alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Kader Posyandu Diminta Pantau Potensi Covid Bumil

RadarBanyuwangi.id – Jumlah ibu hamil (bumil) yang terpapar virus korona selama tahun 2021 cukup tinggi. Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat ada 202 bumil yang terjangkit Covid-19, sebanyak 13 orang meninggal dunia.

Angka bumil terpapar Covid di Kecamatan Wongsorejo menjadi yang paling tinggi. Rinciannya, 4 kasus di Puskesmas Bajulmati dan 3 kasus di Puskesmas Wongsorejo. Peringkat kedua Kecamatan Muncar dengan 16 kasus, disusul Pesanggaran dengan 14 kasus.

Ketua Satgas Covid-19 Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, bumil perlu diberikan perhatian khusus selama pandemi. Jika mereka terpapar, tenaga medis yang menangani berpotensi tertular. Belum lagi potensi penularan terhadap bayi yang mereka kandung.

Selama ini, skrining terhadap bumil baru dilakukan ketika akan melahirkan. Jika hasilnya positif mereka akan ditangani di ruang bersalin khusus pasien Covid-19. Padahal, tidak semua faskes memiliki fasilitas ruang bersalin infeksius, termasuk jika ada penanganan persalinan secara caesar. ”Kita minta kader posyandu untuk melakukan pemantauan dan pemanduan kepada ibu hamil, jadi mereka bisa terus terpantau terutama dari penularan Covid,” kata Ipuk.

Selama posyandu belum dibuka, diprediksi banyak ibu hamil yang belum terpantau secara maksimal. Satgas mulai melakukan pendataan untuk bisa melihat lebih awal mana ibu hamil yang memerlukan pengawasan agar tidak tertular virus korona. ”Ada rumah sakit yang sudah menyediakan ruang khusus untuk bumil yang terpapar Covid. Ruangannya terpisah dengan pasien lainnya. Kita minta rumah sakit juga lebih perhatian untuk mengatasi masalah ini,” kata Ipuk.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, salah satu ruangan bersalin infeksius untuk bumil yang terpapar Covid ada di RSUD Blambangan. Tempat tersebut terdiri dari ruangan bersalin bertekanan negatif, kamar mandi, dan ruang resisutasi bayi untuk memisahkan bayi yang baru dilahirkan. ”Ruangan ini memiliki tekanan negatif. Artinya, virus yang ada di dalam sini tidak akan keluar. Kita juga menyediakan banyak stop contact untuk memudahkan pemasangan alat-alat jika nantinya dibutuhkan,” kata Rosalia Eka Ediyanti, Kepala Ruangan Sayu Wiwit RSUD Blambangan. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Jumlah ibu hamil (bumil) yang terpapar virus korona selama tahun 2021 cukup tinggi. Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat ada 202 bumil yang terjangkit Covid-19, sebanyak 13 orang meninggal dunia.

Angka bumil terpapar Covid di Kecamatan Wongsorejo menjadi yang paling tinggi. Rinciannya, 4 kasus di Puskesmas Bajulmati dan 3 kasus di Puskesmas Wongsorejo. Peringkat kedua Kecamatan Muncar dengan 16 kasus, disusul Pesanggaran dengan 14 kasus.

Ketua Satgas Covid-19 Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, bumil perlu diberikan perhatian khusus selama pandemi. Jika mereka terpapar, tenaga medis yang menangani berpotensi tertular. Belum lagi potensi penularan terhadap bayi yang mereka kandung.

Selama ini, skrining terhadap bumil baru dilakukan ketika akan melahirkan. Jika hasilnya positif mereka akan ditangani di ruang bersalin khusus pasien Covid-19. Padahal, tidak semua faskes memiliki fasilitas ruang bersalin infeksius, termasuk jika ada penanganan persalinan secara caesar. ”Kita minta kader posyandu untuk melakukan pemantauan dan pemanduan kepada ibu hamil, jadi mereka bisa terus terpantau terutama dari penularan Covid,” kata Ipuk.

Selama posyandu belum dibuka, diprediksi banyak ibu hamil yang belum terpantau secara maksimal. Satgas mulai melakukan pendataan untuk bisa melihat lebih awal mana ibu hamil yang memerlukan pengawasan agar tidak tertular virus korona. ”Ada rumah sakit yang sudah menyediakan ruang khusus untuk bumil yang terpapar Covid. Ruangannya terpisah dengan pasien lainnya. Kita minta rumah sakit juga lebih perhatian untuk mengatasi masalah ini,” kata Ipuk.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, salah satu ruangan bersalin infeksius untuk bumil yang terpapar Covid ada di RSUD Blambangan. Tempat tersebut terdiri dari ruangan bersalin bertekanan negatif, kamar mandi, dan ruang resisutasi bayi untuk memisahkan bayi yang baru dilahirkan. ”Ruangan ini memiliki tekanan negatif. Artinya, virus yang ada di dalam sini tidak akan keluar. Kita juga menyediakan banyak stop contact untuk memudahkan pemasangan alat-alat jika nantinya dibutuhkan,” kata Rosalia Eka Ediyanti, Kepala Ruangan Sayu Wiwit RSUD Blambangan. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/