alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Jemput Bola Adminduk, Siapkan Infrastruktur

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi kembali menggelar program layanan jemput bola kepada warga yang tinggal di tengah perkebunan dan kawasan hutan. Yang terbaru, program bertajuk Camping Pelayanan Masyarakat Kebun (Camping Embun) tersebut digelar di Kampung Mbaung, yakni perkampungan kecil di tengah rimba pinus yang secara administratif masuk Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung.

       Kampung Mbaung berjarak sekitar 12 kilometer (km) dari perkampungan Dusun Sumberurip. Itu pun, medan yang harus dilalui cukup berat, yakni melewati jalan berbatu dan melintasi hutan jati yang dikelola Perhutani.

       Bupati Ipuk Fiestiandani hadir langsung guna memastikan pelayanan berjalan dengan lancar sekaligus meninjau kondisi kampung tersebut. Bertempat di SDN 8 Barurejo, selain membuka layanan administrasi kependudukan, juga digelar vaksinasi covid-19 dan imunisasi anak. “Bapak mau mengurus apa? Silakan dimanfaatkan program ini Pak. Surat dan dokumen apa yang seharusnya dibutuhkan segera diurus sekarang, biar dibantu petugasnya. Layanan ini gratis,” kata Ipuk kepada Hasim Asari, warga setempat.

       Hasim mengaku sangat terbantu dengan adanya program Camping Embun karena prosesnya cepat. Pria yang sedang mengurus akta kelahiran putranya tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi. “Saya mengurus akta kelahiran anak kedua dan ketiga. Alhamdulillah beres di hari yang sama, cepat sekali,” ujarnya.

       Hal yang sama dirasakan Suwono. Dia senang karena dapat mengurus beberapa administrasi kependudukan dalam satu waktu. Dalam sehari ia mendapatkan apa yang dibutuhkan, yakni KK, akta kelahiran, dan Kartu Identitas Anak (KIA). “Mudah-mudahan layanan seperti ini rutin dilakukan,” harapnya.

       Bupati Ipuk menjelaskan, dalam Camping Embun, petugas menginap untuk jemput bola ke masyarakat di tengah perkebunan dan kawasan hutan. “Kami hadirkan ini karena akses dari perkebunan dan kawasan hutan ke kantor desa jauh, bisa satu jam bahkan dua jam. Sedangkan untuk mengakses layanan secara online, tidak semua warga punya smartphone. Belum lagi kendala sinyal. Makanya kami jemput bola, bahkan sampai camping,” jelasnya.

       Dia mengatakan, jumlah warga yang tinggal di kawasan perkebunan/hutan memang tidak sebanyak warga di pusat desa atau pusat kecamatan. Meski demikian, semua hak kependudukan warga dan layanan dasar harus dipenuhi. “Kalau bicara statistik, tentu jumlah penduduk kawasan perkebunan lebih sedikit. Namun, hak dokumen kependudukan harus dipenuhi. Demikian pula kita upayakan peningkatan pelayanan dasar,” tuturnya.

       Menggelar layanan di Kampung Mbaung ini bukanlah hal mudah. Di kampung yang luas dan dihuni tidak sampai 200 kepala keluarga ini, tim pemkab harus membawa genset dan menggelar kabel internet. “Terima kasih kepada seluruh petugas. Mereka menginap, bawa genset, belum lagi menarik kabel internet sejauh 1,5 km biar layanan kependudukan segera terselesaikan. Bukan perkara biaya yang besar, namun ini adalah upaya kami agar hak-hak warga terpenuhi. Kalau warga punya surat kependudukan lengkap, otomatis dapat mengakses layanan publik lainnya dengan baik,” kata Ipuk.

       Selain melihat layanan, Ipuk juga melihat perkembangan infrastruktur yang ada di desa tersebut untuk mengecek yang bisa dilakukan pemkab di kawasan tersebut mengingat kampung tersebut berada di bawah pengelolaan Perhutani. “Pembangunan kawasan ini memang memiliki aturan tersendiri. Tak boleh sembarangan untuk dibangun. Harus seizin pengelolanya. Tadi kita cek sama Dinas PU, ada sejumlah infrastruktur yang akan kita garap tahun depan di kampung tersebut,” tuturnya.

       Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya, Perumahan, dan Pemukiman (CKPP) Banyuwangi Danang Hartanto menjelaskan, akan dilakukan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan para pelajar SD di kawasan tersebut. “Selain itu, jalan menuju wilayah perkampungan juga akan kita bantu. Kami akan koordinasi dengan Perhutani sebagai pengelola,” ujarnya. 

       Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi juga melakukan penguatan SDM di kampung tersebut lewat program Banyuwangi Mengajar. Pemkab mengirimkan sarjana-sarjana terbaiknya untuk mengabdikan diri, mengajar, dan memberi motivasi kepada anak-anak di desa-desa terpencil itu. “Sejak 2016 sarjana fresh graduate dikirim di SD tersebut. Mereka tak hanya mengajar, namun juga memotivasi para pelajar untuk tidak putus asa di tengah keterbatasan. Saat ini, dua sarjana program Banyuwangi Mengajar bertugas di sana,” ujarnya.

       Sekadar diketahui, sebelumnya, program Camping Embun tersebut telah digeber beberapa kali, antara lain di Perkebunan Kapuk Wongsorejo, Perkebunan Kopi Malangsari, dan Perkebunan Kendenglembu Glenmore.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi kembali menggelar program layanan jemput bola kepada warga yang tinggal di tengah perkebunan dan kawasan hutan. Yang terbaru, program bertajuk Camping Pelayanan Masyarakat Kebun (Camping Embun) tersebut digelar di Kampung Mbaung, yakni perkampungan kecil di tengah rimba pinus yang secara administratif masuk Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung.

       Kampung Mbaung berjarak sekitar 12 kilometer (km) dari perkampungan Dusun Sumberurip. Itu pun, medan yang harus dilalui cukup berat, yakni melewati jalan berbatu dan melintasi hutan jati yang dikelola Perhutani.

       Bupati Ipuk Fiestiandani hadir langsung guna memastikan pelayanan berjalan dengan lancar sekaligus meninjau kondisi kampung tersebut. Bertempat di SDN 8 Barurejo, selain membuka layanan administrasi kependudukan, juga digelar vaksinasi covid-19 dan imunisasi anak. “Bapak mau mengurus apa? Silakan dimanfaatkan program ini Pak. Surat dan dokumen apa yang seharusnya dibutuhkan segera diurus sekarang, biar dibantu petugasnya. Layanan ini gratis,” kata Ipuk kepada Hasim Asari, warga setempat.

       Hasim mengaku sangat terbantu dengan adanya program Camping Embun karena prosesnya cepat. Pria yang sedang mengurus akta kelahiran putranya tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi. “Saya mengurus akta kelahiran anak kedua dan ketiga. Alhamdulillah beres di hari yang sama, cepat sekali,” ujarnya.

       Hal yang sama dirasakan Suwono. Dia senang karena dapat mengurus beberapa administrasi kependudukan dalam satu waktu. Dalam sehari ia mendapatkan apa yang dibutuhkan, yakni KK, akta kelahiran, dan Kartu Identitas Anak (KIA). “Mudah-mudahan layanan seperti ini rutin dilakukan,” harapnya.

       Bupati Ipuk menjelaskan, dalam Camping Embun, petugas menginap untuk jemput bola ke masyarakat di tengah perkebunan dan kawasan hutan. “Kami hadirkan ini karena akses dari perkebunan dan kawasan hutan ke kantor desa jauh, bisa satu jam bahkan dua jam. Sedangkan untuk mengakses layanan secara online, tidak semua warga punya smartphone. Belum lagi kendala sinyal. Makanya kami jemput bola, bahkan sampai camping,” jelasnya.

       Dia mengatakan, jumlah warga yang tinggal di kawasan perkebunan/hutan memang tidak sebanyak warga di pusat desa atau pusat kecamatan. Meski demikian, semua hak kependudukan warga dan layanan dasar harus dipenuhi. “Kalau bicara statistik, tentu jumlah penduduk kawasan perkebunan lebih sedikit. Namun, hak dokumen kependudukan harus dipenuhi. Demikian pula kita upayakan peningkatan pelayanan dasar,” tuturnya.

       Menggelar layanan di Kampung Mbaung ini bukanlah hal mudah. Di kampung yang luas dan dihuni tidak sampai 200 kepala keluarga ini, tim pemkab harus membawa genset dan menggelar kabel internet. “Terima kasih kepada seluruh petugas. Mereka menginap, bawa genset, belum lagi menarik kabel internet sejauh 1,5 km biar layanan kependudukan segera terselesaikan. Bukan perkara biaya yang besar, namun ini adalah upaya kami agar hak-hak warga terpenuhi. Kalau warga punya surat kependudukan lengkap, otomatis dapat mengakses layanan publik lainnya dengan baik,” kata Ipuk.

       Selain melihat layanan, Ipuk juga melihat perkembangan infrastruktur yang ada di desa tersebut untuk mengecek yang bisa dilakukan pemkab di kawasan tersebut mengingat kampung tersebut berada di bawah pengelolaan Perhutani. “Pembangunan kawasan ini memang memiliki aturan tersendiri. Tak boleh sembarangan untuk dibangun. Harus seizin pengelolanya. Tadi kita cek sama Dinas PU, ada sejumlah infrastruktur yang akan kita garap tahun depan di kampung tersebut,” tuturnya.

       Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya, Perumahan, dan Pemukiman (CKPP) Banyuwangi Danang Hartanto menjelaskan, akan dilakukan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan para pelajar SD di kawasan tersebut. “Selain itu, jalan menuju wilayah perkampungan juga akan kita bantu. Kami akan koordinasi dengan Perhutani sebagai pengelola,” ujarnya. 

       Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi juga melakukan penguatan SDM di kampung tersebut lewat program Banyuwangi Mengajar. Pemkab mengirimkan sarjana-sarjana terbaiknya untuk mengabdikan diri, mengajar, dan memberi motivasi kepada anak-anak di desa-desa terpencil itu. “Sejak 2016 sarjana fresh graduate dikirim di SD tersebut. Mereka tak hanya mengajar, namun juga memotivasi para pelajar untuk tidak putus asa di tengah keterbatasan. Saat ini, dua sarjana program Banyuwangi Mengajar bertugas di sana,” ujarnya.

       Sekadar diketahui, sebelumnya, program Camping Embun tersebut telah digeber beberapa kali, antara lain di Perkebunan Kapuk Wongsorejo, Perkebunan Kopi Malangsari, dan Perkebunan Kendenglembu Glenmore.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/