alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Kampanye Bijak Soal Sampah Lewat Kompetisi Pengolahan Sampah

RADAR BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi punya cara unik untuk mengurai ”benang kusut” permasalahan sampah. Salah satunya melalui ajang bertajuk Festival Creative Recycled, Selasa (21/6). Beragam kompetisi pengelolaan sampah mewarnai festival yang digeber di kompleks kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi tersebut. Di antaranya ”Innovative Recycling Competition”.

Pada ajang ini, ada beragam inovasi daur ulang sampah agar memiliki nilai lebih sekaligus mengurangi volume sampah yang langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah (TPS). Ada beragam sampah organik yang biasanya berujung ke pembuangan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih. Seperti halnya dibuat eco-enzym yang multifungsi. Ada pula yang mengolah kulit durian menjadi tepung yang kemudian digunakan sebagai bahan dasar aneka kudapan. Selain itu juga ada barang daur ulang lainnya, seperti daur ulang kertas semen, pelepah pisang, karung goni, kain perca, lukisan kain, hingga batik ecoprint.

Salah satu inovasi daur ulang yang keluar sebagai pemenang adalah Sang Paper. Inovasi dari dr Ananta ini mengubah pelepah pisang dan jerami yang terbuang seusai panen menjadi kertas serbaguna. ”Kertasnya nanti bisa dibuat untuk buku, suvenir, dan lainnya. Jadi, mengurangi penebangan pohon untuk kertas. Bisa lebih ramah lingkungan,” ujar dokter ortopedi ini.

Selain itu, ada pula kompetisi English Youth Speech Contest on Climate Change 2022 yang diikuti oleh sejumlah siswa SMA dan SMP se-Banyuwangi. Kompetisi ini dimenangkan oleh Laurel Sabila Widodo dari SMAN 1 Giri Taruna Bangsa dan Jerusha Rugun Excelsha Manurung dari SMPN 1 Banyuwangi

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, penanganan sampah harus dikelola sejak dari rumah. Produksi sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan bijak akan menyebabkan pencemaran di lingkungan. ”Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengelola sampah yang kita hasilkan dengan bijak. Jangan dibuang sembarangan. Pilah dan daur ulang jika memungkinkan,” ujarnya.

Ipuk menambahkan, sampah rumah tangga di Banyuwangi menyumbang 450 ribu ton per tahunnya. ”Setiap harinya, rata-rata setiap rumah tangga di Banyuwangi menghasilkan 2,7 sampai 3 kilogram (kg) sampah. Jika diakumulasi secara keseluruhan, bisa mencapai lebih dari 450 ribu ton setiap tahunnya,” terangnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Ipuk, terus dilakukan beragam upaya. Selain membentuk bank sampah dan pengelola sampah secara komunal di berbagai kecamatan, juga menggalakkan daur ulang sampah. ”Kegiatan recycle ini tidak sekadar berhenti di sini. Tapi, bagaimana terus menularkan semangat recycle (daur ulang) ke masyarakat Banyuwangi lebih luas lagi,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi punya cara unik untuk mengurai ”benang kusut” permasalahan sampah. Salah satunya melalui ajang bertajuk Festival Creative Recycled, Selasa (21/6). Beragam kompetisi pengelolaan sampah mewarnai festival yang digeber di kompleks kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi tersebut. Di antaranya ”Innovative Recycling Competition”.

Pada ajang ini, ada beragam inovasi daur ulang sampah agar memiliki nilai lebih sekaligus mengurangi volume sampah yang langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah (TPS). Ada beragam sampah organik yang biasanya berujung ke pembuangan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih. Seperti halnya dibuat eco-enzym yang multifungsi. Ada pula yang mengolah kulit durian menjadi tepung yang kemudian digunakan sebagai bahan dasar aneka kudapan. Selain itu juga ada barang daur ulang lainnya, seperti daur ulang kertas semen, pelepah pisang, karung goni, kain perca, lukisan kain, hingga batik ecoprint.

Salah satu inovasi daur ulang yang keluar sebagai pemenang adalah Sang Paper. Inovasi dari dr Ananta ini mengubah pelepah pisang dan jerami yang terbuang seusai panen menjadi kertas serbaguna. ”Kertasnya nanti bisa dibuat untuk buku, suvenir, dan lainnya. Jadi, mengurangi penebangan pohon untuk kertas. Bisa lebih ramah lingkungan,” ujar dokter ortopedi ini.

Selain itu, ada pula kompetisi English Youth Speech Contest on Climate Change 2022 yang diikuti oleh sejumlah siswa SMA dan SMP se-Banyuwangi. Kompetisi ini dimenangkan oleh Laurel Sabila Widodo dari SMAN 1 Giri Taruna Bangsa dan Jerusha Rugun Excelsha Manurung dari SMPN 1 Banyuwangi

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, penanganan sampah harus dikelola sejak dari rumah. Produksi sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan bijak akan menyebabkan pencemaran di lingkungan. ”Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengelola sampah yang kita hasilkan dengan bijak. Jangan dibuang sembarangan. Pilah dan daur ulang jika memungkinkan,” ujarnya.

Ipuk menambahkan, sampah rumah tangga di Banyuwangi menyumbang 450 ribu ton per tahunnya. ”Setiap harinya, rata-rata setiap rumah tangga di Banyuwangi menghasilkan 2,7 sampai 3 kilogram (kg) sampah. Jika diakumulasi secara keseluruhan, bisa mencapai lebih dari 450 ribu ton setiap tahunnya,” terangnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Ipuk, terus dilakukan beragam upaya. Selain membentuk bank sampah dan pengelola sampah secara komunal di berbagai kecamatan, juga menggalakkan daur ulang sampah. ”Kegiatan recycle ini tidak sekadar berhenti di sini. Tapi, bagaimana terus menularkan semangat recycle (daur ulang) ke masyarakat Banyuwangi lebih luas lagi,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/