alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, September 25, 2022

Belum Up To Date, Masih Ada Warga yang Pakai KTP Jadul

KALIBARU, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi kembali menggeber program Camping Pelayanan Masyarakat Kebun alias Camping Embun. Kali ini program tersebut menyasar masyarakat di Dusun Gunung Raung, Desa Kajarharjo, Kalibaru Kulon, Banyuwangi, yang merupakan kawasan Perkebunan Jatirono, PT Perkebunan Nasional (PTPN) XII.

Sebagaimana diketahui, letak geografis yang relatif sulit dijangkau dan teknologi yang kurang memadai, menjadi salah satu penyebab masyarakat enggan mengurus administrasi kependudukan (adminduk). Seperti yang banyak terjadi di kawasan hutan dan perkebunan di Banyuwangi.

Jauhnya akses menuju pusat pelayanan menjadi salah satu alasan masyarakat enggan mengurus atau memperbarui dokumen adminduk. Meski Banyuwangi telah memiliki inovasi digitalisasi dalam kepengurusan adminduk, namun bagi warga di kawasan hutan dan perkebunan solusi tersebut juga sulit dilakukan karena keterbatasan teknologi komunikasi di kawasan tersebut.

Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut, pemkab pun jemput bola guna mendekatkan layanan adminduk bagi warga yang tinggal di kawasan perkebunan. Yakni lewat Camping Embun. Para petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) menginap di kawasan tersebut untuk memberikan layanan adminduk.

Program ini disambut antusias warga. Salah satunya Diah, 40. Dia mengaku layanan tersebut sangat membantu dirinya dalam mengurus dokumen adminduk. ”Saya bersyukur ada layanan ini. Terima kasih sudah membuka layanan di dusun kami. Sangat membantu sekali dan menghemat waktu,” ujarnya menanggapi program Camping Embun yang digelar sejak Selasa (9/8) hingga Rabu  (10/8) tersebut.

Baca Juga :  Cagub Jatim Gus Ipul Berkunjung ke BWI, Ini Rencana Perjalanannya

Perempuan yang bekerja di perkebunan itu mengatakan, biasanya apabila hendak mengurus adminduk dia harus meminta libur atau cuti bekerja. ”Seperti saat saya mengurus perubahan akta kelahiran keponakan. Saya harus minta libur karena bukanya kantor kan hari kerja. Belum lagi jaraknya jauh, jadi butuh seharian,” kata Diah.

Hal yang sama juga dilontarkan Nurhasanah, 37. Dia memanfaatkan layanan tersebut untuk mengurus akta kelahiran suami. ”Suami saya harus bekerja, jadi saya yang ngurus. Alhamdulillah, ada program ini, jadi dekat,” tuturnya.

Selain itu, di Desa Kajarharjo banyak warga yang tidak memperbarui adminduk karena ketidaktahuan mereka. Seperti nenek Duma, 63, yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) ”jaman dulu” (jadul), yakni KTP berwarna putih. ”Saya tidak tahu kalau harus buat KTP baru. Karena itu mumpung di sini jadi saya mengurusnya,” akunya.

Banyak pula permasalahan adminduk lainnya. Seperti warga pendatang yang tidak mengetahui alur kepengurusannya sehingga enggan untuk mengurus.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, di kawasan yang kondisi geografisnya sulit dijangkau dan teknologinya belum memadai, contohnya di permukiman di kawasan hutan dan perkebunan, memang banyak ditemukan persoalan-persoalan adminduk. ”Karena itu kami mendekatkan layanan dengan datang langsung ke kawasan-kawasan tersebut,” ujarnya saat meninjau Camping Embun di Dusun Gunung Raung.

Baca Juga :  Jemput Bola Adminduk, Siapkan Infrastruktur

Di sisi lain, Ipuk berterima kasih terima kasih pada petugas Dispendukcapil yang harus camping dan menginap untuk memberikan layanan. ”Semoga ini menjadi amal ibadah Anda,” harapnya.

Kepala Dispendukcapil Juang Pribadi menambahkan, hingga Selasa siang (9/8) telah 87 persen dokumen adminduk yang berhasil terselesaikan dari total target sekitar 650 orang. Kurang 13 persen dokumen atau sekitar 105 karena harus melalui proses yang lebih sulit. ”Seperti warga pendatang yang melakukan perubahan dokumen, tapi belum mengurus ke daerah asalnya. Kami mencoba untuk komunikasi dengan pemerintah daerah asal yang bersangkutan untuk menarik berkas dan kami upayakan untuk selesai secepatnya,” kata dia.

Selain itu, ada kasus-kasus sulit yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Seperti warga yang mengurus akta cerai, namun tidak memiliki surat keputusan dari persidangan.

Juang mengatakan, dalam Camping Embun kali ini, selain pengurusan dokumen adminduk mulai pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA), akta kelahiran, akta kematian, akta keluarga, dan perubahan dokumen lainnya, juga terdapat layanan sidang isbat bekerja sama dengan Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. (sgt/aif/c1)

KALIBARU, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi kembali menggeber program Camping Pelayanan Masyarakat Kebun alias Camping Embun. Kali ini program tersebut menyasar masyarakat di Dusun Gunung Raung, Desa Kajarharjo, Kalibaru Kulon, Banyuwangi, yang merupakan kawasan Perkebunan Jatirono, PT Perkebunan Nasional (PTPN) XII.

Sebagaimana diketahui, letak geografis yang relatif sulit dijangkau dan teknologi yang kurang memadai, menjadi salah satu penyebab masyarakat enggan mengurus administrasi kependudukan (adminduk). Seperti yang banyak terjadi di kawasan hutan dan perkebunan di Banyuwangi.

Jauhnya akses menuju pusat pelayanan menjadi salah satu alasan masyarakat enggan mengurus atau memperbarui dokumen adminduk. Meski Banyuwangi telah memiliki inovasi digitalisasi dalam kepengurusan adminduk, namun bagi warga di kawasan hutan dan perkebunan solusi tersebut juga sulit dilakukan karena keterbatasan teknologi komunikasi di kawasan tersebut.

Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut, pemkab pun jemput bola guna mendekatkan layanan adminduk bagi warga yang tinggal di kawasan perkebunan. Yakni lewat Camping Embun. Para petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) menginap di kawasan tersebut untuk memberikan layanan adminduk.

Program ini disambut antusias warga. Salah satunya Diah, 40. Dia mengaku layanan tersebut sangat membantu dirinya dalam mengurus dokumen adminduk. ”Saya bersyukur ada layanan ini. Terima kasih sudah membuka layanan di dusun kami. Sangat membantu sekali dan menghemat waktu,” ujarnya menanggapi program Camping Embun yang digelar sejak Selasa (9/8) hingga Rabu  (10/8) tersebut.

Baca Juga :  Survei: Airlangga Unggul Jika Head to Head dengan Prabowo dan Ganjar

Perempuan yang bekerja di perkebunan itu mengatakan, biasanya apabila hendak mengurus adminduk dia harus meminta libur atau cuti bekerja. ”Seperti saat saya mengurus perubahan akta kelahiran keponakan. Saya harus minta libur karena bukanya kantor kan hari kerja. Belum lagi jaraknya jauh, jadi butuh seharian,” kata Diah.

Hal yang sama juga dilontarkan Nurhasanah, 37. Dia memanfaatkan layanan tersebut untuk mengurus akta kelahiran suami. ”Suami saya harus bekerja, jadi saya yang ngurus. Alhamdulillah, ada program ini, jadi dekat,” tuturnya.

Selain itu, di Desa Kajarharjo banyak warga yang tidak memperbarui adminduk karena ketidaktahuan mereka. Seperti nenek Duma, 63, yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) ”jaman dulu” (jadul), yakni KTP berwarna putih. ”Saya tidak tahu kalau harus buat KTP baru. Karena itu mumpung di sini jadi saya mengurusnya,” akunya.

Banyak pula permasalahan adminduk lainnya. Seperti warga pendatang yang tidak mengetahui alur kepengurusannya sehingga enggan untuk mengurus.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, di kawasan yang kondisi geografisnya sulit dijangkau dan teknologinya belum memadai, contohnya di permukiman di kawasan hutan dan perkebunan, memang banyak ditemukan persoalan-persoalan adminduk. ”Karena itu kami mendekatkan layanan dengan datang langsung ke kawasan-kawasan tersebut,” ujarnya saat meninjau Camping Embun di Dusun Gunung Raung.

Baca Juga :  Menko Airlangga Dorong Transformasi Digital Industri Kesehatan

Di sisi lain, Ipuk berterima kasih terima kasih pada petugas Dispendukcapil yang harus camping dan menginap untuk memberikan layanan. ”Semoga ini menjadi amal ibadah Anda,” harapnya.

Kepala Dispendukcapil Juang Pribadi menambahkan, hingga Selasa siang (9/8) telah 87 persen dokumen adminduk yang berhasil terselesaikan dari total target sekitar 650 orang. Kurang 13 persen dokumen atau sekitar 105 karena harus melalui proses yang lebih sulit. ”Seperti warga pendatang yang melakukan perubahan dokumen, tapi belum mengurus ke daerah asalnya. Kami mencoba untuk komunikasi dengan pemerintah daerah asal yang bersangkutan untuk menarik berkas dan kami upayakan untuk selesai secepatnya,” kata dia.

Selain itu, ada kasus-kasus sulit yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Seperti warga yang mengurus akta cerai, namun tidak memiliki surat keputusan dari persidangan.

Juang mengatakan, dalam Camping Embun kali ini, selain pengurusan dokumen adminduk mulai pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA), akta kelahiran, akta kematian, akta keluarga, dan perubahan dokumen lainnya, juga terdapat layanan sidang isbat bekerja sama dengan Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/