alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Sushi Gaplek hingga Pasta Singkong Tersaji di Fepanora

RadarBanyuwangi.id – Beragam makanan dan kudapan ”unik” berbahan dasar nonberas tersaji di kantor Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi kemarin (9/9). Ada kwetiau porang, puding cake ubi ungu, rendang jantung pisang, sushi gaplek sidat, buntel ikan nila, puding labu, hingga pasta singkong.

Hidangan itu merupakan hasil kreasi para peserta Festival Pangan Non-Beras (Fepanora) yang digeber Pemkab Banyuwangi. Festival yang mengangkat tema ”Penganekaragaman Pangan untuk Kesejahteraan Masyarakat (PPKM)” tersebut digeber sejak Rabu (8/9).

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, Fepanora merupakan bagian dari program peningkatan ketahanan pangan. ”Masyarakat kita edukasi agar mengolah lebih banyak ragam jenis karbohidrat nonberas. Ternyata di festival ini, banyak bahan pangan lain yang diolah dan enak di lidah,” ujarnya saat menghadiri Fepanora tersebut kemarin.

Ipuk mengatakan, festival ini juga bentuk dukungan pemkab terhadap program diversifikasi pangan yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) RI sejak 2020 lalu. ”Saya lihat banyak sekali menu-menu baru yang dibikin dari tanaman pangan hasil budi daya warga. Ada yang dari singkong, ubi, labu, dan masih banyak lagi, yang semuanya bisa kita tanam di sekitar pekarangan kita. Saya harap menu ini bisa diterapkan sehari-hari jadi agar pangan kita lebih beragam,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan menambahkan, gelaran festival ini merupakan kerja bareng dengan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banyuwangi. ”Pesertanya adalah tim PKK dari 25 kecamatan se-Banyuwangi,” tuturnya.

Menurut Arief, Fepanora juga menjadi bagian upaya membentuk budaya baru mengolah bahan pangan lain. ”Kami melibatkan ibu-ibu untuk memicu daya inovasi mereka bagaimana mengolah umbi-umbian dan tanaman yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.

Dalam festival tersebut disajikan aneka kreasi olahan makanan berbahan dasar nonberas yang sangat menarik. Seperti menu sushi hasil kreasi tim PKK Kecamatan Licin. Makanan khas Jepang tersebut dibikin dari paduan tepung gaplek (singkong yang dikeringkan), labu siam, wortel, dan labu kuning yang dicampur dengan daging ikan sidat. Sushi tersebut lantas disajikan bersama wasabi dari kecombrang, saus hitam dari kluwek, serta sambal markisa.

Juga ada selimut sayur serta pasta ubi yang dikombinasikan dengan bakso sapi dan saus kacang merah. Berbagai kreasi minuman juga ada, seperti teh bunga telang, jus kemerdekaan, dan masih banyak lainnya.

Berbagai menu tersebut dinilai oleh juri yang berkompeten dari persatuan chef profesional Indonesia, ahli gizi, dan praktisi gizi pangan olahan. 

RadarBanyuwangi.id – Beragam makanan dan kudapan ”unik” berbahan dasar nonberas tersaji di kantor Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi kemarin (9/9). Ada kwetiau porang, puding cake ubi ungu, rendang jantung pisang, sushi gaplek sidat, buntel ikan nila, puding labu, hingga pasta singkong.

Hidangan itu merupakan hasil kreasi para peserta Festival Pangan Non-Beras (Fepanora) yang digeber Pemkab Banyuwangi. Festival yang mengangkat tema ”Penganekaragaman Pangan untuk Kesejahteraan Masyarakat (PPKM)” tersebut digeber sejak Rabu (8/9).

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, Fepanora merupakan bagian dari program peningkatan ketahanan pangan. ”Masyarakat kita edukasi agar mengolah lebih banyak ragam jenis karbohidrat nonberas. Ternyata di festival ini, banyak bahan pangan lain yang diolah dan enak di lidah,” ujarnya saat menghadiri Fepanora tersebut kemarin.

Ipuk mengatakan, festival ini juga bentuk dukungan pemkab terhadap program diversifikasi pangan yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) RI sejak 2020 lalu. ”Saya lihat banyak sekali menu-menu baru yang dibikin dari tanaman pangan hasil budi daya warga. Ada yang dari singkong, ubi, labu, dan masih banyak lagi, yang semuanya bisa kita tanam di sekitar pekarangan kita. Saya harap menu ini bisa diterapkan sehari-hari jadi agar pangan kita lebih beragam,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan menambahkan, gelaran festival ini merupakan kerja bareng dengan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banyuwangi. ”Pesertanya adalah tim PKK dari 25 kecamatan se-Banyuwangi,” tuturnya.

Menurut Arief, Fepanora juga menjadi bagian upaya membentuk budaya baru mengolah bahan pangan lain. ”Kami melibatkan ibu-ibu untuk memicu daya inovasi mereka bagaimana mengolah umbi-umbian dan tanaman yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.

Dalam festival tersebut disajikan aneka kreasi olahan makanan berbahan dasar nonberas yang sangat menarik. Seperti menu sushi hasil kreasi tim PKK Kecamatan Licin. Makanan khas Jepang tersebut dibikin dari paduan tepung gaplek (singkong yang dikeringkan), labu siam, wortel, dan labu kuning yang dicampur dengan daging ikan sidat. Sushi tersebut lantas disajikan bersama wasabi dari kecombrang, saus hitam dari kluwek, serta sambal markisa.

Juga ada selimut sayur serta pasta ubi yang dikombinasikan dengan bakso sapi dan saus kacang merah. Berbagai kreasi minuman juga ada, seperti teh bunga telang, jus kemerdekaan, dan masih banyak lainnya.

Berbagai menu tersebut dinilai oleh juri yang berkompeten dari persatuan chef profesional Indonesia, ahli gizi, dan praktisi gizi pangan olahan. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/