alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Mayoritas Warga NU, PKB, dan Loyalis Jokowi Pilih Khofifah-Emil

PEMILIHAN Gubernur Jawa Timur pada Pilkada Serentak 2018 menghadirkan dua kader Nahdlatul Ulama (NU), yakni Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf Kendati demikian, hasil Survei menunjukkan  mayoritas jemaah Nahdlatul ulama memilih Khofifah yang berpasangan dengan Bupati Trenggalek, Emil Elistianto Dardak.

Hal tersebut dibuktikan berdasarkan survei terbaru Pilgub Jawa Timur 2018 yang dilakukan Lembaga Survei Poltracking pada 6-11 Maret 2018. Survei membuktikan mayoritas warga NU memilih pasangan Khofifah-Emil dengan persentase sebesar 45,3 persen.

Sementara Ipul-Puti hanya 37,7 persen warga NU. Survei yang dilakukan Poltracking Indonesia menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan jumlah res­ponden 1.200 dan margin of error 2.83 persen serta tingkat keper­cayaan 95 per­sen. Survei dilakukan di 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur pada 6-11 Maret 2018.

Peneliti Associate Poltracking Arya Budi menjelaskan, sosok Kho­fifah sudah begitu mengakar di benak war­ga sebagai tokoh wanita NU. Selain itu, Khofifah adalah satu-satunya figur wanita NU yang memiliki massa besar se­hingga memiliki dukungan dari banyak kalangan. “Khofifah identik sebagai orang struktural di orga­nisasi Nahdliyyin. Dia juga mem­punyai basis kultural yang sangat kuat.Khofifah ini mempu­nyai keistimewaan mempunyai basis kultural yang sangat kuat se­bagai warga nahdliyyin. Dia memegang sa­ngat kuat terutama perempuan-perempuan nahdliy­yin dan Nah­­dliy­yin satu-satunya basis terkuat di Jawa Timur se­hingga itu yang membuat Khofifah sangat kuat di situ,”  jelas Arya di Surabaya, Sabtu (24/3).

Kemudian, Khofifah memiliki dukungan kuat dari dari tokoh-tokok besar, kiai-kiai kultural Nahdlatul Ulama. Sebut saja KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) yang menjadi Tim 9 Khofifah-Emil, hingga salah satu Tokoh PKB KH Robbach Ma’sum yang setia mengawal Khofifah di Pilgub Jatim 2018.

Faktor banyaknya warga NU yang memilih, berdampak pada banyak­nya kader PKB lebih me­milih Khofifah-Emil. PKB (Partai Kebang­kitan Bangsa) yang sebe­narnya partai pengusung utama pasangan Ipul-Puti, justru lebih banyak memberikan Suara ke­pada pasa­ngan nomor satu Khofifah-Emil.

Survei menyebutkan 50,5 persen kader PKB memilih pasangan Khofifah-Emil. Sementara sedikit­nya hanya 42,0 persen kader PKN yang mau memilih pasangan Ipul-Puti di Pilgub Jatim 2018 ini.

“Khofifah didukung kiai-kiai tradisional maupun kiai-kiai mo­dern dalam NU. Bahkan, dalam seleksi Cawagub yang akhirnya Emil Dardak itu juga proses dari para kiai,” tuturnya.

Seperti diketahui, pasangan Khofifah-Emil diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, Partai Nasdem, Hanura, dan PAN. Sementara pasangan nomor dua diusung partai yang sebelumnya kerap bersebrangan yakni, Gerindra, PDIP, PKB, PKS.

Dukungan untuk pasangan nomor satu ini semakin kuat de­ngan bergabung mayoritas pemilih presiden Joko Widodo. Hasil survei membuktikan mayoritas 48,8 persen pemilih Jokowi membe­ri­kan dukungan untuk Khofifah-Emil. Sedangkan Ipul Puti hanya dipilih 38 persen.

Arya menilai banyaknya pemi­lih Jokowi yang memberikan duku­ngan karena faktor kede­katan Khofifah dan Jokowi. Selain itu kiprah Khofifah yang selalu ber­sama Jokowi sejak Pilpres dan lamanya Kofifah sebagai Menteri Sosial menjadi faktor pe­narik suara.

“Itu yang banyak menjelaskan bahwa orang-orang yang mengi­dentikan Khofifah ini bagian repre­sentasi dari visi-misi, ide Jokowi. Misalnya metrokratik sistem, program kerja yang kerak­yatan bahkan ceruk pemilih yang cenderung nahdliyyin tapi nasionalis abangan juga memba­yangkan Khofifah sebagai orang yang tidak jauh dari Jokowi diban­ding Gus Ipul yang hanya memim­pin suatu daerah,” jelasnya.

Dukungan Loyalis Jokowi Bara JP

Hasil survei tersebut juga diamini bergabungnya loyalis pendukung Joko Widodo, Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) ke ba­ri­san pendukung pasangan Khofifah-Emil. Deklarasi duku­ngan tersebut secara resmi disam­paikan DPD Bara JP Jawa Timur di Kota Batu, Minggu (4/3) lalu.

“Secara DPD Jawa Timur kami menyatakan secara tersirat, kami mendukung Ibu Khofifah. Kami sudah menyatakan sikap untuk mendukung Bu Khofifah. Bentuk dukungannya akan banyak yang kita lakukan. Kami akan roadshow dan konsolidasi ke daerah-daerah untuk menggalang dukungan untuk Bu Khofifah,” kata Ketua Bara JP Jawa Timur, Giyanto Wijaya.

Selain itu di sela-sela blusukan, tampak personel Bara JP setia menemani Khofifah ke berbagai tempat. Dari mulai ketika Kho­fifah belusukan di Tuban hingga Po­no­rogo.

Bara JP dan Khofifah pun sema­kin lekat ketika menggelar makan malam bersama dan temu kangen silaturahmi di Hotel Majapahit, Surabaya Jumat malam lalu (23/3).

Sekretaris Jenderal Bara JP Pusat, Utje Gustaaf Patty menegaskan loyalis Jokowi setia bergerak ber­sama Khofifah. Utje menuturkan Khofifah dan Bara JP tidak bisa dipisahkan karena memiliki visi-misi dan nilai yang sama.

“Kami setia pada pak Jokowi dan setia pada nilai-nilai pak Jokowi yang ada pada bu Khofifah. Beliau adalah bagian dari keluarga besar Bara JP,” kata Utje di acara ”Makan Malam dan Silaturahmi bersama Ibu Khofifah” di Hotel Majapahit.

Khofifah, dinilai Utje adalah pilihan logis dan ideal untuk masyarakat Jawa Timur. Khofifah dinilai sudah membuktikan kontribusinya untuk negara sehingga layak untuk memimpin Jawa Timur. “Bagi kami, ada orang kami mau maju, beliau ini orang baik. Sudah terbukti bekerja dan menjadi orang yang bekerja total untuk pak Jokowi. Itu menjadi pilihan logis,” ucapnya.

“Ini adalah pilihan ideologis. Itu tidak harus  berdasarkan keturunan tapi nilai-nilai apa yang mereka lakukan. Yang bu Khoffiah lakukan betul-betul menjadi supporting pak Jokowi,” lanjutnya.

Utje juga menilai tidak layak jika ada kandidat yang mengklaim adanya dukungan presiden. Sebab, hal tersebut dinilai mencederai posisi Presiden sebagai kepala negara. “Biarkan Presiden itu berada pada tempatnya sebagai kepala negara. Jangan mende­gra­dasi beliau,” tegasnya.

Kemudian, kembalinya Khofifah ke Jawa Timur disebut kepanjangan tangan dari Jokowi di Jawa Timur. Hal tersebut juga bukti pelaksanaan Nawa Cita Jokowi-JK untuk mem­bangun negara dari pinggiran.

“Ibu Khofifah mau membangun Jawa Timur. Itu bukti bu Khofifah menjalankan butir ketiga Nawa Cita pak Jokowi, membangun negara dari pinggiran. Sudah saatnya beliau membangun daerah,” pungkasnya.

Dukungan Khofifah pun semakin solid dari kalangan masyarkat. Dari sejumlah subkultur, Khofifah-Emil dipilih masyarakat dari empat wilayah. Dari Madura, Mataraman Pesisir, Mataraman, hingga Arek. Sebab, Khofifah dinilai pemimpin yang cerdas dan memiliki kompe­tensi tinggi untuk memimpin Jawa Timur. (*)

PEMILIHAN Gubernur Jawa Timur pada Pilkada Serentak 2018 menghadirkan dua kader Nahdlatul Ulama (NU), yakni Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf Kendati demikian, hasil Survei menunjukkan  mayoritas jemaah Nahdlatul ulama memilih Khofifah yang berpasangan dengan Bupati Trenggalek, Emil Elistianto Dardak.

Hal tersebut dibuktikan berdasarkan survei terbaru Pilgub Jawa Timur 2018 yang dilakukan Lembaga Survei Poltracking pada 6-11 Maret 2018. Survei membuktikan mayoritas warga NU memilih pasangan Khofifah-Emil dengan persentase sebesar 45,3 persen.

Sementara Ipul-Puti hanya 37,7 persen warga NU. Survei yang dilakukan Poltracking Indonesia menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan jumlah res­ponden 1.200 dan margin of error 2.83 persen serta tingkat keper­cayaan 95 per­sen. Survei dilakukan di 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur pada 6-11 Maret 2018.

Peneliti Associate Poltracking Arya Budi menjelaskan, sosok Kho­fifah sudah begitu mengakar di benak war­ga sebagai tokoh wanita NU. Selain itu, Khofifah adalah satu-satunya figur wanita NU yang memiliki massa besar se­hingga memiliki dukungan dari banyak kalangan. “Khofifah identik sebagai orang struktural di orga­nisasi Nahdliyyin. Dia juga mem­punyai basis kultural yang sangat kuat.Khofifah ini mempu­nyai keistimewaan mempunyai basis kultural yang sangat kuat se­bagai warga nahdliyyin. Dia memegang sa­ngat kuat terutama perempuan-perempuan nahdliy­yin dan Nah­­dliy­yin satu-satunya basis terkuat di Jawa Timur se­hingga itu yang membuat Khofifah sangat kuat di situ,”  jelas Arya di Surabaya, Sabtu (24/3).

Kemudian, Khofifah memiliki dukungan kuat dari dari tokoh-tokok besar, kiai-kiai kultural Nahdlatul Ulama. Sebut saja KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) yang menjadi Tim 9 Khofifah-Emil, hingga salah satu Tokoh PKB KH Robbach Ma’sum yang setia mengawal Khofifah di Pilgub Jatim 2018.

Faktor banyaknya warga NU yang memilih, berdampak pada banyak­nya kader PKB lebih me­milih Khofifah-Emil. PKB (Partai Kebang­kitan Bangsa) yang sebe­narnya partai pengusung utama pasangan Ipul-Puti, justru lebih banyak memberikan Suara ke­pada pasa­ngan nomor satu Khofifah-Emil.

Survei menyebutkan 50,5 persen kader PKB memilih pasangan Khofifah-Emil. Sementara sedikit­nya hanya 42,0 persen kader PKN yang mau memilih pasangan Ipul-Puti di Pilgub Jatim 2018 ini.

“Khofifah didukung kiai-kiai tradisional maupun kiai-kiai mo­dern dalam NU. Bahkan, dalam seleksi Cawagub yang akhirnya Emil Dardak itu juga proses dari para kiai,” tuturnya.

Seperti diketahui, pasangan Khofifah-Emil diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, Partai Nasdem, Hanura, dan PAN. Sementara pasangan nomor dua diusung partai yang sebelumnya kerap bersebrangan yakni, Gerindra, PDIP, PKB, PKS.

Dukungan untuk pasangan nomor satu ini semakin kuat de­ngan bergabung mayoritas pemilih presiden Joko Widodo. Hasil survei membuktikan mayoritas 48,8 persen pemilih Jokowi membe­ri­kan dukungan untuk Khofifah-Emil. Sedangkan Ipul Puti hanya dipilih 38 persen.

Arya menilai banyaknya pemi­lih Jokowi yang memberikan duku­ngan karena faktor kede­katan Khofifah dan Jokowi. Selain itu kiprah Khofifah yang selalu ber­sama Jokowi sejak Pilpres dan lamanya Kofifah sebagai Menteri Sosial menjadi faktor pe­narik suara.

“Itu yang banyak menjelaskan bahwa orang-orang yang mengi­dentikan Khofifah ini bagian repre­sentasi dari visi-misi, ide Jokowi. Misalnya metrokratik sistem, program kerja yang kerak­yatan bahkan ceruk pemilih yang cenderung nahdliyyin tapi nasionalis abangan juga memba­yangkan Khofifah sebagai orang yang tidak jauh dari Jokowi diban­ding Gus Ipul yang hanya memim­pin suatu daerah,” jelasnya.

Dukungan Loyalis Jokowi Bara JP

Hasil survei tersebut juga diamini bergabungnya loyalis pendukung Joko Widodo, Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) ke ba­ri­san pendukung pasangan Khofifah-Emil. Deklarasi duku­ngan tersebut secara resmi disam­paikan DPD Bara JP Jawa Timur di Kota Batu, Minggu (4/3) lalu.

“Secara DPD Jawa Timur kami menyatakan secara tersirat, kami mendukung Ibu Khofifah. Kami sudah menyatakan sikap untuk mendukung Bu Khofifah. Bentuk dukungannya akan banyak yang kita lakukan. Kami akan roadshow dan konsolidasi ke daerah-daerah untuk menggalang dukungan untuk Bu Khofifah,” kata Ketua Bara JP Jawa Timur, Giyanto Wijaya.

Selain itu di sela-sela blusukan, tampak personel Bara JP setia menemani Khofifah ke berbagai tempat. Dari mulai ketika Kho­fifah belusukan di Tuban hingga Po­no­rogo.

Bara JP dan Khofifah pun sema­kin lekat ketika menggelar makan malam bersama dan temu kangen silaturahmi di Hotel Majapahit, Surabaya Jumat malam lalu (23/3).

Sekretaris Jenderal Bara JP Pusat, Utje Gustaaf Patty menegaskan loyalis Jokowi setia bergerak ber­sama Khofifah. Utje menuturkan Khofifah dan Bara JP tidak bisa dipisahkan karena memiliki visi-misi dan nilai yang sama.

“Kami setia pada pak Jokowi dan setia pada nilai-nilai pak Jokowi yang ada pada bu Khofifah. Beliau adalah bagian dari keluarga besar Bara JP,” kata Utje di acara ”Makan Malam dan Silaturahmi bersama Ibu Khofifah” di Hotel Majapahit.

Khofifah, dinilai Utje adalah pilihan logis dan ideal untuk masyarakat Jawa Timur. Khofifah dinilai sudah membuktikan kontribusinya untuk negara sehingga layak untuk memimpin Jawa Timur. “Bagi kami, ada orang kami mau maju, beliau ini orang baik. Sudah terbukti bekerja dan menjadi orang yang bekerja total untuk pak Jokowi. Itu menjadi pilihan logis,” ucapnya.

“Ini adalah pilihan ideologis. Itu tidak harus  berdasarkan keturunan tapi nilai-nilai apa yang mereka lakukan. Yang bu Khoffiah lakukan betul-betul menjadi supporting pak Jokowi,” lanjutnya.

Utje juga menilai tidak layak jika ada kandidat yang mengklaim adanya dukungan presiden. Sebab, hal tersebut dinilai mencederai posisi Presiden sebagai kepala negara. “Biarkan Presiden itu berada pada tempatnya sebagai kepala negara. Jangan mende­gra­dasi beliau,” tegasnya.

Kemudian, kembalinya Khofifah ke Jawa Timur disebut kepanjangan tangan dari Jokowi di Jawa Timur. Hal tersebut juga bukti pelaksanaan Nawa Cita Jokowi-JK untuk mem­bangun negara dari pinggiran.

“Ibu Khofifah mau membangun Jawa Timur. Itu bukti bu Khofifah menjalankan butir ketiga Nawa Cita pak Jokowi, membangun negara dari pinggiran. Sudah saatnya beliau membangun daerah,” pungkasnya.

Dukungan Khofifah pun semakin solid dari kalangan masyarkat. Dari sejumlah subkultur, Khofifah-Emil dipilih masyarakat dari empat wilayah. Dari Madura, Mataraman Pesisir, Mataraman, hingga Arek. Sebab, Khofifah dinilai pemimpin yang cerdas dan memiliki kompe­tensi tinggi untuk memimpin Jawa Timur. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/