alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Webinar Sekolah Ramah Anak di Masa Covid-19

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Menyongsong era kebiyasaan anyar (new normal), ratusan praktisi dan pegiat pendidikan berkumpul dalam satu forum virtual kemarin (16/6). Mereka menyerap ilmu sekaligus berdiskusi tentang penyelenggaraan pendidikan ramah anak di masa pandemi Covid-19 dalam forum website seminar (webinar) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.

Dua narasumber dilibatkan pada seminar bertajuk ”Sekolah Ramah Anak di Masa Covid-19” tersebut. Mereka adalah Ketua Umum Aspirasi sekaligus fasilitator sekolah ramah anak Bekti Prastyani dan peserta pertukaran guru Indonesia-Korea Heriyanto Nurcahyo.

Selain itu, Ipuk Festiandani Azwar Anas alias Dani Azwar Anas yang merupakan tokoh pendidikan anak usia dini (PAUD) Banyuwangi didapuk sebagai pembicara utama (keynote speaker) seminar tersebut.

Di sisi lain, peserta seminar tersebut mencapai 346 orang. Peserta yang didominasi pegiat pendidikan itu tidak hanya berasal dari seantero Banyuwangi. Tidak sedikit pula peserta yang berasal dari luar kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Dani mengatakan, seminar tersebut diharapkan bisa menjadi pedoman bagi pemkab maupun pemerintah pusat terkait pelaksanaan pendidikan ramah anak. ”Sehingga saat new normal diberlakukan, kita bisa memberikan layanan terbaik bagi anak-anak didik kita,” ujarnya.

Menurut Dani Anas, menutup atau membuka kembali sekolah di saat pandemi Covid-19 adalah keputusan yang membawa dampak positif maupun dampak negatif bagi siswa. Sebagai contoh, jika pengalihan belajar di rumah diteruskan sedangkan tidak semua orang tua memahami cara memberikan layanan pendidikan yang baik untuk anak-anak di rumah, maka hal ini akan berdampak negatif pada anak. ”Belum lagi potensi penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak-anak,” kata dia.

Namun di sisi lain, jika sekolah dibuka tanpa diimbangi kesiapan peranti untuk mencegah penularan virus korona, maka hal itu akan berdampak negatif pada siswa dan warga sekolah secara umum. ”Maka, harus dipastikan kesiapan sekolah untuk mencegah penularan Covid-19,” tegasnya.

Dani menambahkan, ada tiga kata kunci yang harus diterapkan di sekolah new normal. Tiga kata kunci itu adalah clean (bersih), healthy (sehat), dan safety (keamanan). ”Anak-anak sangat rentan terhadap virus korona maupun dampak secara psikologis efek pandemi Covid-19. Maka dari itu, sekolah harus menerapkan fungsi clean, healthy, dan safety,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, diakuinya belum bisa membuat peserta didik kembali belajar di sekolah. Sehingga, kemungkinan masa belajar peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMP masih dilakukan di rumah. Apalagi, kata Suratno, anak-anak sangat berisiko menularkan virus ke orang lain.

Menurut data, per 23 Mei 2020 setidaknya ada 3.400 anak terpapar korona dengan status PDP dengan 14 anak meninggal dunia. ”Karena itulah, anak-anak sebaiknya tetap berada di rumah selama situasi pandemi ini masih berlangsung. Anak-anak juga tetap harus melakukan physical distancing sehingga mereka juga tidak direkomendasikan untuk bermain dengan teman sebayanya selama pandemi ini,” ujarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik Nuriyatus Sholeha menambahkan, untuk menghadapi pandemi Covid -19, upaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya ramah anak mesti terus dilakukan agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal. ”Tentu upaya pencegahan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun kepeloporan masyarakat, orangtua, dan keluarga sangat menentukan,” kata dia.

Menurut Nuriyatus, sekolah ramah anak di masa Covid-19 ini mengembalikan peran dan fungsi orang tua. Sebagai orang tua harus betul-betul menyadari bahwasanya pendidikan anak-anaknya saat ini kembali menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Kembali ke kodratnya bahwa orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. ”Keluarga adalah tempat terbaik bagi proses pendidikan bagi seorang anak. Fungsi keluarga sebagai fungsi pendidikan haruslah hidup dan bernyawa secara utuh. Orang tua menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya,” pungkasnya. (*)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Menyongsong era kebiyasaan anyar (new normal), ratusan praktisi dan pegiat pendidikan berkumpul dalam satu forum virtual kemarin (16/6). Mereka menyerap ilmu sekaligus berdiskusi tentang penyelenggaraan pendidikan ramah anak di masa pandemi Covid-19 dalam forum website seminar (webinar) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.

Dua narasumber dilibatkan pada seminar bertajuk ”Sekolah Ramah Anak di Masa Covid-19” tersebut. Mereka adalah Ketua Umum Aspirasi sekaligus fasilitator sekolah ramah anak Bekti Prastyani dan peserta pertukaran guru Indonesia-Korea Heriyanto Nurcahyo.

Selain itu, Ipuk Festiandani Azwar Anas alias Dani Azwar Anas yang merupakan tokoh pendidikan anak usia dini (PAUD) Banyuwangi didapuk sebagai pembicara utama (keynote speaker) seminar tersebut.

Di sisi lain, peserta seminar tersebut mencapai 346 orang. Peserta yang didominasi pegiat pendidikan itu tidak hanya berasal dari seantero Banyuwangi. Tidak sedikit pula peserta yang berasal dari luar kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Dani mengatakan, seminar tersebut diharapkan bisa menjadi pedoman bagi pemkab maupun pemerintah pusat terkait pelaksanaan pendidikan ramah anak. ”Sehingga saat new normal diberlakukan, kita bisa memberikan layanan terbaik bagi anak-anak didik kita,” ujarnya.

Menurut Dani Anas, menutup atau membuka kembali sekolah di saat pandemi Covid-19 adalah keputusan yang membawa dampak positif maupun dampak negatif bagi siswa. Sebagai contoh, jika pengalihan belajar di rumah diteruskan sedangkan tidak semua orang tua memahami cara memberikan layanan pendidikan yang baik untuk anak-anak di rumah, maka hal ini akan berdampak negatif pada anak. ”Belum lagi potensi penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak-anak,” kata dia.

Namun di sisi lain, jika sekolah dibuka tanpa diimbangi kesiapan peranti untuk mencegah penularan virus korona, maka hal itu akan berdampak negatif pada siswa dan warga sekolah secara umum. ”Maka, harus dipastikan kesiapan sekolah untuk mencegah penularan Covid-19,” tegasnya.

Dani menambahkan, ada tiga kata kunci yang harus diterapkan di sekolah new normal. Tiga kata kunci itu adalah clean (bersih), healthy (sehat), dan safety (keamanan). ”Anak-anak sangat rentan terhadap virus korona maupun dampak secara psikologis efek pandemi Covid-19. Maka dari itu, sekolah harus menerapkan fungsi clean, healthy, dan safety,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, diakuinya belum bisa membuat peserta didik kembali belajar di sekolah. Sehingga, kemungkinan masa belajar peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMP masih dilakukan di rumah. Apalagi, kata Suratno, anak-anak sangat berisiko menularkan virus ke orang lain.

Menurut data, per 23 Mei 2020 setidaknya ada 3.400 anak terpapar korona dengan status PDP dengan 14 anak meninggal dunia. ”Karena itulah, anak-anak sebaiknya tetap berada di rumah selama situasi pandemi ini masih berlangsung. Anak-anak juga tetap harus melakukan physical distancing sehingga mereka juga tidak direkomendasikan untuk bermain dengan teman sebayanya selama pandemi ini,” ujarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik Nuriyatus Sholeha menambahkan, untuk menghadapi pandemi Covid -19, upaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya ramah anak mesti terus dilakukan agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal. ”Tentu upaya pencegahan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun kepeloporan masyarakat, orangtua, dan keluarga sangat menentukan,” kata dia.

Menurut Nuriyatus, sekolah ramah anak di masa Covid-19 ini mengembalikan peran dan fungsi orang tua. Sebagai orang tua harus betul-betul menyadari bahwasanya pendidikan anak-anaknya saat ini kembali menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Kembali ke kodratnya bahwa orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. ”Keluarga adalah tempat terbaik bagi proses pendidikan bagi seorang anak. Fungsi keluarga sebagai fungsi pendidikan haruslah hidup dan bernyawa secara utuh. Orang tua menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/