alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Jadi Tim Sukses, Wartawan Wajib Mundur

BANYUWANGI – Sekitar 150 jurnalis Banyuwangi sepakat untuk mendukung Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) damai. Selain mendukung pilkada damai, juga menolak segala bentuk kekerasan terorisme dan memerangi berita hoaks.

Demikian terungkap dalam acara sarasehan peningkatan mutu ormas melalui workshop jurnalisme damai yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) di Hotel Ikhtiar Surya kemarin (24/5). Acara itu menghadirkan Kepala Bakesbangpol Wiyono, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi Syaifuddin Mahmud, dan Kontributor Metro TV Andi Himawan sebagai narasumber.

Wiyono mengatakan, kegiatan sarasehan tersebut bertujuan memberikan wawasan terhadap insan pers di Banyuwangi terutama dalam hal penulisan pilkada damai dan juga terorisme yang dalam beberapa pekan terakhir marak terjadi di Jawa Timur. ”Semoga insan pers di Banyuwangi lebih profesional dan berintegritas,” terangnya.

Syaifuddin Mahmud mengatakan, saat ini dalam hal penulisan berita terorisme hampir seluruh media sudah tidak lagi memunculkan berita dan foto yang berbau kekerasan. ”Saat terjadi serangan bom di Surabaya, hampir seluruh media judulnya soft dan menyejukkan. Gambarnya juga tidak ada yang vulgar,” jelas lelaki yang juga pemimpin redaksi Jawa Pos Radar Banyuwangi ini.

Dalam praktik penulisan berita pilkada, para awak media juga diimbau untuk tidak menayangkan berita yang memihak pada salah satu pasangan calon. Sehingga harus ada perimbangan dari pasangan calon lainnya. ”Jika ada wartawan yang menjadi tim sukses (TS) pasangan calon peserta pemilu, kami mohon untuk mundur dari profesi sebagai wartawan,” bebernya.

Tidak hanya itu, wartawan dalam melakukan peliputan dan penulisan berita pilkada hendaknya juga harus menjunjung tinggi netralitas dan menghindari isu SARA. Karena di beberapa isu SARA masih berpotensi digoreng untuk memecah belah persatuan dan kesatuan. ”Yang tak kalah penting wartawan harus cek dan ricek guna menghindari berita hoaks. Kami juga mendorong terciptanya demokrasi sebagai perekat dan pemersatu bangsa,” ujarnya.

Kontributor Metro TV Andi Himawan juga berpesan pada rekan-rekan jurnalis dalam melakukan peliputan terutama kasus terorisme, hendaknya juga memperhatikan keselamatan jiwa. ”Tidak ada berita seharga nyawa. Sehingga harus lebih waspada dengan berita yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa,” harapnya. (ddy/afi)

BANYUWANGI – Sekitar 150 jurnalis Banyuwangi sepakat untuk mendukung Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) damai. Selain mendukung pilkada damai, juga menolak segala bentuk kekerasan terorisme dan memerangi berita hoaks.

Demikian terungkap dalam acara sarasehan peningkatan mutu ormas melalui workshop jurnalisme damai yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) di Hotel Ikhtiar Surya kemarin (24/5). Acara itu menghadirkan Kepala Bakesbangpol Wiyono, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi Syaifuddin Mahmud, dan Kontributor Metro TV Andi Himawan sebagai narasumber.

Wiyono mengatakan, kegiatan sarasehan tersebut bertujuan memberikan wawasan terhadap insan pers di Banyuwangi terutama dalam hal penulisan pilkada damai dan juga terorisme yang dalam beberapa pekan terakhir marak terjadi di Jawa Timur. ”Semoga insan pers di Banyuwangi lebih profesional dan berintegritas,” terangnya.

Syaifuddin Mahmud mengatakan, saat ini dalam hal penulisan berita terorisme hampir seluruh media sudah tidak lagi memunculkan berita dan foto yang berbau kekerasan. ”Saat terjadi serangan bom di Surabaya, hampir seluruh media judulnya soft dan menyejukkan. Gambarnya juga tidak ada yang vulgar,” jelas lelaki yang juga pemimpin redaksi Jawa Pos Radar Banyuwangi ini.

Dalam praktik penulisan berita pilkada, para awak media juga diimbau untuk tidak menayangkan berita yang memihak pada salah satu pasangan calon. Sehingga harus ada perimbangan dari pasangan calon lainnya. ”Jika ada wartawan yang menjadi tim sukses (TS) pasangan calon peserta pemilu, kami mohon untuk mundur dari profesi sebagai wartawan,” bebernya.

Tidak hanya itu, wartawan dalam melakukan peliputan dan penulisan berita pilkada hendaknya juga harus menjunjung tinggi netralitas dan menghindari isu SARA. Karena di beberapa isu SARA masih berpotensi digoreng untuk memecah belah persatuan dan kesatuan. ”Yang tak kalah penting wartawan harus cek dan ricek guna menghindari berita hoaks. Kami juga mendorong terciptanya demokrasi sebagai perekat dan pemersatu bangsa,” ujarnya.

Kontributor Metro TV Andi Himawan juga berpesan pada rekan-rekan jurnalis dalam melakukan peliputan terutama kasus terorisme, hendaknya juga memperhatikan keselamatan jiwa. ”Tidak ada berita seharga nyawa. Sehingga harus lebih waspada dengan berita yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa,” harapnya. (ddy/afi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/