alexametrics
25 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Jelang Musim Hujan, Tingkatkan Antisipasi Bencana

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi mulai menata langkah untuk menyambut musim hujan yang diprediksi bakal segera tiba. Salah satunya dengan menggelar apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi kemarin (25/10).

Personel gabungan dari berbagai unsur TNI, Polri, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Palang Merah Indonesia (PMI) dilibatkan dalam apel yang digelar di Taman Blambangan Banyuwangi.

Apel tersebut dipimpin Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0825 Banyuwangi Letkol (Inf) Yuli Eko Purwanto, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Letkol (P) Ansori, dan Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu. Selain itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH M. Yamin juga tampak hadir dalam kegiatan ini.

Sekadar diketahui, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang diakibatkan parameter meteorologi (curah hujan, kelembapan udara, temperatur, dan angin). Bencana dimaksud meliputi banjir, angin puting beliung, longsor, abrasi, hingga gelombang pasang. Kerawanan tersebut bertambah seiring dengan masuknya musim penghujan.

Bupati Ipuk mengatakan, Banyuwangi merupakan wilayah yang rawan bencana dengan potensi bencana yang sangat beragam. ”Mulai dari erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga banjir,” ujarnya.

Kerawanan tersebut, lanjut Ipuk, semakin meningkat seiring dengan masuknya musim hujan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan banjir di sejumlah titik. ”Maka kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya bencana harus kita tingkatkan. Apel ini sebagai bentuk kesiapsiagaan seluruh elemen di Banyuwangi,” tegasnya.

Usai melakukan apel, Ipuk bersama jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Banyuwangi melakukan pengecekan dan melihat langsung kesiapan seluruh peralatan dan para personel gabungan yang terlibat.

Kapolresta AKBP Nasrun Pasaribu mengatakan, keberhasilan penanggulangan bencana sangat bergantung pada sistem penanggulangan bencana yang didukung sarana dan prasarana yang mumpuni. Serta koordinasi yang baik antar-stakeholder dan masyarakat di wilayah rawan bencana. ”Mari kita bahu-membahu terus melatih   budaya siaga bencana melalui rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana,” ajaknya.

Menurut Nasrun, apel ini sebagai bagian dari upaya pengecekan personel dan materiil untuk menunjang kesiapsiagaan bencana di Banyuwangi. ”Ini adalah langkah antisipasi. Bencana memang tidak kita inginkan, tetapi kita harus siap jauh-jauh hari untuk menghadapi bencana,” kata dia.

Menurut Nasrun, pihaknya telah mengindentifikasi sejumlah titik rawan bencana di Banyuwangi. Seperti daerah pegunungan yang rawan akan bencana gunung berapi dan tanah longsor, gempa bumi, dan bencana tsunami dan air rob di pesisir laut. ”Rawan bencana di Banyuwangi kompleks, mulai dari gunung berapi, gempa bumi, longsor, laut, hingga potensi kebakaran hutan yang terjadi tahun lalu,” terangnya.

Maka dari itu, lanjut Nasrun, untuk meningkatkan kesigapan bencana pihaknya terus melakukan simulasi kebencanaan di samping penanggulangan Covid-19 yang tetap menjadi prioritas penanganan. ”Covid-19 tetap jadi prioritas perhatian di Banyuwangi. Namun, masalah bencana alam tetap harus kita antisipasi,” pungkasnya. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi mulai menata langkah untuk menyambut musim hujan yang diprediksi bakal segera tiba. Salah satunya dengan menggelar apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi kemarin (25/10).

Personel gabungan dari berbagai unsur TNI, Polri, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Palang Merah Indonesia (PMI) dilibatkan dalam apel yang digelar di Taman Blambangan Banyuwangi.

Apel tersebut dipimpin Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0825 Banyuwangi Letkol (Inf) Yuli Eko Purwanto, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Letkol (P) Ansori, dan Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu. Selain itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH M. Yamin juga tampak hadir dalam kegiatan ini.

Sekadar diketahui, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang diakibatkan parameter meteorologi (curah hujan, kelembapan udara, temperatur, dan angin). Bencana dimaksud meliputi banjir, angin puting beliung, longsor, abrasi, hingga gelombang pasang. Kerawanan tersebut bertambah seiring dengan masuknya musim penghujan.

Bupati Ipuk mengatakan, Banyuwangi merupakan wilayah yang rawan bencana dengan potensi bencana yang sangat beragam. ”Mulai dari erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga banjir,” ujarnya.

Kerawanan tersebut, lanjut Ipuk, semakin meningkat seiring dengan masuknya musim hujan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan banjir di sejumlah titik. ”Maka kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya bencana harus kita tingkatkan. Apel ini sebagai bentuk kesiapsiagaan seluruh elemen di Banyuwangi,” tegasnya.

Usai melakukan apel, Ipuk bersama jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Banyuwangi melakukan pengecekan dan melihat langsung kesiapan seluruh peralatan dan para personel gabungan yang terlibat.

Kapolresta AKBP Nasrun Pasaribu mengatakan, keberhasilan penanggulangan bencana sangat bergantung pada sistem penanggulangan bencana yang didukung sarana dan prasarana yang mumpuni. Serta koordinasi yang baik antar-stakeholder dan masyarakat di wilayah rawan bencana. ”Mari kita bahu-membahu terus melatih   budaya siaga bencana melalui rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana,” ajaknya.

Menurut Nasrun, apel ini sebagai bagian dari upaya pengecekan personel dan materiil untuk menunjang kesiapsiagaan bencana di Banyuwangi. ”Ini adalah langkah antisipasi. Bencana memang tidak kita inginkan, tetapi kita harus siap jauh-jauh hari untuk menghadapi bencana,” kata dia.

Menurut Nasrun, pihaknya telah mengindentifikasi sejumlah titik rawan bencana di Banyuwangi. Seperti daerah pegunungan yang rawan akan bencana gunung berapi dan tanah longsor, gempa bumi, dan bencana tsunami dan air rob di pesisir laut. ”Rawan bencana di Banyuwangi kompleks, mulai dari gunung berapi, gempa bumi, longsor, laut, hingga potensi kebakaran hutan yang terjadi tahun lalu,” terangnya.

Maka dari itu, lanjut Nasrun, untuk meningkatkan kesigapan bencana pihaknya terus melakukan simulasi kebencanaan di samping penanggulangan Covid-19 yang tetap menjadi prioritas penanganan. ”Covid-19 tetap jadi prioritas perhatian di Banyuwangi. Namun, masalah bencana alam tetap harus kita antisipasi,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/