alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

DPR RI Siap Sukseskan Presidensi G20 Indonesia

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Puan Maharani menghadiri Seventh Group of 20 Parliamentary Speakers’ Summit (P20) di Roma, Italia. Kehadiran Puan dalam forum parlemen negara-negara G20 itu sekaligus menegaskan kesiapan DPR dan Pemerintah RI menjadi Presidensi G20 berikutnya.

 “Mulai 1 Desember 2021, Indonesia mendapat kepercayaan memegang Presidensi G20. Kami siap untuk melanjutkan kesuksesan Presidensi G20 Italia,” kata Puan di Palazzo Madama, Gedung Senat Italia di Roma, Kamis (8/10/2021).

Sebagai Presidensi G20, Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar Pemerintah dan Pertemuan P20 yang digelar DPR RI pada 2022. Khusus P20, DPR RI akan mengambil tema Peran Parlemen dalam Mendorong Pertumbuhan yang Lebih Tinggi dan Masyarakat yang Sehat.

Di forum P20 di Italia, Puan secara resmi mengundang para pimpinan parlemen G20 untuk datang ke Indonesia dalam gelaran P20 tahun depan. Lewat pertemuan singkat, dia juga mengundang langsung satu per satu pimpinan parlemen G20, seperti Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi, President of the Italian Chamber of Deputies Roberto Fico, Ketua Dewan Nasional Republic of Korea Park Byeong-Seug, Ketua Parlemen Singapura Tan Chuan Jin, Speaker of the Senate Belanda Jan Anthonie Bruinj dan Speaker of the Grand National Assembly Turki Mustafa Sentop.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dari hadirin semua untuk kelancaran penyelengaraan Presidensi G20 Indonesia. Terima kasih dan sampai bertemu di Indonesia tahun depan,” kata Puan.

Puan mengatakan, Pemerintah dan Parlemen Negara G20 memerlukan sinergi untuk mendiskusikan agenda-agenda dan mencapai tujuan G20 yaitu mencapai stabilitas perekonomian global dan pertumbuhan berkelanjutan, termasuk pemulihan ekonomi global akibat pandemi Covid-19.

“Kami akan meningkatkan kontribusi P20 dalam pemulihan pandemi dalam kerjasama G20,” kata Puan.

Pada 2022, untuk pertama kalinya Indonesia akan memegang Presidensi G20 atau Kelompok Negara G20 sejak pembentukannya pada 1999. G20 merupakan kelompok informal dari 19 negara dan Uni Eropa, serta perwakilan dari International Monetary Fund  dan World Bank yang bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan berimbang.

G20 yang terdiri dari negara-negara kekuatan ekonomi besar dunia dan merupakan forum utama kerjasama ekonomi (premier forum for economic cooperation) memiliki modalitas untuk mendorong terwujudnya masa depan yang berkelanjutan dan lebih baik.

Sekjen DPR RI Indra Iskandar menjelaskan, dalam konteks parlemen, forum P20 bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antarparlemen untuk dapat mewujudkan tujuan G20.

“Yaitu mencapai stabilitas perekonomian global dan pertumbuhan berkelanjutan melalui fungsi penganggaran, pembuatan undang-undang, dan pengawasan yang dimiliki parlemen,” jelas Indra.

Diplomasi Parlemen

Dalam sesi pembukaan diplomasi P20 di Roma, Puan menyampaikan sejumlah gagasan, seperti perlunya peta jalan vaksinasi global (global vaccination roadmap) sebagai upaya dunia mengakhiri pandemi Covid-19.

“Penanganan kesehatan adalah kunci pemulihan. Dunia memerlukan rencana global mengakhiri pandemi, termasuk global vaccination road map untuk mencapai distribusi vaksin secara adil dan merata,” ucapnya.

Puan melanjutkan, distribusi vaksin yang adil dan merata ini bisa dilakukan dengan cara mendukung mekanisme berbagi dosis (dose-sharing), meningkatkan dan  diversifikasi produksi vaksin global.

“Kemudian mendukung  transfer teknologi dan pengecualian hak kekayaan intelektual, serta  menghapuskan diskriminasi vaksin,” kata cucu Proklamator RI Bung Karno ini disambut tepuk tangan meriah para delegasi.

Puan mengatakan, pandemi Covid-19 adalah tantangan global terbesar saat ini karena telah mengakibatkan krisis multidimensi. Krisis ini telah menunjukkan saling ketergantungan antara manusia (people), kemakmuran (prosperity) dan bumi (planet).

“Namun krisis juga melahirkan kesempatan untuk membangun dunia yang lebih baik paska pandemi dengan menjaga kelestarian lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih inklusif,” ujarnya.

Ketua DPR perempuan pertama di Indonesia ini juga menyinggung perlunya masyarakat internasional membantu aspek sosial di negara berkembang, termasuk kesetaraan gender.

“Potensi perempuan perlu terus diberdayakan pada masa pemulihan pandemi. Jika perempuan maju, maka suatu negara juga akan maju,” tambahnya. 

Puan lantas mengajak negara-negara G20 melalui forum P20 untuk meningkatkan kemitraan global dan memperkuat multilateralisme agar bisa membantu menyelesaikan masalah global akibat pandemi Covid-19.

“Parlemen dapat mempengaruhi posisi internasional negara-negara dan mendorong pemerintah untuk mengembangkan solidaritas global dan saling percaya antarnegara ketimbang penyelesaian unilateral,” tegasnya.

“Saya ingin tegaskan bahwa hanya dengan kemitraan global kita dapat bersama mengakhiri pandemi, termasuk menyelesaikan krisis sosial dan ketenagakerjaan.”

Dosen Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, menilai peran diplomasi Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI dalam P20 sama pentingnya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam forum KTT G20.

Bedanya, lanjut Robi, Puan membidangi keparlemenan atau legislatif dan Jokowi kepemerintahan atau eksekutif.

“Jadi acara P20 adalah pertemuan ekslusif yang dihadiri oleh para ketua parlemen dari seluruh negara G20 yang termasuk dari negara-negara ekonomi terbesar di dunia,” terang Robi.

Dari semua agenda yang sudah dijadwalkan oleh Puan dalam P20, Robi menilai yang paling penting adalah mengajak para ketua parlemen dari seluruh negara G20 untuk hadir pada forum parlemen P20 yang akan diselenggarakan di Indonesia tahun depan.

“Sebab, dua acara besar yakni P20 dan KTT G20 ini selalu digelar secara bersamaan,” ujarnya.

Robi meyakini diplomasi Puan mengajak para pimpinan parlemen negara-negara G20 untuk hadir pada pertemuan tahun depan di Indonesia, memiliki dua nilai yang menjadi kekuatan Indonesia.

Pertama, Puan adalah cucu dari Soekarno, presiden pertama sekaligus Bapak Bangsa Indonesia. Kedua, Puan adalah sosok perempuan pertama yang menjadi pemimpin parlemen di Indonesia, yang mana hal ini tidak terjadi di negara-negara mayoritas muslim di dunia.

“Sebagaimana diketahui posisi parlemen dalam negara demokrasi sangat penting dalam menentukan arah kebijakan jalannya roda-roda pemerintahan,” jelas Robi yang juga menjabat sebagai direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC).

Robi memuji Puan dari tiga sesi agendanya dalam pertemuan P20, karena mengangkat isu-isu perempuan seperti pentingnya penguatan sistem dan pembangunan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif, terutama bagi kaum perempuan dan penyandang disabilitas dalam merespons krisis sosial dan hilangnya pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

“Isu perempuan ini selalu dicantumkan oleh Puan dalam setiap lawatanya ke luar negeri,” puji Robi.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Puan Maharani menghadiri Seventh Group of 20 Parliamentary Speakers’ Summit (P20) di Roma, Italia. Kehadiran Puan dalam forum parlemen negara-negara G20 itu sekaligus menegaskan kesiapan DPR dan Pemerintah RI menjadi Presidensi G20 berikutnya.

 “Mulai 1 Desember 2021, Indonesia mendapat kepercayaan memegang Presidensi G20. Kami siap untuk melanjutkan kesuksesan Presidensi G20 Italia,” kata Puan di Palazzo Madama, Gedung Senat Italia di Roma, Kamis (8/10/2021).

Sebagai Presidensi G20, Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar Pemerintah dan Pertemuan P20 yang digelar DPR RI pada 2022. Khusus P20, DPR RI akan mengambil tema Peran Parlemen dalam Mendorong Pertumbuhan yang Lebih Tinggi dan Masyarakat yang Sehat.

Di forum P20 di Italia, Puan secara resmi mengundang para pimpinan parlemen G20 untuk datang ke Indonesia dalam gelaran P20 tahun depan. Lewat pertemuan singkat, dia juga mengundang langsung satu per satu pimpinan parlemen G20, seperti Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi, President of the Italian Chamber of Deputies Roberto Fico, Ketua Dewan Nasional Republic of Korea Park Byeong-Seug, Ketua Parlemen Singapura Tan Chuan Jin, Speaker of the Senate Belanda Jan Anthonie Bruinj dan Speaker of the Grand National Assembly Turki Mustafa Sentop.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dari hadirin semua untuk kelancaran penyelengaraan Presidensi G20 Indonesia. Terima kasih dan sampai bertemu di Indonesia tahun depan,” kata Puan.

Puan mengatakan, Pemerintah dan Parlemen Negara G20 memerlukan sinergi untuk mendiskusikan agenda-agenda dan mencapai tujuan G20 yaitu mencapai stabilitas perekonomian global dan pertumbuhan berkelanjutan, termasuk pemulihan ekonomi global akibat pandemi Covid-19.

“Kami akan meningkatkan kontribusi P20 dalam pemulihan pandemi dalam kerjasama G20,” kata Puan.

Pada 2022, untuk pertama kalinya Indonesia akan memegang Presidensi G20 atau Kelompok Negara G20 sejak pembentukannya pada 1999. G20 merupakan kelompok informal dari 19 negara dan Uni Eropa, serta perwakilan dari International Monetary Fund  dan World Bank yang bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan berimbang.

G20 yang terdiri dari negara-negara kekuatan ekonomi besar dunia dan merupakan forum utama kerjasama ekonomi (premier forum for economic cooperation) memiliki modalitas untuk mendorong terwujudnya masa depan yang berkelanjutan dan lebih baik.

Sekjen DPR RI Indra Iskandar menjelaskan, dalam konteks parlemen, forum P20 bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antarparlemen untuk dapat mewujudkan tujuan G20.

“Yaitu mencapai stabilitas perekonomian global dan pertumbuhan berkelanjutan melalui fungsi penganggaran, pembuatan undang-undang, dan pengawasan yang dimiliki parlemen,” jelas Indra.

Diplomasi Parlemen

Dalam sesi pembukaan diplomasi P20 di Roma, Puan menyampaikan sejumlah gagasan, seperti perlunya peta jalan vaksinasi global (global vaccination roadmap) sebagai upaya dunia mengakhiri pandemi Covid-19.

“Penanganan kesehatan adalah kunci pemulihan. Dunia memerlukan rencana global mengakhiri pandemi, termasuk global vaccination road map untuk mencapai distribusi vaksin secara adil dan merata,” ucapnya.

Puan melanjutkan, distribusi vaksin yang adil dan merata ini bisa dilakukan dengan cara mendukung mekanisme berbagi dosis (dose-sharing), meningkatkan dan  diversifikasi produksi vaksin global.

“Kemudian mendukung  transfer teknologi dan pengecualian hak kekayaan intelektual, serta  menghapuskan diskriminasi vaksin,” kata cucu Proklamator RI Bung Karno ini disambut tepuk tangan meriah para delegasi.

Puan mengatakan, pandemi Covid-19 adalah tantangan global terbesar saat ini karena telah mengakibatkan krisis multidimensi. Krisis ini telah menunjukkan saling ketergantungan antara manusia (people), kemakmuran (prosperity) dan bumi (planet).

“Namun krisis juga melahirkan kesempatan untuk membangun dunia yang lebih baik paska pandemi dengan menjaga kelestarian lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih inklusif,” ujarnya.

Ketua DPR perempuan pertama di Indonesia ini juga menyinggung perlunya masyarakat internasional membantu aspek sosial di negara berkembang, termasuk kesetaraan gender.

“Potensi perempuan perlu terus diberdayakan pada masa pemulihan pandemi. Jika perempuan maju, maka suatu negara juga akan maju,” tambahnya. 

Puan lantas mengajak negara-negara G20 melalui forum P20 untuk meningkatkan kemitraan global dan memperkuat multilateralisme agar bisa membantu menyelesaikan masalah global akibat pandemi Covid-19.

“Parlemen dapat mempengaruhi posisi internasional negara-negara dan mendorong pemerintah untuk mengembangkan solidaritas global dan saling percaya antarnegara ketimbang penyelesaian unilateral,” tegasnya.

“Saya ingin tegaskan bahwa hanya dengan kemitraan global kita dapat bersama mengakhiri pandemi, termasuk menyelesaikan krisis sosial dan ketenagakerjaan.”

Dosen Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, menilai peran diplomasi Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI dalam P20 sama pentingnya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam forum KTT G20.

Bedanya, lanjut Robi, Puan membidangi keparlemenan atau legislatif dan Jokowi kepemerintahan atau eksekutif.

“Jadi acara P20 adalah pertemuan ekslusif yang dihadiri oleh para ketua parlemen dari seluruh negara G20 yang termasuk dari negara-negara ekonomi terbesar di dunia,” terang Robi.

Dari semua agenda yang sudah dijadwalkan oleh Puan dalam P20, Robi menilai yang paling penting adalah mengajak para ketua parlemen dari seluruh negara G20 untuk hadir pada forum parlemen P20 yang akan diselenggarakan di Indonesia tahun depan.

“Sebab, dua acara besar yakni P20 dan KTT G20 ini selalu digelar secara bersamaan,” ujarnya.

Robi meyakini diplomasi Puan mengajak para pimpinan parlemen negara-negara G20 untuk hadir pada pertemuan tahun depan di Indonesia, memiliki dua nilai yang menjadi kekuatan Indonesia.

Pertama, Puan adalah cucu dari Soekarno, presiden pertama sekaligus Bapak Bangsa Indonesia. Kedua, Puan adalah sosok perempuan pertama yang menjadi pemimpin parlemen di Indonesia, yang mana hal ini tidak terjadi di negara-negara mayoritas muslim di dunia.

“Sebagaimana diketahui posisi parlemen dalam negara demokrasi sangat penting dalam menentukan arah kebijakan jalannya roda-roda pemerintahan,” jelas Robi yang juga menjabat sebagai direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC).

Robi memuji Puan dari tiga sesi agendanya dalam pertemuan P20, karena mengangkat isu-isu perempuan seperti pentingnya penguatan sistem dan pembangunan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif, terutama bagi kaum perempuan dan penyandang disabilitas dalam merespons krisis sosial dan hilangnya pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

“Isu perempuan ini selalu dicantumkan oleh Puan dalam setiap lawatanya ke luar negeri,” puji Robi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/