alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Duo Prancis Kolaborasi Jaga Kebersihan Sungai Banyuwangi

RadarBanyuwangi.id – Kakak beradik Prancis yang sempat viral karena aksinya membersihkan Sungai Citarum, Jawa Barat pada 2017 lalu, Gary Bencheghib dan Sam Bencheghib, berkunjung ke Banyuwangi. Mereka datang bersama organisasi yang didirikan Gary, yakni Sungai Watch, untuk berkolaborasi menjaga dan membersihkan sungai di Bumi Blambangan dari sampah. 

Pada 2017 lalu, Gary dan Sam mengarungi Sungai Citarum dengan dua kano yang terbuat dari plastik. Mereka menjelajahi sungai terpanjang di Jawa Barat itu selama dua pekan untuk membersihkan sampah. Aksi mereka mendapat apresiasi dari Presiden RI Joko Widodo. 

Bukan itu saja, dua bersaudara itu juga sedang giat membersihkan sungai di Pulau Bali. Berawal dari membersihkan sampah plastik di pantai-pantai Pulau Dewata, mereka juga membersihkan sampah sungai. Mereka lalu mengajak anak-anak muda Bali untuk turut menjadi relawan penjaga sungai.

Nah, kali ini, Gary bersama timnya datang ke Banyuwangi menemui Bupati Ipuk Fiestiandani, Rabu malam (25/8). Ditemani Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Guntur Priambodo dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Husnul Chotimah, mereka membahas kolaborasi untuk menjaga dan membersihkan sungai dari sampah. 

Gary mengatakan, mayoritas sampah di laut berasal dari sampah-sampah di sungai. Karena itu pihaknya berinisiatif membersihkan sungai bersama anak-anak muda Bali. Di Bali, Sungai Watch menjaga kebersihan 300 sungai di Tabanan, Badung, dan Denpasar. ”Banyak anak muda Bali yang bergabung bersama kami. Kini kami ingin melakukan hal serupa di Banyuwangi,” ujarnya.

Berbagai cara telah dilakukan Sungai Watch untuk membersihkan sampah di sungai. Berbagai proses telah mereka pelajari. Hingga akhirnya mereka menemukan teknik penghalang sampah dengan menggunakan tabung penghalang. Pada akhir 2020 mereka telah berhasil memasang 100 penghalang sampah di Bali. Mereka menargetkan pemasangan penghalang sampah serupa dilakukan di 1.000 titik lagi. 

Setiap jaring penghalang berpotensi menjaring sampah dari berbagai jenis. Setiap hari mereka bisa mengumpulkan sampah 200 kilogram (kg). Bahkan, ketika hujan bisa mencapai 1 ton sampah. Tidak hanya memasang penghalang sampah, mereka juga mendata dan menganalisis sampah-sampah, terutama sampah plastik yang berasal dari sungai. Mereka juga mendata asal sampah plastik dari ratusan ribu brand perusahaan. 

Sampah-sampah yang mereka dapatkan itu lalu mereka daur ulang menjadi berbagai barang, seperti batako, paving, dan lainnya. Bahkan adik Gary, yakni Sam, membuat sepatu daur ulang dari plastik. Sepatu itu telah dia coba untuk berlari di New York dan Los Angeles. ”Sepatu daur ulang juga kuat. Kami berencana lari di Danau Toba menggunakan sepatu daur ulang ini,” kata Sam. 

Project Manager Sungai Watch Nola Monica Jeniya mengatakan, ketika timnya sudah berjalan dan masih ada sampah, mereka akan mempelajari di mana letak kesalahannya dan akan mengulangi dari awal lagi.

Sementara itu, Bupati Ipuk sangat mengapresiasi aksi dari Gary bersama Sungai Watch. Bahkan Ipuk sebenarnya sudah lama ingin bertemu. ”Saya sudah lama follow Instagram Sungai Watch. Sejak lama saya ingin bertemu mereka. Ingin mendengar dan melihat langsung aksi mereka. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bertemu. Kami akan tindak lanjuti hasil pertemuan ini. Dengan teknologi dan ide-ide kreatif, kita bisa menjaga sungai dan laut dari sampah,” ujarnya. 

Ipuk mengatakan di Banyuwangi berbagai lembaga yang bergerak di lingkungan hidup telah diajak kerja sama. Seperti Non Government Organization (NGO) Systemiq yang melakukan pendampingan untuk penanganan sampah laut di Kecamatan Muncar. ”Tentu dengan kehadiran Sungai Watch di Banyuwangi akan sangat membantu kami dalam menjaga ekosistem sungai dan laut Banyuwangi,” kata dia. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Husnul Chotimah mengatakan bahwa panjang sungai di Banyuwangi sekitar 175.400 meter. Beberapa di antaranya dimanfaatkan untuk budi daya ikan dan wisata. 

Sementara itu, setelah bertemu Bupati Ipuk, Gary, Sam, dan tim Sungai Watch didampingi Plt Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo langsung melakukan tinjau lapangan ke sejumlah sungai di Banyuwangi kemarin (26/8). Salah satunya Kali Lo. ”Kami sudah meninjau Kali Lo untuk siap bersinergi dan berkolaborasi dengan Sungai Watch guna penanganan permasalahan sampah di sungai Banyuwangi,” kata Guntur. (sgt/afi/c1)

RadarBanyuwangi.id – Kakak beradik Prancis yang sempat viral karena aksinya membersihkan Sungai Citarum, Jawa Barat pada 2017 lalu, Gary Bencheghib dan Sam Bencheghib, berkunjung ke Banyuwangi. Mereka datang bersama organisasi yang didirikan Gary, yakni Sungai Watch, untuk berkolaborasi menjaga dan membersihkan sungai di Bumi Blambangan dari sampah. 

Pada 2017 lalu, Gary dan Sam mengarungi Sungai Citarum dengan dua kano yang terbuat dari plastik. Mereka menjelajahi sungai terpanjang di Jawa Barat itu selama dua pekan untuk membersihkan sampah. Aksi mereka mendapat apresiasi dari Presiden RI Joko Widodo. 

Bukan itu saja, dua bersaudara itu juga sedang giat membersihkan sungai di Pulau Bali. Berawal dari membersihkan sampah plastik di pantai-pantai Pulau Dewata, mereka juga membersihkan sampah sungai. Mereka lalu mengajak anak-anak muda Bali untuk turut menjadi relawan penjaga sungai.

Nah, kali ini, Gary bersama timnya datang ke Banyuwangi menemui Bupati Ipuk Fiestiandani, Rabu malam (25/8). Ditemani Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Guntur Priambodo dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Husnul Chotimah, mereka membahas kolaborasi untuk menjaga dan membersihkan sungai dari sampah. 

Gary mengatakan, mayoritas sampah di laut berasal dari sampah-sampah di sungai. Karena itu pihaknya berinisiatif membersihkan sungai bersama anak-anak muda Bali. Di Bali, Sungai Watch menjaga kebersihan 300 sungai di Tabanan, Badung, dan Denpasar. ”Banyak anak muda Bali yang bergabung bersama kami. Kini kami ingin melakukan hal serupa di Banyuwangi,” ujarnya.

Berbagai cara telah dilakukan Sungai Watch untuk membersihkan sampah di sungai. Berbagai proses telah mereka pelajari. Hingga akhirnya mereka menemukan teknik penghalang sampah dengan menggunakan tabung penghalang. Pada akhir 2020 mereka telah berhasil memasang 100 penghalang sampah di Bali. Mereka menargetkan pemasangan penghalang sampah serupa dilakukan di 1.000 titik lagi. 

Setiap jaring penghalang berpotensi menjaring sampah dari berbagai jenis. Setiap hari mereka bisa mengumpulkan sampah 200 kilogram (kg). Bahkan, ketika hujan bisa mencapai 1 ton sampah. Tidak hanya memasang penghalang sampah, mereka juga mendata dan menganalisis sampah-sampah, terutama sampah plastik yang berasal dari sungai. Mereka juga mendata asal sampah plastik dari ratusan ribu brand perusahaan. 

Sampah-sampah yang mereka dapatkan itu lalu mereka daur ulang menjadi berbagai barang, seperti batako, paving, dan lainnya. Bahkan adik Gary, yakni Sam, membuat sepatu daur ulang dari plastik. Sepatu itu telah dia coba untuk berlari di New York dan Los Angeles. ”Sepatu daur ulang juga kuat. Kami berencana lari di Danau Toba menggunakan sepatu daur ulang ini,” kata Sam. 

Project Manager Sungai Watch Nola Monica Jeniya mengatakan, ketika timnya sudah berjalan dan masih ada sampah, mereka akan mempelajari di mana letak kesalahannya dan akan mengulangi dari awal lagi.

Sementara itu, Bupati Ipuk sangat mengapresiasi aksi dari Gary bersama Sungai Watch. Bahkan Ipuk sebenarnya sudah lama ingin bertemu. ”Saya sudah lama follow Instagram Sungai Watch. Sejak lama saya ingin bertemu mereka. Ingin mendengar dan melihat langsung aksi mereka. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bertemu. Kami akan tindak lanjuti hasil pertemuan ini. Dengan teknologi dan ide-ide kreatif, kita bisa menjaga sungai dan laut dari sampah,” ujarnya. 

Ipuk mengatakan di Banyuwangi berbagai lembaga yang bergerak di lingkungan hidup telah diajak kerja sama. Seperti Non Government Organization (NGO) Systemiq yang melakukan pendampingan untuk penanganan sampah laut di Kecamatan Muncar. ”Tentu dengan kehadiran Sungai Watch di Banyuwangi akan sangat membantu kami dalam menjaga ekosistem sungai dan laut Banyuwangi,” kata dia. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Husnul Chotimah mengatakan bahwa panjang sungai di Banyuwangi sekitar 175.400 meter. Beberapa di antaranya dimanfaatkan untuk budi daya ikan dan wisata. 

Sementara itu, setelah bertemu Bupati Ipuk, Gary, Sam, dan tim Sungai Watch didampingi Plt Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo langsung melakukan tinjau lapangan ke sejumlah sungai di Banyuwangi kemarin (26/8). Salah satunya Kali Lo. ”Kami sudah meninjau Kali Lo untuk siap bersinergi dan berkolaborasi dengan Sungai Watch guna penanganan permasalahan sampah di sungai Banyuwangi,” kata Guntur. (sgt/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/