64 tahun lebih besar daripada jumlah penduduk non produktif. Berdasar data Sensus Penduduk Tahun 2020, sebanyak 53 persen atau sekitar 90 juta penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda.

Ipuk juga mengajak seluruh anak muda turut ambil bagian dalam upaya moderasi beragama. Yakni sikap teguh memegang nilai-nilai agama sekaligus menaruh hormat kepada mereka yang berbeda agama. ”Anak muda harus terlibat langsung dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama. Sehingga terbentuk harmonisasi, kerukunan, dan toleransi antarumat beragama yang menjadi modal sosial pendukung percepatan pembangunan daerah,” kata dia.

Pemkab Banyuwangi, imbuh Ipuk, telah menggeber berbagai program  peningkatan kapasitas para pemuda. Misalnya, melalui program inkubasi Jagoan Banyuwangi, UMKM Naik Kelas, pelatihan digital marketing bagi pemuda, dan masih banyak lainnya. ”Dengan beragam program ini kami ingin mencetak anak muda Banyuwangi yang mandiri dan berdaya. Sehingga mereka bisa mempersiapkan diri menghadapi zaman yang terus berkembang secara dinamis,” tuturnya.

Misalnya lewat program Jagoan Banyuwangi, pemkab mencetak ratusan pengusaha muda baru di sektor pertanian, digital, maupun bisnis lainnya. ”Anak-anak muda kita bekali skill agar bisa menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Dengan demikian mereka bisa berperan dalam menggerakkan perekonomian Banyuwangi,” tutur Ipuk.

Sementara itu, Ketua FKUB Banyuwangi KH M. Yamin LC yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi menyebut, kegiatan kepemudaan semacam ini rutin digelar setiap tahun. ”Tujuannya untuk menyemai nilai-nilai toleransi dan kerukunan di kalangan pemuda lintas agama, sehingga ada kesepahaman dan persamaan tujuan menciptakan Banyuwangi yang lebih sejahtera,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, para remaja dan pemuda lintas agama mendapatkan berbagai materi tentang moderasi beragama dari sejumlah narasumber. Di antaranya, dari Kantor Kementerian Agama, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik,  serta FKUB Banyuwangi. 

BANYUWANGI – Bupati Ipuk Fiestiandani mendorong para pemuda lintas agama berperan aktif dalam pembangunan Banyuwangi. Tidak terkecuali dalam upaya pemulihan ekonomi yang sempat terpuruk imbas pandemi Covid-19.

Dorongan itu dia sampaikan dalam dialog kepemudaan bertajuk ”Peningkatan Peran Remaja, Pemuda, dan Tokoh Lintas Agama dalam Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi Menuju Banyuwangi Maju, Unggul, dan Sejahtera”, Kamis (23/12). Dialog yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi tersebut diikuti ratusan peserta asal lintas elemen, mulai kalangan remaja, pemuda, dan tokoh lintas agama, serta penyuluh agama Islam bidang KUB se-Banyuwangi.

Hadir dalam kegiatan ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH M. Yamin LC, Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Pendeta Anang Sugeng, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Suminto, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Eka Wahyu Widayat, Pengurus Paroki Banyuwangi Yos Sumiyatna, perwakilan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Indrana Cahyana, dan seluruh pengurus FKUB dari ormas Islam. Yakni NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan LDII.

Bupati Ipuk mengatakan, sebagai penduduk usia produktif, pemuda harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan. ”Pemuda harus bisa berinovasi dan melakukan eksekusi sesuai dengan kapasitasnya, ” ujarnya.

Ipuk mengatakan Indonesia mengalami bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif , yakni usia 15 sampai 64 tahun lebih besar daripada jumlah penduduk non produktif. Berdasar data Sensus Penduduk Tahun 2020, sebanyak 53 persen atau sekitar 90 juta penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda.

Ipuk juga mengajak seluruh anak muda turut ambil bagian dalam upaya moderasi beragama. Yakni sikap teguh memegang nilai-nilai agama sekaligus menaruh hormat kepada mereka yang berbeda agama. ”Anak muda harus terlibat langsung dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama. Sehingga terbentuk harmonisasi, kerukunan, dan toleransi antarumat beragama yang menjadi modal sosial pendukung percepatan pembangunan daerah,” kata dia.

Pemkab Banyuwangi, imbuh Ipuk, telah menggeber berbagai program  peningkatan kapasitas para pemuda. Misalnya, melalui program inkubasi Jagoan Banyuwangi, UMKM Naik Kelas, pelatihan digital marketing bagi pemuda, dan masih banyak lainnya. ”Dengan beragam program ini kami ingin mencetak anak muda Banyuwangi yang mandiri dan berdaya. Sehingga mereka bisa mempersiapkan diri menghadapi zaman yang terus berkembang secara dinamis,” tuturnya.

Misalnya lewat program Jagoan Banyuwangi, pemkab mencetak ratusan pengusaha muda baru di sektor pertanian, digital, maupun bisnis lainnya. ”Anak-anak muda kita bekali skill agar bisa menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Dengan demikian mereka bisa berperan dalam menggerakkan perekonomian Banyuwangi,” tutur Ipuk.

Sementara itu, Ketua FKUB Banyuwangi KH M. Yamin LC yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi menyebut, kegiatan kepemudaan semacam ini rutin digelar setiap tahun. ”Tujuannya untuk menyemai nilai-nilai toleransi dan kerukunan di kalangan pemuda lintas agama, sehingga ada kesepahaman dan persamaan tujuan menciptakan Banyuwangi yang lebih sejahtera,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, para remaja dan pemuda lintas agama mendapatkan berbagai materi tentang moderasi beragama dari sejumlah narasumber. Di antaranya, dari Kantor Kementerian Agama, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik,  serta FKUB Banyuwangi. 

Artikel Terkait

Most Read

Buku Penyambung Silaturahim

Uniba Yudisium 444 Mahasiswa

Biasakan Bicara Boso Oseng

Artikel Terbaru

/