alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Pulihkan Pariwisata Lewat Staycation

LICIN, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Para pemilik grup kesenian yang sempat vakum  tanggapan bisa sedikit bernapas. Lewat konsep  staycation (liburan di dalam kota), Pemkab Banyuwangi kembali memberikan peluang kepada grup kesenian untuk bisa beratraksi.

       Staycation menggabungkan konsep pertunjukan seni terbatas di tempat outdoor yang hanya disaksikan beberapa wisatawan saja. Umumnya, staycation dilaksanakan di hotel. Sehingga hanya tamu-tamu hotel dan beberapa tamu dalam jumlah terbatas saja yang bisa menikmati kesenian yang disajikan.

       Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi M. Yanuar Bramuda mengatakan, ada 60-an grup kesenian yang dilibatkan dalam program ini. Pelaksanaan staycation umumnya digelar pada akhir pekan. Mulai hari Jumat hingga Minggu. “60 grup kesenian tersebut beragam jenisnya. Mulai janger, jaranan, dan lainya. Mereka sudah mendapat giliran kapan dan di mana akan tampil,” kata Bramuda.

       Pemkab Banyuwangi sangat optimistis bisa mengandalkan staycation sebagai program solutif di tengah pandemi Covid-19. Staycation digelar di hotel-hotel yang memiliki konsep outdoor. Di Banyuwangi ada beberapa hotel yang sudah menjalankan program ini, seperti Ketapang Indah, Grand Harvest, Villa Solong, dan Hotel Dialoog. “Ketika pertunjukan digelar, semua wisatawan yang datang wajib menggunakan masker atau face shield. Mereka harus menaati  protokol kesehatan. Aturan ini juga berlaku bagi  pemain pertunjukan,” imbuh Bramuda.

       Setelah hampir sebulan digelar, lanjut dia,  ada peningkatan hunian hotel yang terdongkrak akibat adanya staycation. Saat weekend, okupansi rata-rata hotel di Banyuwangi, terutama yang menggelar staycation ada di angka 90 persen. “Ini sekaligus menggerakkan roda ekonomi para pekerja seni. Sejak ada pandemi, B-Fest dan pertunjukan seni berhenti total,’’ ungkapnya.

       GM Grand Harvest Hulda Dewi menambahkan, staycation membantu menggerakan perekonomian masyarakat lokal. Tidak hanya seniman, tapi juga para pembuat kopi di Kalibendo yang selama ini ikut menggantungkan hidupnya di dunia pariwisata. Dalam staycation, pengunjung tak hanya disuguhi pertunjukan seni.

       Dengan pengaturan tempat duduk yang terpisah, baik di tenda maupun di gazebo, para wisatawan merasa aman. Petugas hotel juga mengenakan perlengkapan sesuai protokol kesehatan, seperti masker dan face shield. Sehingga wisatawan tidak perlu merasa khawatir, tetapi tetap merasa nyaman. Makanan juga disediakan terpisah untuk setiap meja pengunjung.

       Pengunjung tidak perlu risau dengan protokol kesehatan selama menikmati pertunjukan. “Kami berterima kasih dengan program yang disediakan pemkab melalui Dinas Pariwisata. Okupansi sempat turun pada bulan September. Tapi sejak Oktober sudah mulai naik lewat program ini. Belum lagi, di bulan November dan Desember sudah banyak ruangan yang di-booking,” ucapnya.

       Salah satu wisatawan asal Surabaya, Ananda Putri, 35, mengaku cukup terkejut ketika Banyuwangi menyediakan pertunjukan seni di saat pandemi. Opsi semacam ini bisa menjadi pilihan wisatawan yang menghindari pertunjukan indoor yang dianggap rawan saat pandemi. “Insya-Allah nanti kembali lagi dengan keluarga yang lain. Ini cukup keren,” pungkasnya. (fre/aif)

LICIN, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Para pemilik grup kesenian yang sempat vakum  tanggapan bisa sedikit bernapas. Lewat konsep  staycation (liburan di dalam kota), Pemkab Banyuwangi kembali memberikan peluang kepada grup kesenian untuk bisa beratraksi.

       Staycation menggabungkan konsep pertunjukan seni terbatas di tempat outdoor yang hanya disaksikan beberapa wisatawan saja. Umumnya, staycation dilaksanakan di hotel. Sehingga hanya tamu-tamu hotel dan beberapa tamu dalam jumlah terbatas saja yang bisa menikmati kesenian yang disajikan.

       Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi M. Yanuar Bramuda mengatakan, ada 60-an grup kesenian yang dilibatkan dalam program ini. Pelaksanaan staycation umumnya digelar pada akhir pekan. Mulai hari Jumat hingga Minggu. “60 grup kesenian tersebut beragam jenisnya. Mulai janger, jaranan, dan lainya. Mereka sudah mendapat giliran kapan dan di mana akan tampil,” kata Bramuda.

       Pemkab Banyuwangi sangat optimistis bisa mengandalkan staycation sebagai program solutif di tengah pandemi Covid-19. Staycation digelar di hotel-hotel yang memiliki konsep outdoor. Di Banyuwangi ada beberapa hotel yang sudah menjalankan program ini, seperti Ketapang Indah, Grand Harvest, Villa Solong, dan Hotel Dialoog. “Ketika pertunjukan digelar, semua wisatawan yang datang wajib menggunakan masker atau face shield. Mereka harus menaati  protokol kesehatan. Aturan ini juga berlaku bagi  pemain pertunjukan,” imbuh Bramuda.

       Setelah hampir sebulan digelar, lanjut dia,  ada peningkatan hunian hotel yang terdongkrak akibat adanya staycation. Saat weekend, okupansi rata-rata hotel di Banyuwangi, terutama yang menggelar staycation ada di angka 90 persen. “Ini sekaligus menggerakkan roda ekonomi para pekerja seni. Sejak ada pandemi, B-Fest dan pertunjukan seni berhenti total,’’ ungkapnya.

       GM Grand Harvest Hulda Dewi menambahkan, staycation membantu menggerakan perekonomian masyarakat lokal. Tidak hanya seniman, tapi juga para pembuat kopi di Kalibendo yang selama ini ikut menggantungkan hidupnya di dunia pariwisata. Dalam staycation, pengunjung tak hanya disuguhi pertunjukan seni.

       Dengan pengaturan tempat duduk yang terpisah, baik di tenda maupun di gazebo, para wisatawan merasa aman. Petugas hotel juga mengenakan perlengkapan sesuai protokol kesehatan, seperti masker dan face shield. Sehingga wisatawan tidak perlu merasa khawatir, tetapi tetap merasa nyaman. Makanan juga disediakan terpisah untuk setiap meja pengunjung.

       Pengunjung tidak perlu risau dengan protokol kesehatan selama menikmati pertunjukan. “Kami berterima kasih dengan program yang disediakan pemkab melalui Dinas Pariwisata. Okupansi sempat turun pada bulan September. Tapi sejak Oktober sudah mulai naik lewat program ini. Belum lagi, di bulan November dan Desember sudah banyak ruangan yang di-booking,” ucapnya.

       Salah satu wisatawan asal Surabaya, Ananda Putri, 35, mengaku cukup terkejut ketika Banyuwangi menyediakan pertunjukan seni di saat pandemi. Opsi semacam ini bisa menjadi pilihan wisatawan yang menghindari pertunjukan indoor yang dianggap rawan saat pandemi. “Insya-Allah nanti kembali lagi dengan keluarga yang lain. Ini cukup keren,” pungkasnya. (fre/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/