alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Kembangkan Jaringan Kota Cerdas di Singapura

BANYUWANGI – Setelah ditetapkan Banyuwangi sebagai satu di antara tiga daerah di Indonesia yang masuk jaringan Kota Cerdas ASEAN alias ASEAN Smart Cities Network (ASCN), pemerintah pusat menunjuk Bupati Abdullah Azwar Anas sebagai salah satu delegasi untuk menghadiri workshop ASEAN Smart Cities Governance di Singapura kemarin (22/5).

Anas diberi kesempatan mengikuti sesi berbagi pengalaman pengembangan smart city bersama perwakilan kota pintar negara-negara ASEAN. Sebanyak 26 kota dan daerah dari 10 negara ASEAN terlibat dalam forum yang dibuka Executive Director Centre for Liveable Cities Singapore sekaligus Chair ASEAN Smart Cities Network 2018 Khoo Teng Chye tersebut. ”Para delegasi akan mengikuti sesi sharing untuk mengeksplorasi potensi dan best practices dari masing-masing daerah,” jelas Anas dalam keterangan tertulisnya. 

Menurut Anas, terlibat di forum ASEAN adalah momen untuk mengembangkan jaringan sekaligus menambah referensi praktik inovasi dari belahan negara lain. Apalagi, forum ASEAN ini banyak menghadirkan pakar-pakar platform digital, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan internasional seperti dari World Bank, Alibaba, Grab, Ernst and Young, Huawei, UNESCAP, dan UNDP.

Anas mengatakan, tujuan ASCN adalah memperkuat program pengembangan kota pintar di masing-masing daerah terpilih. ASCN juga memfasilitasi semua program masing-masing daerah dengan mitra internasional untuk mendapatkan solusi terbaik.

Dijelaskan, Banyuwangi mengusung program Smart Kampung. Jadi, Banyuwangi lebih menonjolkan agar teknologi mendorong perubahan kawasan pedesaan, baik untuk kepentingan pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi. ”Intinya mendorong masyarakat rural menjadi lebih maju,” imbuh Anas.

Smart Kampung merupakan program pengembangan desa yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk mendekatkan pelayanan publik hingga ke level desa. Setiap desa didesain memiliki kerangka program terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan. ”Bukan sekadar tergantung pada transformasi teknologi, tapi yang lebih penting adalah upaya mendorong pengembangan kampung-kampung menjadi lebih baik. Ini yang mungkin belum banyak diperhatikan dalam peta smart city pada umumnya yang hanya fokus pada problem masyarakat perkotaan,” kata Anas.

Anas menambahkan, Smart Kampung telah membuat desa secara bertahap menjadi sentra pelayanan publik yang bisa diandalkan. Sejak program Smart Kampung diluncurkan pada Mei 2016 oleh Menkominfo Rudiantara, kini telah ada 167 desa yang teraliri internet berbasis serat optik (fiber optic) dari total 189 desa di Banyuwangi. (sgt/afi)

BANYUWANGI – Setelah ditetapkan Banyuwangi sebagai satu di antara tiga daerah di Indonesia yang masuk jaringan Kota Cerdas ASEAN alias ASEAN Smart Cities Network (ASCN), pemerintah pusat menunjuk Bupati Abdullah Azwar Anas sebagai salah satu delegasi untuk menghadiri workshop ASEAN Smart Cities Governance di Singapura kemarin (22/5).

Anas diberi kesempatan mengikuti sesi berbagi pengalaman pengembangan smart city bersama perwakilan kota pintar negara-negara ASEAN. Sebanyak 26 kota dan daerah dari 10 negara ASEAN terlibat dalam forum yang dibuka Executive Director Centre for Liveable Cities Singapore sekaligus Chair ASEAN Smart Cities Network 2018 Khoo Teng Chye tersebut. ”Para delegasi akan mengikuti sesi sharing untuk mengeksplorasi potensi dan best practices dari masing-masing daerah,” jelas Anas dalam keterangan tertulisnya. 

Menurut Anas, terlibat di forum ASEAN adalah momen untuk mengembangkan jaringan sekaligus menambah referensi praktik inovasi dari belahan negara lain. Apalagi, forum ASEAN ini banyak menghadirkan pakar-pakar platform digital, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan internasional seperti dari World Bank, Alibaba, Grab, Ernst and Young, Huawei, UNESCAP, dan UNDP.

Anas mengatakan, tujuan ASCN adalah memperkuat program pengembangan kota pintar di masing-masing daerah terpilih. ASCN juga memfasilitasi semua program masing-masing daerah dengan mitra internasional untuk mendapatkan solusi terbaik.

Dijelaskan, Banyuwangi mengusung program Smart Kampung. Jadi, Banyuwangi lebih menonjolkan agar teknologi mendorong perubahan kawasan pedesaan, baik untuk kepentingan pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi. ”Intinya mendorong masyarakat rural menjadi lebih maju,” imbuh Anas.

Smart Kampung merupakan program pengembangan desa yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk mendekatkan pelayanan publik hingga ke level desa. Setiap desa didesain memiliki kerangka program terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan. ”Bukan sekadar tergantung pada transformasi teknologi, tapi yang lebih penting adalah upaya mendorong pengembangan kampung-kampung menjadi lebih baik. Ini yang mungkin belum banyak diperhatikan dalam peta smart city pada umumnya yang hanya fokus pada problem masyarakat perkotaan,” kata Anas.

Anas menambahkan, Smart Kampung telah membuat desa secara bertahap menjadi sentra pelayanan publik yang bisa diandalkan. Sejak program Smart Kampung diluncurkan pada Mei 2016 oleh Menkominfo Rudiantara, kini telah ada 167 desa yang teraliri internet berbasis serat optik (fiber optic) dari total 189 desa di Banyuwangi. (sgt/afi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/