alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Anak Muda Banyuwangi Sulap Rumah Kuno

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sejumlah anak muda Banyuwangi menyulap rumah kuno menjadi lokasi yang sangat instagramable. Aktivitas ini dilakukan untuk meningkatkan geliat wisata di desa.

Puluhan anak muda yang tergabung dalam Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN) bersemangat untuk melakukan branding potensi wisata di desa. Kali ini mereka berkarya di Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh. Mereka menyulap rumah milik kepala desa setempat, Mura’i Ahmad, menjadi spot foto  menarik.

“Awalnya kami ditantang membuat sesuatu yang menarik untuk mengembangkan Kecamatan Singojuruh, khususnya Desa Gumirih. Selama ini Singojuruh terkenal karena tradisi kebo-keboan, mereka ingin ada destinasi baru,” jelas Ketua BYCN, Vicky Hendri Prasetyo.

Setelah keliling desa, mereka melihat rumah Pak Kades yang banyak peninggalan kuno. Di lahannya yang seluas satu hektare, selain ada rumah pribadi, juga terdapat 9 rumah Using kuno dan satu Joglo besar. Belum lagi, barang-barang peninggalan kuno koleksi Mura’i. “Kami jadi terinspirasi ingin membuat tempat  selain untuk spot foto, namun bisa juga untuk belajar sejarah. Koleksinya ada yang dari jaman dinasti Qing,” ujarnya.

Mereka pun dengan semangat “membongkar” lahan milik Kades Mura’i. Koleksi pintu-pintu kuno mereka jajar sedemikian rupa menjadi gerbang masuk  menarik. Rumah-rumah using didesain dengan interior yang menarik dan sisi koleksi barang-barang lawas.

 

Pengunjung datang seolah diajak tur mengunjungi beragam spot tematik yang menarik. “Kami juga membuat amphiteater di bagian belakang lokasi. Awalnya ini lahan tidak terawat, gundukan tanah yang dipenuhi rumput liar. Lalu kami pugar jadi amphiteater yang menarik. Ini bisa jadi public space,” terang Vicky.

Kades Murai mengaku sangat senang dengan apa yang dilakukan anak-anak muda ini. Menurutnya, ini akan menjadi daya tarik baru bagi Desa Gumirih. “Ini bisa jadi destinasi baru di Desa Gumirih. Amphiteaternya juga akan bisa menjadi pusat aktivitas baru bagi warga. Misal untuk belajar seni atau pentas seni,” kata Murai.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi, apa  dilakukan anak-anak muda BYCN. “Anak-anak muda saat ini memang memiliki kecenderungan kreativitas sendiri. Kita sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan dukungan dan memfasilitasi. “Kami juga meminta pada desa-desa agar melibatkan anak-anak muda untuk turut mengembangkan berbagai potensi yang ada,” tambah Ipuk.

BYCN merupakan kumpulan berbagai komunitas  meliputi 17 sektor, seperti desain produk,  fashion, film/video, fotografi, kerajian, kuliner, sektor musik, sektor aplikasi, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan lainnya.

Mereka berkumpul mengangkat berbagai potensi desa dengan menggelar pelatihan di berbagai sektor kreatif yang mengacu pada masing-masing potensi desa. Sebelumnya, mereka telah keliling ke Desa/Kecamatan Wongsorejo, Desa Macan Putih – Kabat, dan Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

“Di setiap desa tim BYCN mencoba menggali dan mengangkat potensi yang ada di desa. Tidak hanya mengangkat UMKM dan potensi alamnya, di setiap desa kami juga menggelar Maestro Mengajar. Para seniman Gandrung senior melatih anak desa setempat menjadi Gandrung. Khusus di Singojuruh ini juga ada freelance illustrator,” pungkas Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, M.Yanuarto Bramuda.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sejumlah anak muda Banyuwangi menyulap rumah kuno menjadi lokasi yang sangat instagramable. Aktivitas ini dilakukan untuk meningkatkan geliat wisata di desa.

Puluhan anak muda yang tergabung dalam Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN) bersemangat untuk melakukan branding potensi wisata di desa. Kali ini mereka berkarya di Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh. Mereka menyulap rumah milik kepala desa setempat, Mura’i Ahmad, menjadi spot foto  menarik.

“Awalnya kami ditantang membuat sesuatu yang menarik untuk mengembangkan Kecamatan Singojuruh, khususnya Desa Gumirih. Selama ini Singojuruh terkenal karena tradisi kebo-keboan, mereka ingin ada destinasi baru,” jelas Ketua BYCN, Vicky Hendri Prasetyo.

Setelah keliling desa, mereka melihat rumah Pak Kades yang banyak peninggalan kuno. Di lahannya yang seluas satu hektare, selain ada rumah pribadi, juga terdapat 9 rumah Using kuno dan satu Joglo besar. Belum lagi, barang-barang peninggalan kuno koleksi Mura’i. “Kami jadi terinspirasi ingin membuat tempat  selain untuk spot foto, namun bisa juga untuk belajar sejarah. Koleksinya ada yang dari jaman dinasti Qing,” ujarnya.

Mereka pun dengan semangat “membongkar” lahan milik Kades Mura’i. Koleksi pintu-pintu kuno mereka jajar sedemikian rupa menjadi gerbang masuk  menarik. Rumah-rumah using didesain dengan interior yang menarik dan sisi koleksi barang-barang lawas.

 

Pengunjung datang seolah diajak tur mengunjungi beragam spot tematik yang menarik. “Kami juga membuat amphiteater di bagian belakang lokasi. Awalnya ini lahan tidak terawat, gundukan tanah yang dipenuhi rumput liar. Lalu kami pugar jadi amphiteater yang menarik. Ini bisa jadi public space,” terang Vicky.

Kades Murai mengaku sangat senang dengan apa yang dilakukan anak-anak muda ini. Menurutnya, ini akan menjadi daya tarik baru bagi Desa Gumirih. “Ini bisa jadi destinasi baru di Desa Gumirih. Amphiteaternya juga akan bisa menjadi pusat aktivitas baru bagi warga. Misal untuk belajar seni atau pentas seni,” kata Murai.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi, apa  dilakukan anak-anak muda BYCN. “Anak-anak muda saat ini memang memiliki kecenderungan kreativitas sendiri. Kita sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan dukungan dan memfasilitasi. “Kami juga meminta pada desa-desa agar melibatkan anak-anak muda untuk turut mengembangkan berbagai potensi yang ada,” tambah Ipuk.

BYCN merupakan kumpulan berbagai komunitas  meliputi 17 sektor, seperti desain produk,  fashion, film/video, fotografi, kerajian, kuliner, sektor musik, sektor aplikasi, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan lainnya.

Mereka berkumpul mengangkat berbagai potensi desa dengan menggelar pelatihan di berbagai sektor kreatif yang mengacu pada masing-masing potensi desa. Sebelumnya, mereka telah keliling ke Desa/Kecamatan Wongsorejo, Desa Macan Putih – Kabat, dan Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

“Di setiap desa tim BYCN mencoba menggali dan mengangkat potensi yang ada di desa. Tidak hanya mengangkat UMKM dan potensi alamnya, di setiap desa kami juga menggelar Maestro Mengajar. Para seniman Gandrung senior melatih anak desa setempat menjadi Gandrung. Khusus di Singojuruh ini juga ada freelance illustrator,” pungkas Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, M.Yanuarto Bramuda.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/