alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Festival Padi, Pemkab Buka Potensi Wisata dan Edukasi Pertanian

LICIN – Festival Padi 2021 kemarin (20/9) digelar di Dusun Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin. Event yang menjadi rangkaian dari Banyuwangi Festival (B-Fest) itu digelar di tengah areal persawahan produktif Desa Banjar.

Festival ini sendiri menjadi kegiatan yang pertama kali digelar secara langsung oleh Pemkab Banyuwangi selama masa PPKM. Semua rangkaian festival dilaksanakan di sekitar area persawahan yang dihias sedemikian rupa agar tampak indah. Barisan bunga celosia dan refugia berjajar rapi membatasi area sawah dan pematang.

Di pintu masuk area persawahan, para pengunjung langsung disuguhi dengan tari-tarian. Di dalam area festival, ada beberapa zona yang berisi bermacam kegiatan pertanian. Mulai dari aktivitas tandur para petani hingga pengolahan sawah dengan menggunakan mesin. Ada juga tampilan pupuk organik yang bisa digunakan petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Tak hanya itu, atraksi kebo-keboan juga ditampilkan di tengah area persawahan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tampak antusias menyaksikan satu per satu atraksi yang disuguhkan dalam Festival Padi tersebut. Ipuk juga ikut menari dengan para penari gandrung galengan di tengah pematang sawah.

Tak hanya itu, Ipuk juga melihat beberapa produk pangan nonberas yang diproduksi oleh petani Banyuwangi. Terakhir, Ipuk juga melihat tanaman jenis Monstera (janda bolong) dan Philodendron yang dibudidayakan masyarakat dan kini telah menembus ekspor ke Singapura.

”Ada banyak hal yang ditampilkan di sini, mulai dari cara bertani tradisional sampai modern. Ke depan, tempat ini bisa menjadi destinasi wisata edukasi pertanian untuk siswa dan para generasi muda untuk mencintai dunia pertanian,” kata Ipuk.  

Festival Padi sendiri, menurut Ipuk, memiliki fungsi untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana perkembangan di dunia pertanian. Modernisasi pertanian dan filosofi kehidupan masyarakat petani tradisional menurutnya bisa berjalan bersama. ”Kita bisa melihat transfer kebudayaan di sini. Sayangnya festival ini belum bisa kita buka seluruhnya untuk masyarakat karena kondisi pandemi, tapi sebagian masyarakat bisa melihat secara virtual,” kata Ipuk.

Alumnus UNJ itu juga mengatakan bahwa Festival Padi menjadi event B-Fest pertama yang digelar secara offline oleh Pemkab Banyuwangi setelah masa PPKM. Dengan protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan jumlah orang sesuai dengan era new normal membuat event ini menjadi persiapan pemkab untuk beradaptasi. ”Akan kita lihat nanti event antara bulan September hingga Desember. Mana yang memungkinkan untuk digelar. Yang jelas untuk Gandrung Sewu dan Tour de Ijen belum untuk tahun ini,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Arief Setiawan menambahkan, ke depan pihaknya berharap keberadaan lokasi Festival Padi bisa tetap sustain. Disperta akan tetap melakukan pendampingan kepada masyarakat dan pemuda karang taruna yang nantinya akan dipasrahi tangung jawab untuk mengelola destinasi tersebut. ”Kita akan dampingi dengan dinas teknis. Baik Dinas Pariwisata atau pertanian,” jelasnya.

Arief mengatakan, di lokasi Festival Padi ada beberapa zona yang menampilkan tanaman pangan, zona hortikultura, dan zona teknologi program pertanian. Ada juga rest area termasuk panggung yang nantinya bisa diisi sebagai tempat atraksi. Dia berharap, fasilitas itu bisa mendidik para generasi muda untuk mau berkecimpung di dunia pertanian dan tetap menjadi kreatif dan inovatif di dalamnya. ”Kami membantu program unggulan pariwisata juga, selama ini kita antar SKPD di Banyuwangi saling membantu. Ini juga untuk mempertahankan kawasan ini agar tetap menjadi kawasan pertanian,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian Banyuwangi Khoiri menambahkan, area Festival Padi nantinya akan dikelola oleh desa, kelompok tani, dan BUMDes. Ke depannya, tempat tersebut akan menjadi embrio destinasi wisata baru. Sehingga setiap tahun desa akan mengucurkan anggaran melalui Dana Desa untuk perawatan destinasi wisata yang berada di Dusun Rembang, Desa Banjar Kecamatan Licin ini. 

”Jadi kelanjutan program Festival Padi ini tidak berhenti saat di-launching, namun ke depan akan dikelola sebagai tempat destinasi wisata baru bagi Kabupaten Banyuwangi. Yang jelas tempat ini akan dikemas lebih sempurna dilengkapi fasilitas seperti produk hasil pertanian, perkebunan, dan hortikultura. Ada juga lumbung padi yang berisi padi dan jagung,” kata Khoiri.

Khoiri mengatakan, dalam kesempatan tersebut pemkab juga menyerahkan penghargaan untuk para pemenang lomba inovasi pertanian terbaik tahun 2021. Di antaranya lomba kaji terap pupuk organik cair dalam peningkatan produktivitas padi, kontes ternak secara virtual, dan Fepanora (Festival Pangan Non-Beras).

LICIN – Festival Padi 2021 kemarin (20/9) digelar di Dusun Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin. Event yang menjadi rangkaian dari Banyuwangi Festival (B-Fest) itu digelar di tengah areal persawahan produktif Desa Banjar.

Festival ini sendiri menjadi kegiatan yang pertama kali digelar secara langsung oleh Pemkab Banyuwangi selama masa PPKM. Semua rangkaian festival dilaksanakan di sekitar area persawahan yang dihias sedemikian rupa agar tampak indah. Barisan bunga celosia dan refugia berjajar rapi membatasi area sawah dan pematang.

Di pintu masuk area persawahan, para pengunjung langsung disuguhi dengan tari-tarian. Di dalam area festival, ada beberapa zona yang berisi bermacam kegiatan pertanian. Mulai dari aktivitas tandur para petani hingga pengolahan sawah dengan menggunakan mesin. Ada juga tampilan pupuk organik yang bisa digunakan petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Tak hanya itu, atraksi kebo-keboan juga ditampilkan di tengah area persawahan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tampak antusias menyaksikan satu per satu atraksi yang disuguhkan dalam Festival Padi tersebut. Ipuk juga ikut menari dengan para penari gandrung galengan di tengah pematang sawah.

Tak hanya itu, Ipuk juga melihat beberapa produk pangan nonberas yang diproduksi oleh petani Banyuwangi. Terakhir, Ipuk juga melihat tanaman jenis Monstera (janda bolong) dan Philodendron yang dibudidayakan masyarakat dan kini telah menembus ekspor ke Singapura.

”Ada banyak hal yang ditampilkan di sini, mulai dari cara bertani tradisional sampai modern. Ke depan, tempat ini bisa menjadi destinasi wisata edukasi pertanian untuk siswa dan para generasi muda untuk mencintai dunia pertanian,” kata Ipuk.  

Festival Padi sendiri, menurut Ipuk, memiliki fungsi untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana perkembangan di dunia pertanian. Modernisasi pertanian dan filosofi kehidupan masyarakat petani tradisional menurutnya bisa berjalan bersama. ”Kita bisa melihat transfer kebudayaan di sini. Sayangnya festival ini belum bisa kita buka seluruhnya untuk masyarakat karena kondisi pandemi, tapi sebagian masyarakat bisa melihat secara virtual,” kata Ipuk.

Alumnus UNJ itu juga mengatakan bahwa Festival Padi menjadi event B-Fest pertama yang digelar secara offline oleh Pemkab Banyuwangi setelah masa PPKM. Dengan protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan jumlah orang sesuai dengan era new normal membuat event ini menjadi persiapan pemkab untuk beradaptasi. ”Akan kita lihat nanti event antara bulan September hingga Desember. Mana yang memungkinkan untuk digelar. Yang jelas untuk Gandrung Sewu dan Tour de Ijen belum untuk tahun ini,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Arief Setiawan menambahkan, ke depan pihaknya berharap keberadaan lokasi Festival Padi bisa tetap sustain. Disperta akan tetap melakukan pendampingan kepada masyarakat dan pemuda karang taruna yang nantinya akan dipasrahi tangung jawab untuk mengelola destinasi tersebut. ”Kita akan dampingi dengan dinas teknis. Baik Dinas Pariwisata atau pertanian,” jelasnya.

Arief mengatakan, di lokasi Festival Padi ada beberapa zona yang menampilkan tanaman pangan, zona hortikultura, dan zona teknologi program pertanian. Ada juga rest area termasuk panggung yang nantinya bisa diisi sebagai tempat atraksi. Dia berharap, fasilitas itu bisa mendidik para generasi muda untuk mau berkecimpung di dunia pertanian dan tetap menjadi kreatif dan inovatif di dalamnya. ”Kami membantu program unggulan pariwisata juga, selama ini kita antar SKPD di Banyuwangi saling membantu. Ini juga untuk mempertahankan kawasan ini agar tetap menjadi kawasan pertanian,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian Banyuwangi Khoiri menambahkan, area Festival Padi nantinya akan dikelola oleh desa, kelompok tani, dan BUMDes. Ke depannya, tempat tersebut akan menjadi embrio destinasi wisata baru. Sehingga setiap tahun desa akan mengucurkan anggaran melalui Dana Desa untuk perawatan destinasi wisata yang berada di Dusun Rembang, Desa Banjar Kecamatan Licin ini. 

”Jadi kelanjutan program Festival Padi ini tidak berhenti saat di-launching, namun ke depan akan dikelola sebagai tempat destinasi wisata baru bagi Kabupaten Banyuwangi. Yang jelas tempat ini akan dikemas lebih sempurna dilengkapi fasilitas seperti produk hasil pertanian, perkebunan, dan hortikultura. Ada juga lumbung padi yang berisi padi dan jagung,” kata Khoiri.

Khoiri mengatakan, dalam kesempatan tersebut pemkab juga menyerahkan penghargaan untuk para pemenang lomba inovasi pertanian terbaik tahun 2021. Di antaranya lomba kaji terap pupuk organik cair dalam peningkatan produktivitas padi, kontes ternak secara virtual, dan Fepanora (Festival Pangan Non-Beras).

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/